
Lara
Bima terus menatapku dengan lekat. Aku ingin menghindar, namun tak bisa. Pandangannya penuh dengan selidik.
"Ra, aku tahu ada yang kamu sembunyiin sama aku. Kamu mau cerita jujur atau nggak? Kalau kamu masih menganggap aku sebagai sahabat kamu, kamu harus cerita sama aku apa yang udah terjadi. Kamu nggak usah khawatir, Ra. Aku bukan orang yang suka bocor. Aku akan simpan rahasia kamu, bahkan kalau perlu aku bawa ke liang kubur aku." kata Bima dengan sungguh-sungguh.
Aku tahu yang Bima katakan itu benar. Ia pasti akan menjaga rahasiaku. Masalahnya, aku terlalu takut. Aku terlalu pengecut. Aku kembali menjadi Lara yang takut untuk mengungkapkan sesuatu.
"Kenapa? Keberanian kamu hilang? Kamu kembali jadi Lara yang biasanya? Kamu kembali jadi Lara yang pemalu, penakut dan gak percaya diri?" pertanyaan Bima kali ini benar-benar menohok. Ia benar-benar bertanya apa yang aku pikirkan. Aku bahkan sampai berpikir kalau Bima itu bisa membaca pikiranku.
"Kenapa kamu bisa tahu? Kenapa kamu bisa tahu kapan aku menjadi orang yang lemah dan kapan aku menjadi orang yang pemberani? Aku enggak pernah bilang sama kamu. Kenapa kamu bisa tahu saat-saat aku takut, saat-saat aku nggak berani bahkan untuk sekedar bicara? Kamu tahu darimana, Bim? Apa aku terlalu kentara seakan memiliki dua kepribadian?"
"Aku tuh udah kenal kamu, Ra. Kita udah kenal dari sejak SD. Aku kenal keseharian kamu kayak gimana. Aku bisa tau kapan kamu takut, kapan kamu merasa diri kamu tuh lebih baik diam daripada berbicara. Ya... seperti saat ini. Kamu lagi menjadi Lara yang polos, yang penakut, Lara sahabat aku yang aku kenal. Bukan Lara yang pemberani dan nekat melawan banyak orang tanpa kenal takut."
Tanpa sadar aku menangis. Bima benar-benar sahabat sejatiku. Ia tahu siapa aku yang sebenarnya. Ia bahkan bisa bedakan antara aku yang sebenarnya dengan aku yang menurutku berbeda kepribadiannya.
"Aku hiks.... akan jujur sama kamu, Bim. Aku memang mengenal akan Agni." kuputuskan untuk menceritakan semuanya pada Bima. Setidaknya, aku bisa berbagi masalah dan beban pikiran dengannya. Aku tak mungkin menceritakannya pada Papa, pasti Papa akan kepikiran. Malah mungkin akan membawaku ke psikiater dan berobat kemana pun agar aku sembuh.
Aku juga tak mungkin menceritakannya pada Ditya. Kami baru menikah dan belum benar-benar saling mengenal karakter masing-masing. Kalau Ditya tidak mau menerima keadaanku gimana?
"Aku udah duga sih. Kamu enggak mungkin tiba-tiba menanyakan seseorang yang kamu enggak kenal. Kamu bukan tipikal orang yang kepo dan mau tau tentang orang lain sampai sebegitunya, Ra. Setahu aku, kamu mah orangnya agak tertutup. Kalau nggak diganggu, kamu nggak akan ganggu balik orang tersebut. Sekarang aku minta sama kamu, kamu cerita yang jujur sama aku. Apa hubungan kamu dengan Agni? Kenapa kamu sampai ingin mencari tahu tentang kehidupan Agni? Itu hal yang janggal menurutku. Kalau kamu nggak ada keperluan, untuk apa kamu melakukan hal itu?" suara Bima terdengar tenang dan membuatku yakin untuk menceritakannya.
Aku menghirup nafas banyak-banyak dan memenuhi paru-paruku lalu menghembuskannya perlahan. Aku sudah siap untuk menceritakan semuanya pada Bima. Harus ada orang lain yang tahu dan mungkin bisa memberiku saran agar aku keluar dari masalah yang membingungkan ini.
"Aku hampir setiap malam selalu memimpikan tentang Agni. Kecuali saat aku sedang bahagia bersama dengan Ditya. Sejak aku menikah dengan Ditya, aku tak lagi mimpikan dia." aku membuka cerita dari hal yang aku rasakan dulu baru nanti penyebabnya.
