
Lara
"Ra, ini hasil editan yang sudah aku selesaikan. Kasih pendapat kurangnya apa?" Bima memintaku menonton hasil editannya.
Aku yang sedang asyik makan soto ceker tak langsung datang. Kuhabiskan dulu soto ceker milikku dan baru datang setelah cuci tangan.
Aku pun menonton video yang sudah Bima edit. Dimulai dari saat pertama bertemu Ditya. Saat kami bertabrakan, lalu saat kami bekerja sama, acara jalan bareng dan akhirnya sampai di pernikahan super megah kami berdua.
Editan Bima memang keren. Padahal aku tadi tidak mengirim video awal pertemuan kami namun Bima membongkar file lama dan menggabungkannya. Hasilnya terlihat natural, lux dan tidak lebay. Musiknya juga terdengar pas, sesuai dengan videonya.
"Kamu mah selalu keren kayak biasanya, Bim. Enggak pernah kecewa aku sama editan kamu. The best deh. Ada taste-nya gitu. Bukan sekedar editan aja!" pujiku.
"Bisa aja kamu kalau muji, Ra. By the way kamu tinggal dimana sekarang?" tanya Bima.
"Di Apartemennya Ditya. Di Pusat Kota. Bagus deh apartemennya. Ditya bilang, itu apartemen pribadi yang Ia beli sendiri pakai hasil kerjanya. Kapan ya kita bisa kayak gitu, Bim? Beli sesuatu dari hasil kerja kita bikin konten?!"
Bima tersenyum simpul. "Gimana mau cepat kaya? Tiap buat konten kamu kasihan dan kasih nara sumber kita uang yang enggak kira-kira. Uang dari endorse malah kadang langsung habis karena rasa kasihan kamu yang besar."
"Iya ya? Maaf ya Bim. Kita lama kaya-nya gara-gara aku orangnya enggak tegaan." kataku tak enak hati.
"Iya sih. Kadang kamu enggak tegaan banget. Gampang mewek. Khas Lara yang aku kenal. Kadang juga kejam dan galak banget. Inget enggak waktu kita buat konten tentang pengemis di dekat terminal? Preman saja kamu bentak loh tanpa kenal takut?!"
"Iya kah?"
"Iya. Kamu tuh kayak ada dua kepribadian, Ra. Kadang kayak sekarang nih. Enggak tegaan dan berakhir dengan menguras dompet demi orang lain. Kadang berani enggak lihat situasi dan kondisi. Main maju aja."
Benarkah?
Apa benar aku jadi punya dua kepribadian sejak aku bunuh diri waktu itu? Pantas saja aku kadang tidak mengenali diriku sendiri. Kenapa aku tidak menyadarinya ya? Kenapa malah Bima yang menyadarinya? Apa Ditya juga menyadarinya?
"Ih nih anak malah bengong!" Bima mengagetkanku dari lamunanku.
"Mm... Kalau disuruh memilih, kamu suka aku yang mana Bim? Yang lemah dan enggak tegaan atau yang kuat dan tidak kenal takut?"
"Hmm... Yang mana ya? Karena aku kenalnya kamu tuh enggak tegaan dari dulu, ya aku sukanya kamu yang enggak tegaan. Meski kita harus menggelontorkan banyak uang untuk sumbangan, aku rela kok. Kamu mengajak aku untuk beramal. Kamu nyadarin aku kalau di antara harta kita ada hak orang lain. Tak apa kita belum bisa membeli apartemen mewah seperti Ditya. Atau tak bisa bergaya mewah macam adik tiri kamu, Anggi. Yang penting keberadaan konten kita banyak membantu orang lain. Dapat banyak pahala!"
Aku tersenyum mendengar perkataan Bima. Tanpa sadar kembali aku memeluk Bima. "Bimbim... Keren...."
"Ih apaan sih Ra? Main peluk aja! Aku kan laki-laki kalau aku nepsyong aja gimana? Mau kamu aku terkam?" protes Bima sambil menjauhkan tubuhku darinya.
"Aumm.... Kayak macan ya suka menerkam?" godaku.
"Lara! Udah sana pulang! Suami kamu nanti keburu pulang, kamu belum masak!" omel Bima.
