MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 46. Masih Mencari Ibu Sang Bayi


Ibu Sari dan Angga lalu masuk ke dalam mini market tersebut, Angga masih mendorong keranjang belanja itu. Ibu Sari mengambil satu kotak susu bayi lalu dimasukkan ke dalam keranjang dorong, Angga mengambil kotak susu yang sama Ibu Sari ambil namun Angga mengambil lebih banyak. Begitu seterusnya apa yang Ibu Sari ambil dan ditaruh di keranjang, Angga menambahnya lagi.


“Nga uang belanja Ibu tidak banyak, kenapa kamu mengambil barang dalam jumlah banyak?” tanya Ibu Sari dengan nada kuatir, dia kuatir jika uang untuk membayar kurang.


“Ibu Sari tidak usah kuatir kan sudah Angga bilang nanti Angga yang bayar.” jawab Angga sambil terus mendorong keranjang belanja.


“Apa orang tuamu tidak marah? Mereka sudah selalu transfer dana untuk operasional panti, kenapa kamu masih yang bayari belanja Ibu. Selama kamu di sini Papimu juga menambahi uang transferan buat Ibu.” ucap Ibu Sari masih dengan nada suara kuatir.


“Tidak apa Bu, Papi dan Oma tidak akan marah kalau uang Angga digunakan untuk kebaikan. Kalau untuk belanja koin buat main games kalau habis banyak itu Angga akan dimarahi Oma he..he..” ucap Angga yang teringat pernah belanja koin untuk main games sampai jutaan dan akhirnya dimarahi oleh Oma. Mereka terus berjalan menuju ke kasir sebab sudah dirasa cukup belanjaan. Satu keranjang dorong penuh dengan belanjaan kebutuhan adik bayi. Ibu Sari berdiri di depan kasir dengan jantung yang berdebar debar, sementara Angga lalu pergi menuju ke lemari yang berisi minuman dingin. Dia mengambil dalam jumlah banyak. Selanjutnya di bawa ke meja kasir.


“Mbak ini yang didahulukan ya..” ucap Angga dan kasir paham dengan yang dimaksud oleh Angga. Lalu kasir itu mengambil semua botol minuman dingin dan segera diproses di pembayaran. Selanjutnya Angga memanggil temannya yang masih duduk di dalam mobil. Beberapa temamnya turun dan berlari menuju ke tempat Angga. Lalu Angga memberikan botolan minuman yang sudah ditaruh di dalam dua kantong plastik yang besar oleh Mbak Kasir.


“Terimakasih ya Bu.” ucap teman Angga itu setelah menerima satu kantong plastik besar yang berisi botol botol minuman dingin.


“Angga itu yang membelikan.” jawab Ibu Sari.


“Terimakasih ya Nga, kamu tahu saja kami kehausan.” ucap temannya Angga sambil tersenyum menatap Angga lalu dia berlari lagi ke mobil dan membagikan minuman itu pada yang lain. Tidak lama kemudian pembayaran belanjaan di kasir sudah selesai. Ibu Sari memanggil beberapa anak agar membantu membawakan belanjaan yang sudah dibeli.


“Biar mereka yang bawa Nga.” ucap Ibu Sari saat Angga akan ikut membawa barang belanjaan.


“Tidak apa apa Bu, sekalian jalan ke mobil.” jawab Angga yang tetap membawakan beberapa barang belanjaan.


“Ibu Sari belanja banyak ya Bu? Terimakasih minumannya ya Bu, benar benar nyessss dingin Bu...” ucap Marginah saat Ibu Sari sudah masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakan mesinnya.


“Tadi maksud Ibu beli tidak sebanyak itu, tapi tadi yang bayari Angga, minuman dingin itu juga Angga yang membelikan.” ucap Ibu Sari lalu mulai menjalankan mobilnya meninggalkan lokasi mini market.


“Ooo yang bayari Bos kecil.” ucap Marginah dan Nesya bersamaan.


“Enak ya kalau punya uang banyak, pengen apa apa tinggal pencet pencet tinggal gesek. “ gumam Marginah.


