
Lara
Aku yang masih perang mulut dengan Anggi tiba-tiba terdiam saat suara hak sepatu dan parfum menyengat menyeruak masuk ke dalam ruangan. Suara dengan nada tinggi membuat perhatianku dan Anggi teralih.
"Ada apa ini?" tanya Tante Sofie dengan nada tinggi.
Deg...
Wanita ini yang sejak kemarin aku cari tahu. Wanita yang membuat dadaku terasa sakit oleh amarah.
Aku mengepalkan tanganku menahan amarah. Rasanya ingin aku pukul kepala monster salon ini yang tega meninggalkan anaknya demi mencari kebahagiaannya sendiri.
Tante Sofie lalu menatap tajam ke arahku. "Wah... Wah... Wah... Lara Handaka sudah kembali rupanya. Sudah habis uangnya? Masih ingat untuk pulang?"
Aku tersenyum sinis. "Ya... Aku kembali... Mama tiriku tersayang!" sindirku.
Tante Sofie menatapku tak suka. "Jangan berlagak kamu! Sekarang status kita sama! 50 berbanding 50. Aku dan Ditya kini sama porsi sahamnya dengan kamu!"
Rupanya Tante Sofie belum tahu kalau Ditya jelas memihakku, istrinya. "Oh ya? Memangnya suamiku tercinta ini ada di kubu Mama tiriku tersayang? Hmm.... Nampaknya tidak deh!"
"Ditya! Katakan pada anak kurang ajar ini, dimana kamu memihak?!" perintah Tante Sofie.
Ditya tersenyum, "Tante masih bertanya?"
"Tante sudah tau kalau kamu pasti akan memihak Tante. Tapi anak sombong ini tak percaya sebelum kamu bicara langsung!" kata Tante Sofie dengan penuh percaya diri.
"Kata siapa aku memihak Tante? Aku enggak pernah mengiyakan kalau kita satu kubu loh! Tapi... Aku membantu saat anak Tante dan suaminya mau menjual saham, aku siap membelinya. Kalau masalah satu kubu, mohon maaf Tante... Kita berbeda perahu! Aku pasti akan menjadi nahkoda istriku. Dimana pun istriku berada, aku setia menemaninya." Ditya tersenyum sambil menatap Tante Sofie.
Wajah Tante Sofie memerah menahan amarahnya. "Kamu!" Tante Sofie menunjuk wajah Ditya. "Oh... Kamu berkhianat karena istri kamu kembali lagi? Lupa kamu kalau selama ini istri kamu pergi dengan selingkuhannya sampai...." Tante Sofie melihat ke arah Lily yang bersembunyi ketakutan di belakang Ditya. "Sampai memiliki anak dengan selingkuhannya!"
Aku tertawa terbahak-bahak mendengar adu domba yang Tante Sofie tujukan pada Ditya. "Pasti Tante tidak tahu kalau wajah anakku sangat mirip dengan Ditya saat masih SMA? Iyalah tidak tau! Tante saja membuang sesuatu di wajah Tante agar tidak dikenali!" sindirku tajam.
Ditya menahan senyumnya mendengar aku melawan Tante Sofie. Ia memeluk Lily yang masih ketakutan. Diangkatnya Lily dan Ia gendong. Membuat Lily merasa semakin nyaman saja berada di pelukan Papa kandungnya yang penuh perlindungan.
Tante Sofie terkejut mendapatiku mengetahui tentang masa lalunya. Ia menunjuk wajahku dan ketika ingin bicara, Ia lalu mengurungkan.
"Kenapa? Mau aku kasih lihat foto sebelum sesuatu itu menghilang?" tanyaku sambil tersenyum mengejek.
Anggi yang melihat Mamanya terdiam pun menggoyangkan lengan Mamanya. "Ma! Kok Mama diam aja sih! Anak sialan itu mengejek kita!"
Kesempatan ini tak kusia-siakan. Kurasakan emosi membuncah dalam diriku seakan ingin disalurkan.
"Agni... Kamu mau menyampaikan isi hati kamu?" tanyaku pada emosi yang kurasa makin terasa dalam dadaku. "Kalau kamu mau, aku persilahkan. Dengan syarat, jangan jadi orang jahat. Jangan membuat diri kamu jahat seperti orang yang menjahati kamu!" aku berbicara dalam hati, aku bisa merasakan kalau ada Agni dalam diriku saat ini yang siap mengambil alih tempatku.
Lalu aku merasa tubuhku terasa ringan dan...
"Amelia.... Agni... Putri... Apakah anda masih ingat?" aku mendengar diriku bersuara namun bukan diriku. Apakah ini Agni? Agni rupanya berhasil mengambil alih diriku.
