Menjadi Selebgram Hot

Menjadi Selebgram Hot
Kenyataan Sebenarnya


POV AUTHOR


"Kamu menyelidiki aku? Untuk apa? Untuk membuktikan kalau aku membunuh Agni? Asal kamu tau, aku... tidak membunuh Agni!" kata Lara setelah berhasil mengumpulkan keberanian untuk berbicara di depan suaminya.


Nampak Kak Nisa dan Bima berlari ke halaman belakang. Bunga yang awalnya memberitahu Kak Nisa kalau ada Ditya yang datang mencari Lara.


Bima yang tau kalau Lara dalam bahaya, segera berlari ke halaman belakang. Kak Nisa tidak mengerti kenapa Bima sampai sepanik itu, namun setelah mendengar suara bernada tinggi dari Ditya, Ia pun mengikuti Bima. Berlari sekencang mungkin ke halaman belakang.


Lara mengumpulkan kekuatannya dan berdiri. Ia bahkan menantang Ditya. "Kamu tanya apa yang aku lakukan pada Agni? Aku tidak melakukan apa pun pada Agni! Agni yang datang ke hidupku! Agni yang mencampuri semua urusanku!" balas Lara tak kalah emosinya.


Mengetahui suaminya menyeledikinya lewat jasa detektif membuatnya murka. Setidakpercaya itu Ditya pada dirinya. Lara merasa ditipu. Akal sehatnya berpikir cepat. Merasa kalau pernikahannya hanyalah siasat Ditya untuk membalas dendam atas kematian Agni saja.


"Tapi karena menolong kamu Agni jadi mati!" balas Ditya dengan nada tinggi.


Lara tak lagi takut. Meski di depannya Ia sudah tidak lagi mengenali Ditya suaminya, Ia bertekad untuk menjelaskan kronologisnya.


"Oh ya? Apa kamu ada di sana? Enggak kan? Asal kamu tau, aku masih sadar saat Agni membawaku ke tepi sungai. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau Agni memegang kepalanya yang sakit, kamu tahu kenapa?" Lara menghirup nafas panjang. Ia harus membuka fakta yang selama ini Papanya sembunyikan. "Karena Agni bukan saja menderita kanker stadium empat, Ia juga sakit tumor otak! Kalau kamu tidak percaya, aku akan memberikan hasil pemeriksaannya!"


Ditya terlihat terkejut. Ia masih tak percaya dengan apa yang Lara katakan. "Pasti itu hanya alasan kamu saja! Lalu kamu tahu darimana tempat rahasia kami? Hanya aku dan Agni yang tahu dimana kami menyembunyikan cincin itu! Pasti kamu yang mengancam Agni kan?"


Lara lalu menghapus air mata di pipinya dengan kasar. Ia lalu tertawa. "Alasan? Oh ya?" Lara mengeluarkan Hp miliknya dan mengirimkan sebuah foto ke Hp milik Ditya. "Itu bukti yang aku miliki. Periksalah! Aku tak pernah mengancam Agni, melainkan Agni yang memberitahu semuanya padaku Raditya Anggara."


Ditya terlihat sangat terkejut dengan perkataan Lara. Dalam hati Ditya bertanya-tanya darimana Lara mengetahui identitas sebenarnya.


"Kenapa? Heran kalau aku bisa tau semua? Aku juga. Setelah terbangun dari koma, aku memiliki ingatan Agni. Aku memiliki hobby dan kebiasaan yang biasa Agni lakukan. Aku memiliki keberanian yang Agni miliki. Aku bisa menyetir mobil padahal tak pernah belajar sama sekali. Aku tak perlu memakai kacamata tebal lagi karena tiba-tiba minus di mataku menghilang. Kamu pikir aku tidak merasa aneh dengan diriku? Lalu aku tersadar saat potongan demi potongan mimpi yang Agni berikan bukanlah sekedar mimpi. Dan ini..." Lara menunjuk tanah bekas Ia mencangkul tadi. "Ini adalah buktinya. Agni yang memberitahuku lewat mimpi."


Ditya menggelengkan kepalanya. Rasanya semua cerita Lara sangat tidak masuk akal. Terlalu mengada-ada.