"Eh iya... Untung kamu ingetin aku, Bim! Aku pulang dulu ya! Makasih kontennya. Nanti kita bagi dua lagi pendapatannya ya!" aku mengambil tasku dan cepat-cepat memesan taksi.
Bima hanya geleng-geleng kepala saja melihat kelakuanku. "Hati-hati di jalan! Kabarin kalau sudah sampai rumah!"
Aku sampai di apartemen dan langsung memasak menu makan malam untuk Ditya. Sedikit banyak aku tahu seleranya. Ia suka seafood. Untung saja kemarin saat belanja aku membeli udang. Buat udang saus Padang saja yang simple.
Untuk sayurannya aku membuat capcay. Dua menu cukup untuk kami berdua. Aku lalu mandi dan berdandan untuk menyambut suamiku pulang.
Minuman teh madu sudah aku siapkan. Minuman menyehatkan untuk membuat suamiku lebih rileks.
Sambil menanti kepulangan Ditya, aku membuka konten milikku yang sudah di upload oleh Bima. Belum lama di upload sudah banyak yang like.
Aku juga buka Instagram dan ternyata beritaku sudah ada di akun gosip.
Bukan pernikahan bisnis, Lara Handaka dan Ditya Kusuma memang jatuh cinta pada pandangan pertama. Pernikahan super megah menjadi bukti ikatan cinta mereka.
Bak cerita dongeng, Lara Handaka dan Ditya Kusuma menikah dengan penuh bahagia. Simak perjalanan cinta mereka yang bermula dari pertemuan tidak sengaja.
Siapa yang tidak iri dengan keberuntungan yang dimiliki oleh Lara Handaka dan Ditya Kusuma? Sama-sama berasal dari keluarga kaya raya dan memiliki perusahaan besar. Kini mereka menikah dan saling mencintai. Semoga pernikahan mereka langgeng selamanya.
Aku tersenyum membaca artikel dan caption dari akun gosip. Kehidupan sempurna? Mereka tak tahu saja kalau aku bukan putri yang sangat berbahagia seperti yang selama ini dibayangkan.
Kalau bukan karena Agni aku pasti sudah tak ada di dunia ini...
Tunggu, aku jadi kepikiran dengan apa yang Bima katakan. Aku seperti memiliki dua kepribadian. Kadang aku menjadi Lara yang lembut dan tak tegaaan namun kadang menjadi sangat berani.
Sebenarnya aku sudah merasakan keanehan ini sejak lama. Saat pertama kali tersadar dari koma, aku langsung bisa melihat tanpa perlu memakai kacamata. Aku juga jadi berani menantang Tante Sofie.
Keanehan lainnya adalah, aku memang bisa menjahit tapi hanya menjahit standar namun sekarang aku bahkan jago membuat aksesoris seperti yang adik-adik Panti lakukan. Aku bisa mengendarai mobil padahal tak pernah belajar sama sekali. Aku juga bisa membuat konten, padahal sebelumnya kalau ada kamera selalu aku menunduk malu.
Bima benar. Ada kepribadian lain dalam diriku. Ada yang salah dengan diriku. Selama ini aku diamkan karena banyak membantuku dalam menghadapi kejamnya ibu dan adik tiriku. Namun kini?
Akankah kepribadian lain itu akan menguasai diriku seluruhnya dan membuat aku kehilangan diriku sendiri?
Tunggu, kayaknya aku pernah baca buku tentang kepribadian ganda deh. Aku mengambil Hp milikku dan browsing di internet.
Keluarlah dua nama yang memiliki kepribadian ganda yang cukup terkenal karena sudah pernah dibukukan ceritanya.
Pertama, Sybil Isabel Dorsett. Pemilik 16 kepribadian ganda. Penyebabnya karena trauma masa kecil dan memiliki Ibu pengidap Skizofrenia.
Kedua, William Stanley Milligan atau dikenal dengan nama Billy Milligan. Pemilik 24 kepribadian. Bisa berbicara dalam beberapa bahasa.
Apakah aku sama dengan mereka? Bagaimana kalau aku memang benar seperti mereka?
Apakah aku harus ke psikiater?
Bagaimana kalau memang benar aku punya kepribadian ganda? Apakah Ditya akan meninggalkanku kalau tahu aku memiliki penyakit seperti ini? Lalu apa yang harus aku lakukan? Apakah menyembunyikannya saja lebih baik?
***