MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 89. Berita Menggelegar


Pagi hari nya, hujan sudah tidak lagi mengguyur bumi. Ibu Sari bangun, saat matanya terbuka terlihat lampu kamar sudah menyala. Beliau memang sudah menekan tombol saklar saat akan pergi tidur.


“Hmmm hujan membuat nyenyak tidurku sampai sampai aku tidak tahu saat lampu sudah menyala. Dan tidak mendengar suara tangis Abi, apa anak itu juga nyenyak tidurnya.” gumam Ibu Sari lalu dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah selesai dari kamar mandi, Ibu Sari segera keluar dari kamar untuk menuju ke ruang doa. Terlihat anak anak pun sudah mulai beraktivitas, ada yang sudah piket untuk memasak di dapur, ada yang sudah menyapu dan mengepel lantai sepanjang koridor. Ada pula yang sudah menyapu halaman panti. Terlihat Sandra pun ikut menyapu halaman panti. Ibu Sari sambil berjalan menoleh melihat Sandra yang sedang menyapu dengan anak anak lainnya. Tampak dia memang kaku dalam memegang sapu lidi tersebut. Apalagi tanah yang basah akibat guyuran air hujan benar benar dia terlihat sangat kesulitan dalam menyapu daun daun rambutan yang jatuh di tanah yang basah.


“Anak itu benar benar berusaha melakukan apa yang anak anak panti lakukan. Mungkin dia baru pertama kali ini memegang sapu lidi.” gumam Ibu Sari lalu terus melangkah menuju ke ruang doa. Sambil berjalan Ibu Sari menghirup udara dalam dalam, Udara pagi terasa segar mungkin debu debu dan polutan yang ada di udara sudah hilang karena terbasuh oleh guyuran air hujan semalaman. Aroma tanah akibat guyuran hujan pun masih tercium, entahlah aroma itu membuat perasaan tenang di hati dan pikiran Ibu Sari.


Saat di depan ruang doa, Ibu Sari melihat Nyonya Naura berdiri tidak jauh dari tempat itu. Terlihat Nyonya Naura pun menghirup udara dalam dalam, sambil kedua tangannya direntangkan.


“Selamat pagi Bun..” sapa Ibu Sari


“Selamat pagi Ibu Sari, segar sekali udara pagi ini dan aroma nya sangat menenangkan hati. Entah mengapa aroma udara di sini setelah hujan berbeda dengan di kota besar.” ucap Nyonya Naura masih menghirup dalam dalam udara pagi habis hujan semalaman.


“Mungkin karena di sini masih banyak pohon pohon dan tanaman Bun...” ucap Ibu Sari berpendapat menanggapi ucapan Nyonya Naura.


“Bener juga Ibu Sari mungkin begitu... Benar benar menyenangkan rasanya saya enggan untuk meninggalkan tempat ini. Tapi saya harus kembali bekerja... ha.. ha...” ucap Nyonya Naura kemudian lalu dia pun berjalan menuju ke ruang doa. Berjalan di samping Ibu Sari.


Mereka berdua lalu masuk ke dalam ruang doa, dan bergulirnya waktu semakin lama semakin banyak anak anak yang masuk ke dalam ruang doa. Mbah Parjan yang belum pulang pun juga turut masuk ke dalam ruang doa bersama Mas Budi, Angga dan anak anak laki laki lainnya. Marginah dan Nesya pun juga turut masuk ke dalam ruang doa. Anak anak yang piket pun setelah selesai piket dan membersihkan diri, mereka juga turut masuk ke dalam ruang doa.


Emak Baru terlihat yang terakhir kali masuk ke dalam ruang doa. Dia tadi setelah ikut membantu piket anak yang tugas di dapur. Dia kembali ke kamar melihat Abi sudah bangun dan merengek minta minum, mungkin karena semalaman nyenyak tidak bangun jadi pagi pagi Abi sudah kelaparan. Kini Abi sudah tertidur lagi di dalam gendongan Emak Baru, dia sudah kenyang dan sudah bersih tubuhnya.


Setelah jadwal doa pagi selesai mereka semua lalu berjalan menuju ke ruang makan untuk sarapan pagi. Menu sarapan pagi hari ini sudah kembali pada menu menu kebiasaan di panti. Akan tetapi anak anak tetap lahap menyantap sarapan yang sudah tersedia di depannya. Mereka tetap mensyukuri nikmat yang sudah disediakan untuk mereka. Bagi mereka semua menu adalah enak dan enak sekali.


Setelah sarapan pagi, anak anak menyalami pada Nyonya Naura, mereka semua mengucapkan selamat jalan pada Nyonya Naura karena mereka nanti tidak bisa mengantar Nyonya Naura yang pergi untuk pulang ke Ibu Kota. Dan tidak lupa mereka semua mengucapkan terima kasih pada Nyonya Naura yang telah memberikan banyak hadiah dan makanan yang enak enak.