"Masih tak percaya? Akan aku ceritakan satu kisah. Ada seorang cowok yang membelikan seorang cewek sebuah cincin karena cewek itu selalu menatap iri teman-temannya yang memiliki cincin. Cowok itu lalu bekerja keras di restoran sampai larut malam sampai bisa membelikan ceweknya cincin. Namun sayang, seorang kakek-kakek mesum menuduh cewek itu mencuri sebagai upaya agar bisa mengadopsi cewek tersebut untuk kemudian dijadikannya istri muda. Kalian berdua lalu menyembunyikannya di sini." Lara kembali menginjak tanah di bawah kakinya. "Bagaimana? Masih menganggapku mengada-ada? Sudah aku bilang, Agni yang terlalu banyak mencampuri urusanku! Ia yang terlalu banyak memberitahu kehidupannya padaku!"


"Sudah puas? Masih mau menuduhku sebagai pembunuh? Kamu tahu kenapa Papaku menyembunyikan berita Agni? Bukan untuk menutup fakta kalau anaknya bunuh diri saja, namun untuk memenuhi permintaan Agni untuk merahasiakan penyakitnya! Entah kenapa Papaku begitu sering membantu Agni. Tapi yang jelas, detektif yang kamu sewa adalah detektif bodoh yang hanya tau luarnya saja!" puas sekali Lara mengeluarkan isi hatinya.


Ditya menunduk malu. Ia sudah salah menduga selama ini. "Maaf." katanya dengan suara pelan.


Lara tak peduli. Ia lalu berbalik badan dan mengajak Bima pergi. "Ayo Bim, kita pergi!"


Lara merasa sangat kecewa. Suaminya selama ini mencurigainya sebagai pembunuh tanpa sedikit pun mempercayainya. Lara bahkan meragukan ikatan pernikahan mereka yang dipikirnya berlandaskan cinta namun ternyata hanya tipu muslihat semata.


Ditya tak mau Lara pergi begitu saja. Ia pun menghampiri Lara dan menarik tangannya. "Aku minta maaf. Aku sungguh minta maaf sama kamu!"


Lara tersenyum sinis. "Aku pikir kamu berbeda dengan Arya. Aku pikir kamu menikahiku karena tulus menyayangiku namun ternyata kamu jauh lebih jahat dari Arya yang menyelingkuhiku sampai membuatku ingin mengakhiri hidupku. Asal kamu tau, aku tak mempermasalahkan asal usul kamu yang bukan anak kandung Papa Kusuma. Aku menerima kamu apa adanya, namun kamu menikahiku karena ada apanya."


"Ra, maafin aku. Sungguh aku mencintai kamu. Aku hanya emosi karena jujur saja aku banyak melihat kemiripan kamu dengan Agni. Aku berpikir selama ini kalian sahabatan dan berakhir dengan kamu mengkhianatinya. Aku menikahi kamu karena aku mencintai kamu, Ra. Aku bersumpah! Aku sangat menyayangi kamu. Please, kamu percaya aku dan memberi aku kesempatan untuk yang terakhir kalinya. Please...." Ditya memohon pada Lara untuk mengampuninya.


"Oh ya? Yang kamu cintai aku atau Agni? Kamu selalu mengatakan tentang sahabat kamu, aku masih positif thinking. Ternyata apa? Sahabat kamu adalah Agni, cewek yang bahkan kamu belikan cincin saking cintanya kamu sama dia! Sudahlah, jangan kebanyakan bersandiwara. Aku sudah muak dibohongi oleh banyak pria yang memiliki maksud dan tujuan jahat padaku. Kita akhiri saja semuanya di sini. Silahkan kamu ratapi saja makam Agni. Aku tak peduli. Seperti kamu yang tak peduli saat menikahiku karena ingin menyelidiku lebih jauh lagi!" ujar Lara dengan dinginnya.


"Enggak, Ra. Aku enggak kayak gitu! Aku mencintai kamu!" Lara sudah tak peduli. Dilepaskannya tangan Ditya yang memegang lengannya dan pergi bersama Bima.


"Ra! Ra!" panggil Ditya yang dicegah langkahnya oleh Kak Nisa. "Kak, Lara mau pergi! Aku harus mengejarnya!"


"Percuma Ditya. Kamu yang sudah melepaskan Lara duluan. Mau kamu kejar pun Lara tak akan kembali. Kak Nisa tak menyangka kalau kamu menikahi Lara hanya karena ingin mengusut kematian Agni. Kak Nisa juga kecewa sama kamu!" kata Kak Nisa dengan tegas.


"Ra! Lara! Jangan pergi, Ra! Jangan pergi!" teriak Ditya namun percuma. Lara tetap pergi bersama Bima.


****