
Mas Budi terus menatap perempuan itu. Dia sungguh sungguh tidak sabar untuk mendengar cerita dari mulut perempuan itu.
“Sabar Mas Budi, biar Ibu Narimah mengatur hatinya dulu.” ucap salah satu Bapak Polisi yang melihat Mas Budi sudah tidak sabar. Tetapi dia juga sudah mengetahui cerita perempuan itu, mungkin Ibu Narimah masih sulit untuk menceritakan atau sedang memilih kata kata yang tepat.
“Maaf ...” hanya satu kata yang keluar dari mulut perempuan itu lalu dia tertunduk dan menghapus lagi air matanya.
“Bud kamu keluar saja dulu.” ucap Ibu Sari sambil menatap Mas Budi, Ibu Sari mengira ada suatu cerita yang sangat rahasia dari perempuan itu.
“Bu, saya sudah dewasa sudah bukan anak anak lagi. Meskipun saya belum menikah dan belum melakukan tetapi saya sudah tahu hubungan suami istri dari pelajaran dan informasi dari media..” ucap Mas Budi yang tetap ingin mendengar cerita dari perempuan itu.
“Saya tidak akan menanyakan bagaimana itu dilakukan tetapi saya hanya ingin tahu siapa bapaknya Abi.” ucap Mas Budi lagi.
“Bud.” ucap Ibu Sari dengan tegas dan pandangan mata lurus ke depan tanpa menoleh ke wajah Mas Budi, justru membuat Mas Budi pelan pelan bangkit berdiri lalu berjalan meninggalkan ruang tamu. Mas Budi sudah hafal jika Ibu Sari sudah berkata dengan nada dan ekspresi seperti tadi, itu tandanya Ibu Sari tidak mau dibantah lagi dan perkataannya harus dituruti.
“Bu, kami juga ingin menunggu di luar saja, saya dengar di belakang ada kebun obat saya ingin melihat lihat.” ucap salah satu Bapak Polisi itu lalu bangkit berdiri dan diikuti oleh temannya. Mereka berdua berjalan keluar dari ruang tamu. Bapak bapak Polisi itu memberi waktu dan tempat agar perempuan itu lebih bebas dan leluasa menceritakan dan menumpahkan masalahnya pada Ibu Sari.
“Sudah Bu, sekarang hanya ada saya ceritakan semua tentang Abi.” ucap Ibu Sari kini dia duduk di samping perempuan itu.
“Bu, tolong jaga rahasia ini ya...” ucap perempuan itu sambil menoleh ke wajah Ibu Sari, ekspresi wajah perempuan itu sangat kuatir dan tampak sangat memohon pada Ibu Sari.
“Percayalah Bu.” ucap Ibu Sari sambil mengusap usap punggung perempuan itu.
“Bu, saya itu dulu pembantu rumah tangga di sebuah kota besar.” ucap perempuan itu mulai bercerita, Ibu Sari setia menunggu cerita selanjutnya.
“Terus pada suatu malam saya dipaksa melayani bapak majikan itu di saat istrinya sedang ke luar negeri berbelanja.” ucap perempuan itu selanjutnya. Ibu Sari yang mendengarkan menatap perempuan itu, wajah perempuan itu memang cantik dan manis meskipun tanpa make up. Ibu Sari menganggap itu kasus klasik yang sering terjadi.
“Saya hanya satu kali melakukan Bu, saya takut karena saya juga punya pacar. Terus saya keluar dari pekerjaan saya itu. Saya mencari pekerjaan di tempat lain. Meskipun awalnya bapak majikan tidak mengijinkan.” ucap perempuan itu lagi.
“Nah saat saya sudah dua bulan pindah pekerjaan saya merasakan hal yang aneh dengan tubuh saya, saya juga telat haid dan saat itulah saya tahu kalau saya sedang hamil. Saya bingung Bu, saya memang sudah mencoba untuk menggugurkan akan tetapi saya merasakan sakit yang teramat sangat. Dan saya takut dosa akhirnya saya batalkan niat saya itu.” ucap perempuan itu dan sekarang air matanya sudah berderai derai.
