
“Kalau Mas Angga sudah mau tidur dengan anak anak lainnya. Pak Jemari mau pulang saja Mas, sudah kangen pada sawah dan sapi juga istriku tercinta he...he...” ucap Pak Jemari jujur namun juga sebenarnya dia masih takut jika tidur sendiri di kamar tamu.
“Jangan pulang dulu Pak. Pak Jemari boleh pulang setelah ada informasi kalau Oma sudah berhasil operasinya.” ucap Angga sambil merapikan baju seragamnya.
“Ayo makan dulu, awas kalau nanti pulang.” ucap Angga sambil menarik tangan Pak Jemari setelah selesai merapikan bajunya. Angga pagi ini terlihat sangat bahagia. Sepertinya dia sudah bisa berbaur teman teman panti dan juga bahagia karena Oma sudah mendapat donor ginjal. Mereka berdua berjalan menuju ke ruang makan berkali kali Angga memberikan senyuman kepada teman teman panti yang menyapa ataupun sebaliknya dia yang lebih dulu menyapa dengan memberikan senyuman.
Setelah mereka semua selesai makan pagi. Mereka lalu melanjutkan kegiatannya masing masing.
“Nes kamu dan Marginah aku antar pakai becak.” ucap Mas Budi kepada Nesya saat berjalan ke luar dari ruang makan.
“Aku berangkat sama Marginah naik sepeda Mas. Angga katanya juga mau naik sepeda. Aku boncengan sama Marginah.” jawab Nesya.
“Ya sudah hati hati ya...” ucap Mas Budi. Nesya menganggukan kepala lalu dengan segera dia berjalan menuju kamar menyusul Marginah untuk mengambil perlengkapan sekolahnya. Tidak lama kemudian Nesya sudah sampai di kamar dan segera mengambil perlengkapan sekolahnya.
“Kamu yang boncengkan aku sekarang Nes, nanti pulangnya aku yang boncengkan kamu. Kalau aku sekarang yang boncengkan takut sarapannya habis buat naik sepeda aku di kelas nanti ngantuk. Kalau pulangnya yang boncengkan sampai di panti langsung makan banyak ha... ha....” ucap Marginah sambil berjalan keluar kamar. Nesya hanya tersenyum mendengar perkataan Marginah. Dia sendiri malah senang jika pagi yang memboncengkan karena belum panas karena terik sinar matahari.
“Angga kamu bisa naik sepeda?” tanya Marginah saat mereka bertiga sudah berada di tempat parkir sepeda.
“Bisa lah, ngebut juga bisa.” jawab Angga sambil mengambil salah satu sepeda. Ada beberapa sepeda yang berada di tempat parkiran. Ibu Sari sudah memberi ijin Angga untuk memakai salah satu sepeda. Angga juga berencana akan membeli sendiri sepeda untuk sekolah tetapi Mas Budi belum ada waktu untuk mengantarkannya.
Mereka bertiga lalu meninggalan halaman panti. Angga menaiki sepeda seorang diri sedangan Nesya berboncengan dengan Marginah. Di lain mereka anak anak panti juga meninggalkan halaman panti untuk berangkat ke sekolah. Ada yang naik sepeda juga ada yang berjalan kaki. Di samping itu masih ada juga beberapa anak yang masih berada di panti karena jadwal masuk sekolah siang hari.
Beberapa menit kemudian dua sepeda yang dikayuh oleh Angga dan Nesya sudah memasuki halaman sekolah. Mereka bertiga terlihat senang dan bersemangat mengawali hari pertama masuk sekolahnya.
“Nga kamu nanti gabung ke teman cowok, nanti Aku kenalkan teman SD ku yang juga satu kelas dengan kita. Kamu bisa duduk sebelahan dengannya.” ucap Nesya saat memarkir sepedanya di samping sepeda Angga.