“Kamu besok juga bisa begitu asal rajin belajar terus bekerja yang benar, katanya kamu mau jadi dokter besok kalau cita citamu bisa terwujud kan uangmu juga banyak.” ucap Ibu Sari sambil terus melajukan mobilnya.


“He... he... Kalau jadi dokter nanti kalau sudah diangkat jadi pegawai negeri atau pegawai rumah sakit swasta kan dapat gaji Marginah, terus kamu bisa praktek di rumah saat tidak dinas di rumah sakit, itu bisa kamu gunakan untuk membantu keluarga dan masyarakat sekitar kalau kamu mau dan berniat buat amal, bisa kamu gratiskan.. “ ucap Ibu Sari.


“Oooo gitu ya Bu.” ucap Marginah sambil mengangguk anggukkan kepalanya.


Mobil terus melaju dan tidak lama kemudian mobil memasuki halaman panti. Dan selanjutnya Ibu Sari memarkir mobilnya.


“Aku mau lihat adik bayi.” ucap Nesya sambil turun dari mobil, karena ingin melihat lebih jelas adik bayinya. Tadi pagi mereka tidak begitu jelas dan juga keburu akan sekolah.


“Nanti kalau sudah bersih bersih dan ganti baju Nes. Sekarang cuci tangan dan makan dulu.” ucap Ibu Sari sambil turun dari mobil juga. Saat turun dari mobil, pandangan mata Ibu Sari tertuju pada parkiran motor gang masih kosong.


“Apa Budi masih mencari ibu dari bayi itu.” gumam Ibu Sari lalu membawa beberapa barang belanjaan dan dibantu oleh beberapa anak.


Sementara itu di tempat lain. Mas Budi setelah sampai di pangkal ojek di dekat toko Mekar dia bertanya pada beberapa tukang ojek pangkalan apa kenal dengan ojek yang membawa perempuan di pagi hari. Tukang ojek pangkalan itu tidak ada yang kenal.


“Ojek aplikasi mungkin Mas, atau ojek pangkalan di terminal kota.” jawab salah seorang dari mereka.


“Lihat saja di CCTV nya toko Mekar, Mas nanti sampeyan bisa lihat tukang ojek dan perempuannya itu.” ucap tukang ojek aplikasi yang ikut mangkal di situ. Mereka para tukang ojek rukun sering mangkal di dekat toko Mekar. Beberapa masyarakat desa terutama yang tua lebih senang memakai ojek bukan aplikasi karena tidak punya hape cerdas.


Mas Budi lalu berjalan menuju ke toko Mekar dia minta tolong agar diijinkan untuk melihat CCTV milik toko Mekar yang bisa merekam kejadian di luar toko Mekar. Mas Budi menyampaikan maksudnya ingin mencari orang tua yang membuang bayi. Mungkin karena Mas Budi mengalami sendiri dibuang oleh orang tua, maka dia semangat dalam mencari perempuan itu. Mas Budi diijinkan untuk melihat rekaman CCTV, Mas Budi lalu memotret wajah perempuan itu meskipun agak buram karena jauh dan juga mencatat nomor motor tukang ojek. Setelah mengucapkan terimakasih Mas Budi lalu melajukan motornya ke terminal kota. Dia akan mencari ojek yang yang membawa perempuan tadi.


Sesampai di terminal kota, Mas Budi mencari tempat tempat tukang ojek mangkal. Akan tetapi dia tidak menemukan tukang ojek yang dia cari.


“Mau kemana Mas, mau ngojek?” tanya salah seorang tukang ojek kepada Mas Budi yang melihat Mas Budi berjalan sambil wajahnya celingukan mencari cari. Motor Mas Budi sudah di parkir di tempat parkir terminal.


“Maaf Pak, tahu tukang ojek yang pakai motor begini dengan nomor polisi ini.” tanya Mas Budi.


“Ooo tahu Mas itu temanku tapi sudah pulang” jawab tukang ojek itu.


“Ada apa to Mas? Pakai ojek kita kita sama saja.” ucap tukang ojek yang lain.