“Saya terus bilang ke pacar saya, dia malah marah ke saya, dia bilang saya yang menggoda dan dia begitu saja meninggalkan saya hiks..hiks...” ucap perempuan itu lagi kini dia sudah menyandarkan kepalanya di bahu Ibu Sari. Ibu Sari mengusap usap pundak perempuan itu sambil merangkulnya.
“Karena saya bingung saya mendatangi bapak majikan saya dulu di kantornya, dan mengatakan saya hamil dari perbuatannya. Tetapi dia marah marah dan tidak mengakui malah menuduh itu hasil perbuatan pacar saya, padahal saya baru satu kali itu melakukan Bu. Saya belum pernah melakukan dengan pacar saya.”
“Bapak majikan saya itu terus mengancam kalau janin saya masih hidup akan dibunuh Bu.” ucap perempuan itu lagi
“Dan sejak itu saya pulang ke rumah orang tua, tetapi saat tahu saya hamil mereka marah dan terus saya pindah dan hidup sendiri membesarkan kandungan saya. Saya hanya bilang pada tetangga kontrak kalau saya seorang istri siri.” ucapnya selanjutnya
“Siapa majikan Ibu itu?” tanya Ibu Sari yang sekarang penasaran siapa bapaknya Abi. Dan saat perempuan itu menjawab Ibu Sari terlihat kaget sebab ternyata bapaknya Abi seorang yang terpandang di masyarakat. Makanya perempuan itu begitu ketakutan.
“Bu, tolong ya Bu... Saya pun tidak bilang dengan Bapak Bapak Polisi tadi saya hanya bilang majikan di kota besar. “
“Percayalah Bu. Saya akan menjaga Abi baik baik. Kalau Ibu tadi melihat anak gadis yang saya pangku dia juga dalam bahaya dia dikejar kejar bapaknya akan dijual. Maka dia sejak awal ingin agar Abi berada di panti ini.” ucap Ibu Sari memberi keyakinan
“Apa bapaknya Abi masih menghubungi Ibu?” tanya Ibu Sari
“Sudah tidak Bu, sejak saya diusir orang tua, saya jual hape saya buat hidup.” jawab perempuan itu
“Saya juga sudah katakan kalau sudah saya gugurkan.” tambahnya
“Kalau Ibu sudah tidak diawasi oleh mantan majikan Ibu itu, saya menawarkan ibu untuk tinggal di sini bisa bekerja di sini sekaligus bisa memberi asi buat Abi. Tetapi jika Ibu masih diawasi bisa berbahaya.”
“Bu, kalau boleh saya senang sekali. Meskipun bayi saya hadir tidak saya kehendaki tetapi saya merasakan ada ikatan batin entahlah saat saya mengandungnya saya merasa memiliki kekuatan dalam menghadapi masalah dan saat saya meninggalkan saya merasa tidak tenang dan rasa hancur hidup saya, tapi saya bingung bingung bagaimana cara membesarkannya bingung pokoknya bingung... ” ucap perempuan itu
“Baiklah Bu, saya akan meminta Mas Budi mencabut laporannya dan meminta Pak Polisi menghentikan kasus ini. Saya kuatir jika kasus ini viral dan wajah Ibu muncul di media malah berbahaya buat Abi dan Ibu.” ucap Ibu Sari lalu bangkit dari tempat duduknya berjalan menuju ke tombol saklar lampu karena tidak terasa hari telah gelap.
“Iya Bu, saya juga sudah bilang pada Pak Polisi agar melindungi saya dan anak saya.” ucap perempuan itu.
“Ibu bisa mulai kapan saja tinggal di sini.” ucap Ibu Sari lalu kembali duduk
“Apa sekarang boleh Bu?” tanya perempuan itu antusias
“Saya di kontrakan juga tidak ada barang apa apa yang perlu diambil hanya baju tiga potong. Jika tetangga kontrak mengira saya ditahan polisi itu lebih bagus.”
“Baiklah Bu, kalau hanya baju di sini banyak” ucap Ibu Sari sambil menepuk nepuk punggung perempuan itu.