“Aku sebenarnya pengen duduk di samping Marginah pengen nyontek kan dia pinter.” ucap Angga sambil tersenyum, karena sudah beberapa hari berteman dengan Pak Jemari, Angga sekarang jadi bisa bercanda.
“Aku ogah ya, aku mau duduk sendirian saja di kursi paling belakang.” ucap Marginah sambil berjalan lebih dulu menuju kelasnya.
“Pelit....” teriak Nesya dan Angga bersamaan sambil berjalan menyusul Marginah. Marginah yang mendengar teriakan mereka berdua hanya tertawa dan terus melangkah ke kelas yang sudah diberi tahu oleh Ibu Sari.
“Nah cepat jalannya. Ada Bapakku di warung itu.” ucap Nesya sambil menepuk pantat Marginah.
“Ha, dimana?” tanya Marginah sambil menoleh. Nesya tidak menjawab hanya menepuk nepuk pantat Marginah sambil menyuruh agar Maeginah mengayuh lebih cepat.
“Cepat Nah, dia sudah melihat aku. Pasti akan mengejar aku. Cepat sebelum dia mengambil motornya.” teriak Nesya. Marginah lalu segera menambah kecepatan dalam mengayuh sepedanya. Angga yang melihat Marginah ngebut hanya mengira anak itu ingin segera sampai panti karena kelaparan. Namun saat melihat gestur tubuh Nesya bagai ketakutan Angga mempercepat juga sepedanya dan meninggalkan Brian. Marginah terus melajukan sepedanya dengan sangat kencang. Namun saat sepeda Marginah akan membelok...
BRUUUUK! GROBYAK!
“A.....” teriak Marginah dan Nesya secara bersamaan mereka berdua terjatuh dari sepeda. Mereka berdua tertindih oleh sepeda yang tadi mereka naiki.
“Kenapa kalian ngebut.” teriak Angga. Dan tidak lama kemudian Angga sudah berada di dekat mereka. Angga hendak turun dari sepedanya untuk membantu mereka berdua. Sedangkan Brian sudah tidak bersama dengan Angga karena sudah beda jalur jalannya.
“Kamu terus jalan, boncengkan Nesya, cepat!” teriak Marginah sambil menatap Angga dengan ekspresi ketakutan dan kesakitan menjadi satu.
“Tidak usah tolong aku. Nes kamu cepat berdiri ikut Angga.” ucap Marginah sambil mendorong pundak Nesya agar cepat berdiri dan ikut ke sepeda Angga.
“Cepat.” teriak Marginah sekali lagi. Nesya lalu dengan susah payah berusaha bangkit berdiri sambil menahan perih dan sakit bagian tubuhnya yang terbentur oleh aspal jalan.
“Nah rantai sepedamu lepas.” teriak Angga masih berada di atas sepedanya sambil melihat sepeda Marginah.
“Sudah kalian cepat jalan awas jangan jatuh kayak aku.” teriak Marginah saat Nesya sudah berada di atas boncengan sepeda Angga. Angga lalu dengan segera mengayuh sepedanya.
Dan tidak lama kemudian motor yang dikendarai oleh Bapaknya Nesya sudah berhenti di dekat sepeda Marginah. Orang orang yang lewat mengira Bapaknya Nesya akan membantu Marginah.
“Hai kamu tadi yang boncengan dengan Nesya, dimana dia sekarang, aku akan mengantarnya pulang.” teriak Bapaknya Nesya.
“Ehmmm itu anu..” gumam Marginah bingung akan menjawab apa.
“Kalau kamu tidak jujur aku akan membawamu sekarang.” ucap Bapaknya Nesya sambil berjalan mendekati Marginah. Marginah ketakutan badannya gemetar, gemetar karena efek kelaparan, ketakutan dan kaget karena jatuh juga rasa sakit di tubuh karena jatuh menjadi satu. Pikirannya teringat akan Nesya yang akan dijual, Marginah takut jika dirinya juga akan dijual oleh Bapaknya Nesya.