MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 51. Penasaran


Mas Budi menerima kunci motor dari tangan Ibu Sari, dan setelah menerima kunci motor Mas Budi menjabat tangan Ibu Sari lalu mencium punggung tangan Ibu Sari.


“Bu, mohon doanya ya... semoga semua berjalan lancar.” ucap Mas Budi


“Iya Bud, aku selalu berdoa buat kamu semoga kamu bisa menjadi orang yang berguna bagi orang orang di sekitarmu dan masyarakat luas, hingga nanti pada saatnya orang tuamu jika masih hidup bisa melihat kalau anak yang dititipkan di panti bisa hidup baik dan menjadi orang sukses.” doa tulus Ibu Sari sambil mengusap usap pundak Mas Budi.


“Aaminnn.” ucap Mas Budi.


“Ya sudah kamu berangkat sekarang biar cepat selesai. Ibu juga akan membuat laporan buat donatur.” ucap Ibu Sari kemudian.


Mas Budi lalu segera berjalan menuju ke motornya dia dengan semangat memacu motornya menuju ke tempat pendaftaran agar bisa melanjutkan pendidikan tingginya.


Waktu terus berlalu di lain tempat di sekolah tempat Marginah dan teman teman menuntut ilmu sudah saatnya beristirahat. Marginah, Nesya dan Angga yang baru saja selesai mengerjakan test , berjalan keluar kelas untuk menyegarkan otak mereka.


“Bagaimana Nga, Nes bisa ngak ngerjain soal soalnya, itu kan seperti yang kemarin kita kerjakan bersama saat latihan.” ucap Marginah sambil merangkul pundak Nesya dan Angga.


“Iya Nah, hanya angka yang diubah semoga saja dapat nilai sempurna.” ucap Nesya dengan senyum lebar.


“Kamu bagaimana Nga kok diam saja?” tanya Marginah sekali lagi kepada Angga sambil menaruh pantatnya di bangku di depan kelas mereka.


“Iya sama seperti yang buat kita latihan tapi aku lupa caranya ha...ha...” jawab Angga sambil tertawa, menertawakan dirinya saat mengerjakan soal test, dia tahu itu sama dengan soal yang mereka bertiga kerjakan saat latihan akan tetapi dia lupa cara mengerjakan.


“Kamu sih malas kalau sedang latihan baru sekali katanya sudah bisa tapi saat test lupa.” ucap Marginah sambil menepuk pundak Angga dengan lebih keras.


“Aduh.” teriak Angga sambil mengusap pundaknya.


“Kamu pakai tenaga dalam yang diajarkan Mbah Parjan ya?” tanya Angga sambil menatap tajam pada Marginah sebab tepukan Marginah terasa panas di pundaknya.


“He... he.. itu upah buat orang malas latihan ngerjain soal soal.” jawab Marginah sambil tertawa kecil.


“Iya iya nanti aku rajin latihan, aku juga malu pada Ibu Sari jika nilaiku paling jelek diantara kalian. Aku juga kasihan pada Ibu Sari kalau kecewa melihat hasil nilaiku kalau jelek. Tidak tega membuat Ibu Sari yang baik hati itu kecewa.” ucap Angga dengan nada sedih.


“Eh Nes, kamu kan yang sudah lama di panti aku tuh kepo, Ibu Sari itu suami dimana?” tanya Marginah sambil menatap Nesya.


“Saat aku datang di panti aku belum pernah lihat suami Ibu Sari katanya sih dia janda dan sudah lama suaminya meninggal.” jawab Nesya


“Ibu Sari itu dari keluarga kaya di desa, aku pernah diajak ke makam keluarganya. Bukan makam umum tapi makamnya khusus hanya buat keluarga Ibu Sari, sepertinya ada keturunan keluarga bangsawan.” ucap Nesya kemudian.


“Apa Ibu Sari tidak punya anak?” tanya Marginah penasaran.


“Sepertinya tidak.” jawab Nesya


“Enggak.” jawab Nesya.


