MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 95. Izin


Lima Tahun Kemudian


“Mak.....” teriak suara anak laki laki baru pulang dari sekolah TK nya, dia dijemput oleh Fadli yang kini bertugas mengantar jemput sekolah anak anak mengganti tugas Mas Budi.


“Abi.. jangan teriak teriak bikin Mak kaget saja.” ucap Emak Baru yang masih sibuk menjahit di ruang jahitnya. Kini dia sudah memiliki ruang kerja sendiri. Dan usaha jahitnya semakin berkembang, anak anak panti yang sudah lulus SMK ada yang membantu Emak Baru bahkan beberapa perempuan desa di sekitar panti juga bekerja membantu usaha Emak Baru. Di ruang kerja Emak Baru sekarang sudah ada beberapa mesin jahit. Usaha jahitnya pun tidak hanya baju tetapi juga korden, sprai dan lain lain.


“He... he.... he......” Abi malah tertawa terkekeh kekeh senang sebab sudah membuat kaget sang Emak.


“Sini Mbak Ni ganti bajunya.” ucap Mawarni yang kini juga membantu Emak Baru sambil juga kuliah di Universitas Terbuka seperti Mas Budi dulu. Sedangkan Mas Budi sudah lulus kuliahnya dan sekarang sudah menjadi anggota DPRD, akan tetapi dia tetap tinggal di panti asuhan. Dia tidak malu mengatakan jika dirinya anak yang dibuang oleh orang tuanya di panti. Dia terus berharap jika dirinya menjadi tokoh masyarakat ada orang tua yang mengaku menjadi orang tuanya. Dia masih penasaran siapa orang tua kandungnya.


“Bentar Mbak Ni.” ucap Abi yang masih mendekat di tubuh Emak Baru.


“Sana diganti bajunya sama Mbak Ni, Emak masih sibuk.” ucap Emak Baru sambil mencium pipi Abi.


“Mak, Mak tadi Ibu Guru bilang cincin Abi bagus, Ibu Guru mau pinjam.” ucap Abi sambil bergelayut di tubuh Emak Baru.


“Kalau ada yang akan pinjam cincin Abi jangan boleh ya.. yang boleh melepas cincin Abi adalah Ibu Sari. Emak pun tidak boleh kan..” ucap Emak Baru sambil menatap wajah Abi dengan serius.


“Siapa pun tidak boleh ya Mak?” tanya Abi sambil menatap wajah Emak Baru.


“Tidak boleh, ingat ya.. kalau ada yang maksa Abi harus teriak minta tolong.” ucap Emak Baru kemudian. Dan Abi pun mengangguk mengerti. Lalu dia mendekat pada Mawarni untuk minta diganti bajunya.


Di sore harinya, terlihat Marginah, Nesya dan Angga berjalan menuju ke ruangan Ibu Sari. Mereka bertiga dipanggil oleh Ibu Sari untuk menghadap ada hal penting yang akan Ibu Sari sampaikan.


“Bu...” ucap mereka bertiga saat berada di depan pintu ruangan Ibu Sari.


“Masuk Nak...” ucap Ibu Sari pintu ruangan nya sengaja tadi dibiarkan terbuka dan Ibu Sari sudah duduk di kursi. Marginah, Nesya dan Angga lalu masuk dan duduk di kursi tamu di ruangan Ibu Sari.


“Hmmm tidak terasa kalian sudah lulus SMA. Dan nilai kalian bagus bagus.” ucap Ibu Sari sambil tersenyum bangga menatap mereka bertiga.


“Terima kasih ya.. Ibu senang dan bangga pada kalian.” ucap Ibu Sari lagi akan tetapi tiba tiba mata Ibu Sari memerah dan Ibu Sari mengusap hidungnya, air mata Ibu Sari pun mulai meleleh.


“Kami yang harusnya berterima kasih kepada Ibu, berkat bimbingan Ibu kami bisa lulus dan selamat hingga kini.” ucap Marginah yang matanya juga mulai berkaca kaca.


“Ibu senang tetapi Ibu juga sedih harus berpisah dengan kalian. Angga kamu akan dijemput Papimu, katanya kamu akan kuliah di Singapore. “ ucap Ibu Sari sambil mengusap air mata nya.


“Iya Bu.” ucap Angga singkat dia tidak lagi bisa berkata kata, matanya pun mulai berkaca kaca. Angga terdiam sejenak tampak dia mengambil nafas panjang.


“Saya mengucapkan banyak terima kasih pada Ibu Sari, juga pada Marginah dan Nesya.” ucap Angga selanjutnya.


“Saya akan tetap komunikasi dengan Ibu dan kalian. Kalau libur saya akan main ke sini Bu.” ucap Angga lagi dengan santun. Ibu Sari tersenyum menatap Angga, lalu dia beralih menatap Marginah.


