MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 27. Waspada


Marginah mendengarkan kata kata Fatima. Dia akan berusaha untuk tidak mengingat ingat kejadian tadi siang sepulang sekolah.


“Kamu dan Nesya istirahat saja tidak usah membantu piket dulu. Biar aku kerjakan dengan Mawarni.” ucap Fatima lalu dia berjalan menuju ke tempat tidur Mawarni, dan membangunkannya lalu mengajaknya keluar untuk mengerjakan tugas piketnya.


Nita dan Vani yang sudah terbangun karena mendengar suara Fatima menasehati Marginah. Mereka berdua lalu juga ikut bangkit berdiri dan berlari mengikuti langkah kaki Fatima dan Mawarni mereka berdua akan membantu kakak kakaknya sebab ada dua kakaknya yang sakit.


Waktu terus berlalu hingga malam hari tiba.


“Pak, aku jadi tidur dengan teman teman ya. Pak Jemari tidur di sini saja.” ucap Angga setelah berganti baju tidur sambil membawa selimutnya. Pak Jemari hanya diam saja, dia masih berpikir pikir tidur sendiri atau tidur di kamar Mas Budi. Jika tidur di kamar Mas Budi kalau pengen kencing di malam hari harus keluar kamar, kalau tidur sendiri di kamar tamu takut lampunya nanti tengah malam menggoda lagi. Sementara Pak Jemari masih berpikir pikir Angga sudah berlalu pergi.


Pak Jemari mondar mandir berjalan di dalam kamar sambil mendekap selimutnya.


“Ah tidur di sini saja, toh lampunya sudah dibenerin Mas Budi.” gumam Pak Jemari lalu dia berjalan ke tempat tidurnya dan seterusnya meringkuk di atas tempat tidurnya. Pak Jemari sudah berusaha memejamkan matanya. Namun hanya matanya yang bisa terpejam pikirannya masih berputar putar. Hingga dini hari Pak Jemari baru bisa benar benar tertidur. Pagi harinya dia terbangun karena mendengar suara Angga yang sudah sibuk menyiapkan diri akan berangkat ke sekolah.


Kegiatan pagi hari berjalan sesuai rencana. Angga berangkat menaiki sendiri sepedanya. Dia mengayuh sepeda beriringan bersama kakak kakak panti lainnya keluar dari halaman panti dan selanjutnya mereka terpencar menuju ke jalan sekolahnya masing masing. Kini tinggal Angga dengan beberapa kakak panti yang juga menuju ke SMP akan mereka kelasnya lebih tinggi dari Angga.


“Nga nanti kamu tunggu kami saja pulangnya kalau kelasmu sudah lebih dulu keluar.”


“Iya Kak.” jawab Angga sambil berjalan meninggalkan tempat parkir. Angga lalu berjalan menuju ke kelasnya. Angga merasakan beda dengan kemarin pagi yang masih bisa bercanda dengan Marginah dan Nesya saat akan masuk ke dalam kelas. Kini dia merasakan sepi tanpa ada canda.


“Hai.” Brian menepuk pundak Angga dari belakang saat mereka berdua akan memasuki pintu kelas.


“Mana Marginah dan Nesya, kok kamu sendirian?” tanya Brian saat sudah sampai di tempat duduknya sambil menaruh tas di meja selanjutnya dia duduk di kursinya.


“Bri, kita duduk di sini saja. Marginah dan Nesya tidak masuk kelas.” ucap Angga yang berdiri di dekat meja Marginah dan Nesya, dia ingin duduk di depan agar lebih fokus mendengarkan pelajaran.


“Kenapa mereka berdua, sakit?” tanya Brian. Angga lalu menceritakan kejadian kemarin siang. Brian yang merupakan teman SD Nesya bisa cepat memahami apa yang diceritakan oleh Angga karena sudah mengetahui kalau Nesya sering dikejar kejar Bapaknya.


“Nga kamu serius banget.” bisik Brian sambil menyikut tubuh Angga yang berada di sampingnya.