Dan benar setelah anak anak berangkat ke sekolah. Nyonya Naura bersiap diri untuk meninggalkan panti. Setelah dia sudah selesai bersiap siap, ada mobil hotel dari kota yang menjemput Nyonya Naura. Nyonya Naura memang akan beristirahat di hotel dekat bandara dulu sebelum jadwal keberangkatan pesawat nya.


Siang hari sebelum anak anak pulang dari sekolah. Ada mobil box dari toko teknik di kota memasuki halaman panti. Mobil berhenti, Mas Budi yang sudah pulang dari mengantar pulang Mbah Parjan langsung berlari mendatangi mobil toko teknik. Pegawai toko teknik menyerahkan nota bukti pengiriman barang. Di box mobil ada gen set (generator set), beberapa lampu emergency dan satu buah mesin jahit multi fungsi. Mesin jahit yang juga bisa untuk itik itik kancing, obras dan untuk menyulam.


Sopir dan pegawai toko teknik lalu segera menurunkan barang barang itu. Ibu Sari pun akhirnya keluar dari ruang kerjanya. Pegawai toko lalu memberi panduan pada Mas Budi dan Ibu Sari cara mengoperasikan barang barang itu. Untuk mengoperasikan gen set dan lampu emergency Mas Budi paham karena dia sudah mempelajari sebelumnya. Namun untuk mesin jahit dia benar benar buta. Akhirnya Mas Budi berlari ke dapur untuk memanggil Emak Baru. Emak Baru yang mendengar mesin jahit untuk dirinya sudah datang dia pun berjalan cepat sambil menggendong Abi.


“Wah bagus sekali.” ucap Emak Baru sambil memegang mesin jahit tersebut. Lalu dia, Mas Budi dan Ibu Sari juga turut mendengarkan panduan cara mengoperasikan mesin jahit itu. Terlihat Emak Baru mengangguk angguk paham.


“Mak, mesinnya ditaruh di kamar Emak dulu saja ya... kita belum punya ruang khusus untuk jahit menjahit.” ucap Ibu Sari sambil menatap Emak Baru yang wajahnya terlihat sangat bahagia. Emak Baru pun sangat setuju. Mas Budi dan pegawai toko itu lalu menggotong mesin jahit itu dibawa ke kamar Emak Baru.


“Bu, saya melanjutkan ke dapur ya, belum selesai membantu masak nya..Besok kalau kain seragam untuk anak anak sudah datang saya akan mulai mengerjakan menjahitnya.. Besok saya kasih bordiran juga Bu biar bagus seragamnya.” ucap Emak sambil menatap Ibu Sari.


“Iya Mak, silahkan.. Besok kalau mau Emak juga ikut waktu beli kain seragam.” ucap Ibu Sari sambil tersenyum dia menawarkan Emak ikut agar Emak juga bisa sekalian belanja untuk kebutuhan jahit menjahit. Emak pun setuju lalu dia segera kembali berjalan menuju ke dapur untuk melanjutkan membantu memasak Ibu pegawai panti.


“Mesin baru ya Mak, besok kita dibuatkan baju ya...” ucap salah satu Ibu Pegawai masak.


“Beres Bu.” jawab Emak Baru sambil tersenyum bahagia. Mereka bertiga lalu berbincang bincang dan bercanda tentang rencana mereka yang akan membuat bermacam macam baju.


Akan tetapi tiba tiba mereka bertiga langsung terdiam dan wajah mereka bertiga langsung menghadap menatap layar monitor televisi kecil yang tertempel di salah satu dinding dapur. Di dapur itu memang ada televisi kecil yang biasa digunakan untuk hiburan ibu ibu pegawai masak panti. Mereka bertiga berkonsentrasi untuk mendengarkan breaking news. Mereka bertiga mendengarkan dengan seksama berita itu. Akan tetapi dada Emak Baru mendadak berdegup dengan kencang. Lehernya terasa sakit entah karena ingin menangis atau karena kebencian yang memuncak.


“Ya ampun seorang pejabat sudah tertangkap tangan kasus korupsi masih juga punya kasus pelecehan pada karyawannya di tempat kerja.” ucap salah satu Ibu Pegawai masak setelah mendengar berita itu sambil geleng geleng kepala.


“Benar benar keterlaluan.” ucap Ibu pegawai masak satunya sambil mengetuk ngetuk pisau nya di telenan karena dia begitu gemes dengan berita kelakuan pejabat itu.


Sementara Emak Baru terlihat matanya sudah mulai memerah. Dan bersamaan dengan itu pula, Abi menangis dengan kejer, entah karena merasakan Emaknya yang hatinya gelisah atau dia juga turut mendengar berita di televisi itu atau kaget dengan suara ibu ibu pegawai masak yang berbicara dengan keras. Emak Baru lalu langsung bangkit berdiri sambil menepuk nepuk pantat Abi agar lebih tenang, dan dia berjalan dengan cepat meninggalkan dapur itu.