
Lara
Aku tak perlu turun tangan menghadapi Arya. Wajah marah Ditya menunjukkan kalau Ia yang akan turun tangan menghadapi laki-laki kurang ajar itu. Ditya mendekat dan lalu menarik tangan Arya.
"Papa Lily hanya aku, Ditya Kusuma! Jangan pernah mengaku kalau kamu adalah Papanya!" ujar Ditya dengan tatapan serius dan penuh ancaman. "Atau kamu akan menyesal!"
"Oh come on... Kita satu kubu! Kenapa aku enggak boleh meminta anak ini memanggilku Papa juga?" tanya Arya dengan santainya.
"Kita tak pernah satu kubu! Camkan itu! Berani kamu mengaku-ngaku sebagai Papanya Lily, maka detik itu juga aku akan hancurkan hidup kamu!" Ditya menunjuk wajah Arya dan berkata dengan tatapan tajam.
Senyum cengengesan di wajah Arya menghilang. Ia tahu kalau Ditya tak main-main dengan ucapannya. Sekali Ditya sudah membuat keputusan, maka Arya akan hancur.
"So-sorry! Just kidding, ok?" Arya lalu mundur dan tak lagi menantang emosi Ditya. "Aku... ke pabrik dulu ya!"
Aku hanya memperhatikan saat Arya pergi meninggalkan ruangan Ditya dengan wajah merah menahan malu. Lily sendiri yang menjadi bahan rebutan malah asyik bermain dengan boneka miliknya.
"Lily Sayang!" panggil Ditya. "Jangan pernah memanggil yang lain dengan sebutan Papa selain Papa Ditya ya!" perkataan Ditya sarat dengan kecemburuan. "Lily setuju?"
Lily mengangguk. "Oke!"
Ditya lalu mengusap rambut Lily dengan penuh cinta. "Good! Anak pintar!"
Sebelum kembali ke tempatnya, Ditya menghampiriku dan mengecup pipiku. "Luv u Mama Lily!"
Wajahku memerah dan Lily menatap kemesraan kami. "Mama, kok Papa Ditya cium Mama sih?"
Ditya tersenyum dan kembali ke tempat duduknya. Meninggalkan aku yang harus menjelaskan pada Lily.
"Lily Sayang. Mama dan Papa Ditya sudah menikah. Seperti kisah pangeran dan tuan putri yang menikah dan hidup bahagia bersama. Mama dan Papa juga seperti itu. Papa Ditya boleh mencium Mama karena kita berdua sudah menikah." aku menjelaskan panjang lebar agar Lily bisa mengerti. Sekarang kami akan tinggal bertiga dan Lily harus mulai terbiasa dengan kehadiran Ditya di antara kami berdua.
Aku melaporkan hasil belajarku pada Ditya. Ia memeriksanya dan kembali memberiku tugas. Aku tahu apa yang Ditya perintahkan untukku bisa dipakai sebagai dasar pengambilan keputusan nantinya.
"Lily Sayang! Lily mau makan siang dimana?" tanya Ditya.
Ia kembali mendekati Lily dan mengajaknya mengobrol.
"Lily mau makan chicken!" jawab Lily.
"Boleh. Bagaimana kalau makan chickennya di rumah Opa Kusuma?!" ajak Ditya.
Aku menghentikan pekerjaanku. Aku hampir lupa dengan kedua mertuaku. Aku terlalu sibuk sampai tak sempat datang ke rumah kedua mertuaku yang baik hati tersebut.
Aku menatap Ditya dan Ia bertanya padaku. "Kita ke rumah Papa Kusuma ya Ra, saat aku memberitahu Mama mereka ingin sekali melihat Lily." pinta Ditya penuh harap.
Aku mengangguk. Permintaan Ditya sangat wajar bagiku. "Iya. Aku juga ingin mengunjungi mereka."
Ditya tersenyum senang karena aku setuju dengan ajakkannya. "Lily nanti Papa Ditya belikan chicken yang banyak setelah pulang dari rumah Opa Kusuma ya!"
"Hmm... Opa Kusuma siapa?" tanya Lily dengan polosnya.
"Opa dan Oma Kusuma adalah kakek dan nenek Lily. Orangtuanya Papa. Mereka sangat baik dan penyayang. Lily mau kan bertemu mereka?" bujuk Ditya.
Lily mengangguk setuju. Memang Ditya mudah sekali dekat dengan anak kecil. Lily saja mudah ditaklukannya.
