
Angga setelah selesai minum dia bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan meninggalkan ruang makan. Dia akan mencari keberadaan kedua sahabatnya, Marginah dan Nesya. Angga terus berjalan di koridor yang menghubungkan antar ruangan. Sesaat matanya menanggap sosok Marginah dan Nesya sedang duduk di bangku di depan ruang perpustakaan sambil ada dua buah sapu tersandar di bangku. Sepertinya mereka berdua habis selesai mengerjakan paketnya menyapu ruangan dan koridor. Angga mempercepat langkahnya. Terlihat Marginah berbicara serius sambil menatap Nesya.
“ Aku tetap tidak mau Nah. Di dunia ini banyak kemungkinan, bisa jadi Abi akan dijual sama seperti aku” ucap Nesya dengan nada serius dan pandangan matanya lurus ke depan.
“Maaf Nes aku gabung, tapi bisa jadi juga kemungkinan yang lain dia bernasib seperti Mas Budi besoknya penasaran ingin tahu orang tuanya.” ucap Angga yang sudah berdiri di dekatnya lalu dia berjalan beberapa langkah dan duduk di pembatas teras depan ruang perpustakaan yaitu sebuah bangunan tembok semen yang tingginya hanya sepinggang. Angga duduk menghadap pada Marginah dan Nesya yang masih duduk di bangku di teras ruang perpustakaan.
“Tuh kan Nes ada kemungkinan lain, tadi kalau dari pemikiranku ada kemungkinan kalau Ibunya Abi hamil tidak ada suaminya terus malu jadi dibuang meskipun dia sayang sama anaknya jadi dia nangis nangis.” ucap Marginah yang kini menatap Angga yang duduk di depannya.
“Ada juga kemungkinan dia tidak ada biaya buat merawat. Makanya agar tahu penyebabnya apa, ayo kita kasih keterangan pada Bapak Polisi.” ucap Marginah lagi kini dia menatap Nesya, sedangkan Nesya hanya menduduk. Dan sesaat sosok Ibu Sari juga berjalan menuju ke arah mereka.
“Iya Nes, nanti kalau dari temuan ada yang membahayakan Abi pasti ada perlindungan buat Abi.” ucap Ibu Sari yang kini sudah ada di dekat mereka, Ibu Sari lalu duduk di.samping Angga.
“Mau ya Nes besok kita ke kantor Polisi memberi keterangan. Itu juga merupakan upaya agar orang tua tidak membuang anaknya. Sebab itu merupakan sebuah dosa. Jika akan menitipkan di panti dititipkan secara baik baik, seperti Ibu dan Nenekmu dulu menitipkan kamu di sini dengan baik baik.” ucap Ibu Sari menatap wajah Nesya dengan tatapan mata yang teduh.
“Tuh dengar Nes, kalau membuang bayi itu dosa kalau kita tidak memberi keterangan pada Pak Polisi kita mendukung orang berbuat dosa. Kalau dibiarkan orang seenaknya membuang bayi. Masih mending kalau bayinya terselamatkan kayak Abi. Kemarin jika terlambat sedikit saja tidak tahu apa yang akan terjadi.” ucap Marginah dengan nada serius sambil menatap Nesya.
“Kita hanya berusaha Nes, memang belum tentu bisa menemukan orang yang membuang bayi itu. Tetapi kita berusaha, Mas Budi sudah meluangkan waktu untuk melaporkan kita dukung Mas Budi. Jangan sampai kita sebagai saudara selisih paham saling diam saling benci. Kita semua berusaha melakukan yang terbaik buat saudara saudara kita di sini.” ucap Ibu Sari masih menatap wajah Nesya. Terlihat Nesya masih menundukkan kepalanya tampaknya dia sedang berpikir pikir mencerna omongan Ibu Sari dan sahabatnya.
Namun tiba tiba, rombongan gadis gadis muda tadi sudah berjalan dan mendekat kepada mereka.