Ditya langsung tahu kalau yang berbicara bukan diriku. Ia cepat-cepat memberikan Lily pada sekretarisnya dan meminta sekretarisnya mengajak Lily berjalan-jalan di sekitar kantor.
Kutatap Tante Sofie yang kini terlihat pucat. Ia tampak syok mengetahui aku menyebut nama yang selama ini haram baginya.
"Kenapa? Lupa? Atau pura-pura lupa?!" tanyaku lagi.
Anggi terkejut mendapati Mamanya berteriak histeris seperti itu. "Ma! Mama kenapa?!"
Tante Sofie menatapku tajam. Ia menunjuk ke mukaku dengan jari telunjuknya yang berhiaskan kuku palsu. "Jangan sebut anak itu selama aku masih hidup!"
Anggi terus mengguncang tubuh Mamanya yang seperti kehilangan kesadaran. Tante Sofie malah mengibaskan tangan Anggi, tak peduli sama sekali pada anaknya itu.
"Jelas saja Anda tak mau menyebut nama anak itu! Anda merasa jijik bukan karena anak itu lahir dari hasil pemerkosaan?!" Agni kembali membalas perkataan Tante Sofie.
Aku seperti penonton yang hanya bisa diam di sudut ruangan. Melihat pertengkaran yang terjadi. Mengatakan sesuatu namun bukan diriku yang mengatakannya.
"DIAM!" teriak Tante Sofie lagi. "KAMU TAK TAHU RASANYA! KAMU TAK TAHU BAGAIMANA MENGERIKANNYA! KAMU TAK TAHU!"
Lalu aku terkejut saat Agni balas teriak, "AKU MEMANG TIDAK TAU! TAPI APA KAMU TAU RASANYA DIBUANG?!"
Tante Sofie dan Agni saling beradu pandangan. Tak ada yang mau menurunkan pandangannya sama sekali.
"Apa kamu tau rasanya menunggu seseorang yang berjanji akan membawa ke tempat yang banyak temannya namun ternyata malah meninggalkanmu seorang diri di tempat asing?" tatapan Tante Sofie tak lagi setajam sebelumnya. Ia mulai mencerna perkataan yang diucapkan Agni.
"Ba- Bagaimana kamu bisa tahu?" tanya Tante Sofie yang kini mulai ketakutan.
Aku tersenyum menyeringai. "Aku siapa? Kamu lupa? Aku Amel! Anak yang kamu tinggalkan di Panti puluhan tahun lalu! Lupa?"
Tante Sofie menggelengkan kepalanya. "Jangan main-main kamu Lara!"
Aku malah tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaannya. "Ha...ha...ha... Masih belum sadar juga! Coba ingat-ingat, siapa yang bunuh diri bersama Lara?"
Tante Sofie terdiam. Ia mengingat-ingat kejadian 5 tahun lalu. "Agni?"
Aku kembali tersenyum menyeringai. "Lupa dengan Agni?"
Tante Sofie melihatku dengan ketakutan. "Kamu... Bukan Lara?!"
Kubalas pertanyaannya dengan senyuman yang pasti membuat bulu kuduk siapapun meremang.
"Kamu... Agni?!" tanya Tante Sofie dengan suara pelan dan bergetar.
Aku mengangguk sambil tetap tersenyum. "Ya. Aku Agni. Amelia Agni Putri. Putri kandung kamu dari hasil pemerkosaan yang kamu tinggalkan di Panti!"
Tante Sofie menggelengkan kepalanya. "Enggak! Jangan main-main kamu Lara!" teriaknya penuh emosi.
"Aku Amel. Bahkan wajahku saja tidak kamu kenali. Kupikir setelah aku menjadi selebgram kamu akan mengenaliku, Mama."
Tante Sofie mundur satu langkah. "Enggak! Enggak mungkin Agni adalah Amel!"
"Oh ya? Bagaimana kamu bisa menjelaskan foto ini?" Agni melemparkan foto Tante Sofie bersama anak kecil.
Dengan tangan bergetar Tante Sofie memegang foto tersebut. "Meski tahi lalat di atas bibir kamu hilangkan, tak akan bisa kamu mengingkari fakta kalau kamu adalah Ibu kandung Amel atau lebih dikenal Agni. Bahkan kematianku saja kamu tak tahu? Ibu macam apa kamu?! Aku menanti kedatangan kamu setiap hari. Aku menunggu kamu menjemputku. Aku kesepian dan ketakutan... tapi apa? Kamu pergi! Kamu hidup enak dan melupakanku. Bahkan saat aku mati pun kamu tak ada! Padahal... KAMU MAMAKU!"
****