
Kakek tersebut tersenyum senang mendengarnya. Aku melihat secercah harapan dalam matanya yang berbinar-binar tersebut. Kuperhatikan keranjang yang selama ini kakek pikul, masih penuh dengan dagangan miliknya yang belum laku. Kasihan.
"Kakek mau kan?" tanya Bima lagi.
"Mau saja. Kakek mau, tapi kalau Kakek nggak bisa jawab, diajarin ya!"
"Tentu, Kek. Kakek nanti ikutin aja apa yang diarahkan oleh Bima dan saya, nggak susah kok natural aja. Kita nggak nyuruh Kakek harus begini begitu, enggak perlu. Kayak kita ngobrol seperti ini aja Kek. Kakek siap?" aku yang kini berbicara dengan kakek seraya menjelaskan padanya alur kerja kami.
"Siap Neng, nanti Kakek bakalan masuk TV ya? Disiarin di TV mana?" tanya Kakek sangat senang.
"Bukan di TV, Kek. Tapi di YouTube. Tenang aja kalau udah tayang nanti kita kasih lihat videonya sama Kakek. Kita mulai ya kek?" tanya Bima.
Aku pun memulai shooting kami. Melanjutkan perkataan saat di dalam mobil, aku berjalan ke arah Kakek dan mulai berkenalan. Aku pun mengajaknya mengobrol. Bertanya-tanya tentang berapa penghasilannya sehari, berapa anggota keluarganya, biasanya kalau nggak laku bagaimana dan pertanyaan lain yang sekiranya patut aku tanyakan.
"Kalau kakek enggak bisa menghabiskan pisang ini gimana kek? Kalau pisangnya busuk gimana kakek rugi dong?" tanyaku yang membuat Kakek menunduk sedih
"Ya... kalau nggak habis, paling Kakek bawa pulang untuk kami makan sekeluarga. Mau bagaimana lagi, Kakek sih pengennya bawa pulang uang agar bisa dipakai membeli beras untuk makan sekeluarga namun kalau turun hujan orang-orang pasti dalam rumah nggak ada yang beli ya terpaksa daripada pisangnya busuk lebih baik dimakan sama keluarga Kakek."
Kakek pun bercerita kalau pernah tak dapat uang sama sekali dan pisangnya busuk. Lalu istri Kakek memutar otak dan membuat pisang goreng lalu menjualnya berkeliling, kalau tidak begitu tak ada uang untuk makan.
Kakek bercerita kalau dirinya tulang punggung keluarga. Masih harus membiayai cucunya yang tinggal bareng dengannya karena ditinggal bapaknya dan tak kembali lagi.
Aku terenyuh mendengar penuturan kakek tersebut. Bagaimana mungkin, mereka hanya makan hanya pisang saja? Bagaimana kekecewaan keluarga kakek saat kakek pulang dan tidak membawa uang sepeser pun karena pisangnya tidak laku? Bagaimana membiayai kebutuhan lain kalau jualannya tak ada yang membeli?
Tanpa terasa air mataku ikut menetes. Aku sedih. Aku merasa apa yang aku miliki saat ini sangat jauh sekali dibanding apa yang kakek memiliki.
Meskipun aku terbiasa bekerja sambilan, namun aku selalu tercukupi untuk kebutuhanku. Papa Handaka memiliki perusahaan yang besar, yang bisa membiayai banyak orang. Sementara Kakek ini cuma mengandalkan uang dari berjualan pisang untuk menghidupi anak dan cucunya.
Kalau aku tidak bersyukur atas apa yang kumiliki, rasanya aku menjadi orang yang begitu picik. Aku tak bisa melihat kalau masih banyak orang yang jauh di bawahku, yang ingin bertukar posisi dengan apa yang aku alami saat ini.
"Ok cut!" Bima menyelesaikan syuting hari ini. Kuhapus air mata yang sejak tadi terus menerus mengalir di wajahku.
"Terima kasih banyak ya Kek atas semua pelajaran hidup yang kakek berikan hari ini sama Lara. Lara nggak akan putus asa dan menyia-nyiakan hidup Lara lagi. Kalau Kakek saja terus berjuang, Lara merasa malu saat Lara menyerah begitu saja. Terima kasih atas semuanya hari ini dan.... ini buat keluarga Kakek di rumah." kukeluarkan semua uang cash yang ada di dalam dompetku. Tak kuhitung lagi jumlahnya dan kuberikan pada Kakek.
"Terima kasih Neng. Ya Allah ini banyak sekali buat Kakek? Nggak salah?" Kakek itu pun ikut menangis dan terlihat sangat bahagia menerima uang yang kuberikan.
****
Keesokan harinya saat aku sedang sibuk dengan pekerjaan kantor, Bima mengabari kalau konten tentang Kakek penjual pisang sudah diupload di akun YouTube milikku. Aku pun membuka dan menonton video yang sudah selesai Bima edit.
Aku agak kaget saat melihat jumlah viewers hari ini yang sangat banyak. Jumlah like sudah lebih dari 10.000 dalam waktu setengah jam saja. Wow... Berapa banyak yang menonton kalau likenya sebanyak ini?
Aku terus memperhatikan hasil editan Bima dan agak kaget saat sampai di akhir video, ternyata Bima merekam saat aku memberikan seluruh uang dalam dompetku pada kakek tersebut.
Aku lalu membaca komentar yang masuk. Rata-rata komentar tersebut adalah komentar positif yang membuatku bahagia membacanya.
Gila, itu si Lara beramal tanpa mikir dulu loh. Baik banget jadi orang!
Beda kalau orang kaya mah, kalau ngeluarin duit enak banget. Kalau kita, buat beli minyak goreng aja mikir!
Lara ya ampun... udah cantik, baik lagi.
Lara, deket rumah aku ada juga kok penjual yang bisa Lara tolong. Nanti Lara datang ya. Aku mau foto bareng sama Lara.
Lara, aku juga mau dibantuin dong. Usaha aku juga sedang bangkrut nih. Aku harus membiayai anak-anakku dan juga istriku. Kamu nggak kasihan sama aku? Kalau bisa bantu aku ya Lara. Aku tunggu balasan dari kamu.
Konten Lara semakin hari semakin bagus ya? Lara tuh kelihatan banget baiknya itu tulus beneran loh! Asli natural, nggak dibuat-buat.
Lara keren banget! Artis lain sih cuma pamer doang, dia ngasih dengan ikhlas. Aku yakin Lara nggak tahu kalau sedang direkam. Air matanya saja terlihat seakan ikut bersedih. Lara kamu beneran baik banget loh... aku doain kamu makin sukses!
*Bagi yang menjudge Lara tukang pamer dan sedekah hanya depan kamera saja, kalian memang udah melakukan apa? Setidaknya Lara sudah menginspirasi orang lain lewat tindakan baiknya. Kalian? Stop judge Lara lagi. Enggak lihat apa Lara tuh tulus banget di video ini?
Awalnya enggak suka sama Lara Handaka karena gosip merebut pacar saudaranya, namun setelah melihat video ini jadi yakin kalau Lara memang orang baik. Good job, Lara! Aku jadi fans kamu sekarang! Semangat*!
Aku tersenyum membaca komentar baik yang masuk ke akun milikku. Semua komentar ini menjadi penyemangatku dalam berkarya. Menjadi selebgram itu ternyata bisa membawa pengaruh positif pada orang sekitarku. Karena itu aku selalu mewanti-wanti pada Bima untuk membuat konten yang mendidik jangan asal membuat konten saja.
****