“Aku tidak nyangka jika aku duduk sebelahan dengan anak rajin dan serius.” bisik Brian lagi. Angga hanya diam saja, dia tetap berusaha fokus mendengarkan penjelasan dari gurunya. Hingga tidak terasa tiba waktunya kelas Angga sudah selesai pelajaran terakhir di hari ini.


Angga dan Brian keluar dari kelas bersama teman teman lainnya. Angga melihat baru kelas satu yang sudah keluar kelas. Dia ingat pada ajakan kakak kakak panti tadi untuk pulang bersama sama.


“Ayo Nga kita ambil sepeda.” ajak Brian yang melihat Angga masih berdiri mematung di luar kelas.


“Aku mau pulang dengan kakak panti.” jawab Angga


“Kelas tiga pulangnya lama Nga, ada tambahan pelajaran. Tapi kalau kelas dua ya sebentar lagi. Terserah kamu mau nunggu mereka atau bersama aku.” ucap Brian lalu dia melangkahkan kakinya meninggalkan Angga menuju ke tempat parkir sepeda. Angga tampak berpikir pikir sejenak.


“Bri... tunggu.” teriak Angga lalu dia segera berjalan mengikuti Brian. Dia pikir Bapaknya Nesya kan yang dikejar anak perempuan jadi dia aman, dia ingin segera sampai panti dan menyampaikan pelajaran yang diterimanya kepada Marginah dan Nesya keburu dia lupa kalau nanti ditanya tanya.


Angga lalu bersama Brian dan murid kelas satu lainnya keluar dari halaman sekolah. Angga dan Brian seperti kemarin mengayuh sepeda berdampingan Brian banyak bercerita sedangkan Angga hanya mendengarkan. Hingga tiba di persimpangan jalan mereka berdua berpisah arah. Angga terus mengayuh sepedanya namun dia merasa ada satu motor yang membuntutinya. Angga memelankan laju sepedanya aneh motor yang di belakangnya juga ikut memelankan kecepatannya tidak mendahului Angga. Angga lalu sedikit menoleh melihat orang yang mengendarai motor memakai masker. Angga dengan segera menambah laju sepedanya dia mengayuh sepeda dengan sangat cepat. Motor itu ikut mempercepat lajunya. Namun tetap tidak mendahului sepeda Angga.


Angga terus mengayuh dengan cepat dan tetap menjaga keseimbangannya dia tidak ingin jatuh seperti Marginah. Namun Angga juga berpikir bagaimana bisa selamat dari motor yang memgikutinya. Saat Angga melihat rumah di pinggir jalan Angga membelokkan sepedanya di halaman rumah tersebut. Di halaman itu ada seorang ibu yang sedang mengangkati jemuran. Ibu itu terlihat kaget melihat ada sepeda dinaiki dengan kencang masuk ke dalam halaman rumahnya sebab dia hampir saja ditabrak oleh Angga.


“Kalau naik sepeda jangan ngebut ngebut apalagi sudah masuk pekarangan rumah orang.” teriak Ibu itu sambil memegang baju baju.


“Cari siapa, aku tidak punya anak sekolah.” ucap Ibu itu sambil menatap tajam wajah Angga.


“Maaf Bu.” ucap Angga yang sudah mengerem sepedanya dengan mendadak. Dia lalu turun dari sepedanya. Angga terlihat bingung bagaimana mengatakan pada Ibu pemilik rumah ini.


“Bu boleh saya numpang di sini sebentar saya mau nunggu teman saya.” ucap Angga selanjutnya. Ibu itu lalu memgamat amati wajah dan penampilan Angga. Kulit Angga yang bersih rambut hitam berkilau dengan potongan yang rapi juga pakaiannya yang bersih dan rapi ditambah ucapan sopan Angga. Membuat Ibu itu tidak menaruh curiga kalau Angga anak yang nakal. Tetapi Ibu itu masih terlihat diam saja sambil melihat ke arah jalan untuk melihat apa anak laki laki yang masuk ke dalam rumahnya bersama orang lain.