Kami bertiga pun istirahat makan siang ke rumah keluarga Kusuma, mertuaku. Mama menyambut kedatanganku dengan tangis haru dan memelukku dengan erat.
"Maafin Lara, Ma. Lara pergi tanpa pamit pada Mama dan Papa." kataku penuh penyesalan.
"Yang penting kamu sudah kembali, Nak. Mama bahagia kamu dan Ditya sudah bersatu kembali." Mama melepaskan pelukanku dan menatap Lily yang digendong Ditya. "Wah cantik sekali cucu Oma! Mirip sekali ya wajahnya dengan Papa Ditya?"
Lily mengulurkan tangannya untuk salim, Mama Kusuma malah ingin menggendong Lily. Awalnya Lily menolak namun Mama Kusuma membujuk Lily dengan mengajaknya melihat ikan di belakang. Lily pun tergoda dan mau ikut dengan Mama Kusuma.
Papa Kusuma tak lama turun dari lantai atas. Ia menyambutku dengan senyum hangat. Aku salim dengannya dan tak ada yang menyalahkan keputusanku meninggalkan Ditya. Mungkin Ditya yang menjelaskan pada keluarganya apa penyebab aku pergi.
Papa Kusuma lalu mengajak kami masuk dan duduk di ruang keluarga. Mama Kusuma tak lama datang sambil menggendong Lily.
"Wah... Ini cucu Opa ya? Cantik sekali!" Papa Kusuma menyambut kedatangan Lily.
Lily lalu salim pada Papa Kusuma. "Wah pintar! Namanya siapa?" tanya Papa Kusuma dengan lembut. Tak ingin menakuti Lily.
"Lily." jawab Lily dengan berani.
"Wah... Nama yang cantik. Sama seperti Lily yang cantik dan putih. Ini Opa Lily, Opa Kusuma. Lily sudah makan belum?" tanya Papa Kusuma.
Lily menggelengkan kepalanya. "Belum. Papa Ditya bilang mau beliin Lily chicken yang banyak!"
"Lily suka chicken? Mau Opa belikan chicken yang banyak juga?"
Lily mengangguk dan tersenyum senang. "Lily mau. Yey! Lily punya banyak chicken!"
Aku dan Ditya tersenyum melihat kehangatan keluarga yang sempat menghilang kini sudah kembali lagi. Ditya membisikkan sesuatu di telingaku. "Makasih Sayang, sudah membawa lagi kehangatan dan keceriaan di keluarga ini. Terima kasih sudah melahirkan Lily."
Aku tersenyum sambil tersipu malu. Meski hanya ucapan terima kasih tapi aku sudah senang.
****
Kami kembali ke kantor setelah makan siang. Nampak Lily tertidur dalam gendongan Ditya. Sengaja Ditya menaruhnya di kasur yang ada di ruangannya.
Baru saja aku kembali duduk di tempatku, pintu ruangan kami dibuka tanpa ada ketukan pintu dahulu.
"Wah... Wah.... Wah.... Keluarga bahagia sudah berkumpul kembali nih!" sindir Anggi yang datang dengan wajah sombongnya.
Aku menatap Anggi yang sangat berbeda sekali penampilannya dari sejak aku bertemu dengannya terakhir kali. Wajahnya terlihat kusam dan tak terawat. Tubuhnya pun lebih berisi dengan banyak lemak di bagian tubuhnya. Keriput di wajahnya pun sudah mulai terlihat. Benar-benar tidak memperdulikan penampilan, padahal usianya masih muda.
"Oh... Si mantan selebgram ini sudah kembali rupanya? Kenapa? Udah habis uangnya jadi pulang lagi ke tempat dimana bisa mengambil uang seenaknya?" sindir Anggi tajam.
Aku tersenyum sinis. "Oh ya? Aku bukan kamu deh kayaknya. Uangku masih banyak, maklum aku kan rajin bekerja bukannya kebanyakan bergaya kayak kamu!" balasku tak mau kalah.
"Sombong sekali! Apa yang sudah kamu lakukan pada suamiku?!" sindir Anggi.
"Lakukan apa? Bukannya suami kamu ya yang selalu menggodaku sejak aku datang ke perusahaan ini?!" balasku tak mau kalah.
"Dasar cewek kurang ajar! Berani kamu sama aku ya?!" suara Anggi yang kencang membangunkan Lily.
Lily menangis dan Ditya langsung menggendongnya. Sementara aku menantang balik Anggi. "Jaga suami kamu! Dan katakan padanya, aku sudah muak dengan kelakuannya!"
****