“Yok kita ngajak Ibu Sari ke makam keluarganya, pasti nanti beliau akan cerita tentang keluarga Ibu Sari.” ajak Angga bersemangat.


“Setujuuuuu aku mau.,” teriak Marginah dan Nesya.


Akan tetapi tiba tiba datang beberapa siswi dari kelas lain sepertinya dari kelas dua dan kelas tiga.


“Angga kami diajak juga dong, kamu tuh cuma mau dekat dengan Nesya dan Marginah. Kami lebih cantik dan sexy sexy.” ucap salah satu dari mereka sambil bergaya mengerai ngeraikan rambutnya.


“Nga boleh ga kita main ke panti?” tanya salah satu dari mereka. Angga tidak menjawab namun malah menatap Marginah dan Nesya.


“Kalau mau main ke panti boleh saja Kakak, tetapi harus ijin sama Ibu Sari jam berapa mau datang dan tujuanannya apa.” ucap Nesya


“Heleh itu aturan yang kamu buat agar Angga cuma dekat sama kalian berdua.” ucap salah satu dari mereka dengan nada kesal sambil menatap Nesya dengan tatapan tidak suka.


“Diomongi baik baik malah tidak percaya dan menuduh.” ucap Marginah, lalu dia beranjak pergi sambil menarik tangan Nesya. Angga masih bingung dengan situasinya, namun untung bel tanda istirahat selesai sudah berbunyi. Angga pun segera bangkit berdiri.


Marginah dan Nesya lebih dulu masuk ke dalam kelas, dan tidak lama kemudian Angga juga sudah masuk ke dalam kelas.


“Nes, sepertinya akan banyak ada perempuan membenci kita gara gara kita dekat dengan Angga.” ucap Marginah agak keras sambil menoleh ke arah Angga.


“Iya Nah, sepertinya dia sudah menjadi idola sekolah, bukan hanya idola di kelas.” ucap Nesya juga sambil menoleh ke arah Angga. Angga yang duduk di belakang Marginah dan Nesya hanya tersenyum. Sementara Brian yang duduk di sebelah Angga penasaran dengan ucapan Nesya dan Marginah, akan tetapi belum sempat bertanya Ibu Guru sudah masuk ke dalam kelas. Mereka semua dengan tenang mengikuti pelajaran hingga akhir.


Siang hari bel tanda usai pelajaran berbunyi. Anak anak segera menutup buku buku pelajaran dan buku tulis mereka dan memasukkan ke dalam tas. Setelah memberi salam kepada Guru yang mengajar mereka semua keluar dari kelas dengan tertib. Marginah Nesya dan Angga berjalan paling belakang, sebab sudah di pesan oleh Ibu Sari tidak usah terburu buru, Ibu Sari akan setia menunggu.


“Nah kamu yang bilang ke Ibu Sari ya kita ingin ke makam keluarga Ibu Sari.” ucap Angga sambil berjalan keluar kelas.


“Ya jangan aku dong, Nesya tuh yang sudah pernah diajak. Kalau aku yang bilang ingin ke makam keluarga Ibu Sari jadi agak aneh kok tiba tiba aku ingin ke sana. Nanti aku dikira dapat wangsit apa kok tahu tahu minta ke makam.” ucap Marginah sambil terus berjalan. Terlihat mobil antar jemput sudah berada di depan sekolah. Akan tetapi betapa kagetnya mereka sebab siswi siswi fans Angga sudah berada di dekat mobil antar jemput.


“Mau apa mereka?” gumam Angga.


“Itu resiko jadi idola Nga, mungkin akan minta tanda tangan atau foto bersama.” ucap Marginah sambil akan menepuk pundak Angga, akan tetapi Angga segera menghindar karena kuatir akan mendapat tepukan yang panas menyengat lagi. Mereka bertiga terus berjalan menuju ke mobil sebab beberapa anak panti lainnya sudah mulai duduk dimobil.


Saat sudah sampai di dekat mobil....


“Angga kami boleh main ke panti, kata Ibu Panti hari Sabtu boleh kita main ke panti, kamu bisa tidak.” ucap siswi siswi fans Angga secara bersamaan.