“Untuk Marginah, ada banyak tawaran buat kamu.” ucap Ibu Sari sambil tersenyum menatap Marginah.


“Kamu dapat beasiswa dan masuk tanpa test di Universitas di Malang.” ucap Ibu Sari kemudian.


“Wuih keren Nah.” komentar Angga dan Nesya bersamaan sambil menatap Marginah.


“Fakultas apa Bu?” tanya Marginah dengan mata berbinar.


“Akuntansi.” jawab Ibu Sari, dan jawaban dari Ibu Sari membuat ekspresi wajah Marginah terlihat sangat kecewa dia berharap di Fakultas Kedokteran.


“Ada juga tawaran kerja Nah, di sebuah perusahaan besar di bagian keuangan, meskipun kamu lulusan SMA tetapi karena prestasi yang bagus kamu akan mendapatkan gaji yang besar.” ucap Ibu Sari lagi, tetapi terlihat Marginah tidak berminat. Ekspresi wajah Marginah terlihat biasa saja.


“Bu, saya mau Bu, menjadi asisten Bunda Naura. Kalau saya juga bekerja kan saya juga dapat penghasilan.” ucap Marginah dengan nada serius.


“Kemarin saya lihat tabungan beasiswa saya tetap kurang Bu kalau mau masuk di Fakultas Kedokteran.” ucap Marginah lagi.


“Baiklah kamu pikir pikir lagi, kamu telepon Bapakmu juga minta pertimbangannya.” ucap Ibu Sari dan Marginah menjawab dengan anggukan kepala.


“Dan buat Nesya, Ibu kamu tahun depan pulang. Dia akan mengikuti kamu, kamu ingin kuliah di kota mana Ibu kamu akan mengikuti kamu.” ucap Ibu Sari sambil menatap Nesya.


“Bu, saya akan tetap tinggal di panti saja, saya akan kuliah di Universitas Terbuka saja.” ucap Nesya yang merasa aman tetap tinggal di panti dan dalam pantauan Ibu Sari.


Setelah memberikan informasi itu, Ibu Sari memberikan pesan dan nasehat nasehat kepada tiga anak itu. Dan setelah nya mereka berempat saling berangkulan. Kemudian ketiga anak itu pamit keluar dari ruangan Ibu Sari.


Di malam hari setelah selesai kegiatannya, Marginah menghubungi Bapaknya lewat sambungan telepon, untuk menyampaikan rencana selanjutnya.


“Wadoh Nah piye toh, jauh jauh aku antar kamu ke panti agar bisa sekolah tinggi kok kamu malah mau menjadi pembantu ke Ibu Kota. Kalau hanya mau menjadi pembantu seperti itu tidak perlu kamu pergi ke panti jauh jauh dan sekolah sampai SMA. Kamu itu membuat kecewa orang tua dan adik adikmu.” suara Pak Jemari penuh emosi setelah mendengar kabar dari Marginah.


“Pak, bukan asisten rumah tangga Pak, bukan jadi pembantu rumah tangga. Tetapi jadi asisten pribadi Pak. Nanti membantu menyiapkan pekerjaan Bunda Naura. Nulis nulis Pak bukan cuci cuci..” ucap Marginah berusaha menjelaskan pada Pak Jemari bapaknya agar tidak salah paham.


“Nanti aku juga dikursuskan nyetir mobil Pak, dan kursus kursus lainnya..” ucap Marginah lagi


“Wah keren itu Nah..” ucap Pak Jemari dengan tersenyum lebar sebab dia masih kagum pada perempuan yang bisa menyetir mobil sebab di desanya tidak ada perempuan yang bisa menyetir mobil, jangankan perempuan yang laki laki saja hanya Pak Kades dan beberapa orang yang sangat kaya.


“Jadi boleh kan Pak. Kalau boleh kan meskipun aku masih kuliah aku sudah dapat gaji dari Bunda Naura aku bisa kirim uang buat Emak dan Bapak. Biaya kuliah juga Bunda Naura yang bayari, enak kan Pak.” ucap Marginah lagi.


“Iya iya Bapak setuju, yang penting kamu tetap jaga kesehatan... Bapak tidak ingin dapat kiriman uang dari anak, tetapi kamu kecapekan Nah....yang bapak inginkan kamu senang dan cita cita mu tercapai.” ucap Pak Jemari sambil menitikkan air mata.


...TAMAT...


...🙏🙏🙏...


...Terima kasih author ucapkan buat reader tersayang yang sangat baik hati.


...


...Mohon maaf jika ada salah kata dan salah lainnya


...


...Terakhir salam sehat bahagia dan rejeki selalu lancar buat kita semua...


...♥️♥️♥️...


...jika ingin tahu bagaimana misi Sandra bisa ikuti ceritanya di novel Alexandria


...🙏🙏🙏...


...


...


...