"Masalahnya di mana? Mungkin saja kamu ngefans sama dia? Sering loh, seseorang yang ngefans dengan seorang artis akan memimpikan selebritis tersebut seakan mereka tuh sangat berakrab. Aku rasa alasan itu enggak akan membuat kamu perlu mencari tahu secara mendalam tentang Agni deh?! Alasan lainnya apa?" Bima terlalu pintar untuk Aku bodohi. Ia pasti tahu kalau aku masih menyembunyikan fakta yang lain.
"Masalahnya adalah aku tahu kalau Agni tidak mau bunuh diri."
"Sudah aku duga. Pasti kamu adalah saksinya? Dan kamu enggak berbicara ke publik kalau kamu saksinya? Nggak apa-apa, Ra. Kamu bisa sembunyikan identitas kamu, tapi kamu bicara sama polisi apa yang sudah terjadi sejujurnya. Kamu ada yang mengancam? Atau jangan-jangan memang benar kalau Agni itu ada yang jahatin? Kamu melihat pelakunya gitu?" tanya Bima bertubi-tubi padaku.
Aku menggelengkan kepalaku. Semua ini rupanya sangat berat. Mengakui kalau aku adalah si biang kerok atas segala kejadian yang terjadi pada Agni.
Bima mengulurkan jari kelingkingnya. "Aku janji! Kamu tahu kan, aku selalu bisa menepati janji aku?"
Kutautkan jari kelingkingku dengan jari kelingking miliknya. "Aku pegang janji kamu."
Aku dan Bima lalu melepas tautan jari kami. Bima menatapku dengan lekat dan menungguku bercerita tentang apa yang telah terjadi.
"Sejujurnya, Agni meninggal setelah menyelamatkanku."
"Menyelamatkan kamu? Menyelamatkan kamu dari apa? Aku nggak ngerti?!"
"Agni meninggal setelah menyelamatkan aku yang mencoba untuk bunuh diri." akhirnya aku bisa mengatakan hal ini juga pada seseorang.
Bima sangat terkejut mendengarnya. Ia bahkan tanpa sadar membuka mulutnya dan cepat-cepat Ia tutup dengan kedua tangannya. "Kamu nggak bohong kan, Ra? Kamu serius? Kamu mau bunuh diri? Enggak! Aku kenal kamu, Ra. Kamu nggak bakalan melakukan hal itu! Meski kamu kelihatan lemah, tapi kamu tuh aslinya kuat, Ra! Nggak bakalan kamu akan mengakhiri hidup kamu sendiri!"
"Aku yang waktu itu bukanlah aku yang kamu kenal Bim. Aku saat itu hancur karena melihat orang yang aku cintai berselingkuh di depan mataku."
"Siapa? Bukannya kamu mengenal Ditya setelah kamu menjadi seorang selebgram? Apa ada orang lain lagi yang kamu cintai selain Ditya?"
"Ada. Orang itu adalah... Arya."
"Arya? Arya yang gosipnya kamu menggoda dan ingin merebut pacarnya Anggi?"
Aku mengangguk. "Tapi bukan itu kisah yang sebenarnya. Arya awalnya lebih dekat denganku dibanding Anggi. Namun, Arya hanya memanfaatkanku demi tujuannya bisa kuliah dengan biaya dariku. Aku pikir, selama ini Arya menganggapku sebagai kekasihnya. Namun aku salah. Hari itu, aku datang ke kosan Arya dan melihat Arya dan Anggi adik tiriku berselingkuh. Tidak itu saja, mereka bahkan menghinaku karena aku jelek hiks.... Aku sakit hati dan aku nggak berpikir panjang. Saat itu duniaku sangat hancur. Aku hanya memikirkan satu hal, yakni mengakhiri hidupku secepatnya."
"Lalu Agni yang menyelamatkan kamu?"
Aku mengangguk dan menghapus air mata yang sejak tadi terus menetes di pipiku. "Agni menang menyelamatkanku. Namun, setelah berhasil membawaku ke tepi sungai justru Anggi malah jatuh sendiri setelah memegang kepalanya. Aku enggak ingat lagi apa yang telah terjadi, dan saat aku terbangun sebulan kemudian aku baru tahu kalau Agni sudah meninggal. "
****