“Angga kamu itu ya keterlaluan banget kami sudah capek capek bantuin kamu buat kompos, malah kamu ninggalin kami. Aku cari cari di kebun tidak ada malah kamu enak enak ngobrol di sini.” teriak salah satu dari mereka sambil menatap ke arah Angga. Sedangkan Angga hanya diam dengan wajah tanpa ekspresi
“Maaf ya kami sedang membahas masalah penting, kami bukan ngobrol santai santai sore hari. Bukannya kalian juga sudah ditemani Fikri dan juga ada teman teman sekelas kalian. Jangan suka pilih pilih kawan.” Ucap Ibu Sari sambil menatap tajam ke arah mereka terutama yang baru saja omong.
“Iya Bu, maaf.” ucap beberapa dari mereka.
“Ya sudah sekarang sudah sore, kalian pasti juga sudah capek. Silahkan pulang, terimakasih banyak sudah main ke panti dan sudah membantu membuat kompos.” ucap Ibu Sari kemudian. Akhirnya mereka semua berjalan menuju ke mobil mereka. Dua orang sopir yang sejak tadi menunggu mereka tidur di mobil teelihat kaget dengan penampilan mereka dan bau keringat mereka sebab aroma parfum yang tadi dipakai sudah terkalahkan oleh kontaminasi aroma kotoran kandang dan keringat.
“Bu, tadi Abi tidur. Ibu Perawat mencari Ibu Sari tidak ada di ruangan terus dititip ke saya. Sekarang nangis, susunya habis.” ucap Mawarni sambil menyerahkan Abi kepada Ibu Sari. Ibu Sari lalu menerima Abi dan membawanya ke ruangannya.
Waktu terus berlalu di malam hari setelah jadwal makan malam, Nesya berjalan mendekati Mas Budi. Sejak Nesya histeris Mas Budi lebih banyak diam, apalagi jika bertemu Nesya.
“Mas, maafin aku ya. Aku besok mau kok diajak Ibu Sari ke kantor polisi.” ucap Nesya saat berjalan di samping Mas Budi.
“Iya Nes, aku juga minta maaf jika yang aku lakukan salah di matamu. Aku bermaksud baik untuk masa depan Abi. Jujur aku tidak terpikirkan jika Abi mau dijual atau gimana gimana. Semoga Abi selamat. Semoga Abi tidak bernasib seperti kita, yang bingung siapa orang tuanya atau yang ketakutan karena akan dijual orang tuanya.” ucap Mas Budi sambil berjalan. Nesya yang juga masih berjalan di samping Mas Budi hanya menunduk.
Akan tetapi tiba tiba terdengar suara dering telpon di saku celana Mas Budi. Mas Budi langsung mengambil hapenya, dia cepat cepat melihat siapa yang menelepon sebab tadi Bapak Polisi bilang sewaktu waktu akan ditelpon baik untuk dimintai keterangan atau diberi informasi perkembangan penyelidikan. Namun saat hape dilihat layarnya ternyata Pak Jemari yang menelponnya.
“Hallo Mas, maaf ya.. hapeku waktu itu jatuh terus rusak.” ucap Pak Jemari saat Mas Budi sudah menggeser tombol hijau.
“Terus ini haoe baru dong.” ucap Mas Budi
“Ya jelas tidak to Mas, kalau baru ya tidak usah pakai lama lama aku sudah menelpon Mas Budi lagi, karena langsung naik ojek ke toko hape dapat hape. Ini aku service kan hapeku jadi harus nunggu sampai jadi dulu. Selama masih bisa dibenerin kenapa harus beli yang baru he...he... Tapi kalau semua orang seperti aku, juragan hape bangkrut.” ucap Pak Jemari sambil tertawa kecil
“Ooo iya Pak, mumpung Pak.Jemari nelpon dan aku ingat. Pak Jemari saat pulang itu naik bis apa ya, dan perempuan itu turun di mana?” tanya Mas Budi dengan nada serius.
“Bisnya itu Mas yang berwarna biru itu. Terus turunnya di mana ya... nama desanya apa ya.. kok susah tho Mas pertanyaannya. Kalau desa desa sekitar sini ya aku hafal kalau di daerah sana ya mosok aku hafal tho Mas, lha bis nya aja langsung wes... wes... jalannya.” ucap Pak Jemari
“Aku itu nelpon mau tanya tentang bayi yang ditaruh di panti. Ha kok malah saya yang ditanyai.” ucap Pak Jemari selanjutnya
“Pak Jemari, keterangan dari Pak Jemari akan membantu Polisi.” ucap Mas Budi