MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 47. Terlambat


“Apa Bapak tahu rumahnya tukang ojek itu?” tanya Mas Budi lagi


“Wah tidak tahu Mas, ada perlu apa Mas, kalau penting besok pagi pagi ke sini lagi, dia biasa mangkal pagi pagi atau malam.” jawab Tukang ojek.


“Ya sudah Pak besok saya datang lagi. Eh Pak sampeyan punya nomor telponnya tidak?” tanya Mas Budi lagi sebelum meninggalkan mereka.


“Tidak Mas yang punya tadi itu tapi sekarang sudah narik orangnya.” jawab Tukang ojek lagi. Namun tiba tiba telpon Mas Budi berdering Mas Budi segera mengambil hape dari dalam tas slempangnya lalu segera menggeser tombol hijau sebab Ibu Sari yang menelponnya. Setelah diangkat Ibu Sari menyuruh Mas Budi segera pulang karena jam makan siang sudah lewat Mas Budi juga belum pulang. Suara Ibu Sari juga terdengar sangat kuatir, mengkuatirkan Mas Budi yang belum pulang.


“Iya Bu saya segera pulang.” jawab Mas Budi sambil berjalan menuju ke tempat parkir motor. Mas Budi terus melajukan motornya untuk kembali ke panti. Cuaca yang sangat terik tidak dirasa. Hadirnya bayi di panti bagai devaju baginya. Rasa ingin tahunya kepada orang tuanya tersalurkan lewat keinginannya untuk mencari Ibu Sang Bayi.


Mas Budi menambah kecepatan laju motornya jarak antara terminal kota dengan lokasi panti tempat tinggalnya lumayan jauh.


“Apa aku ke kantor polisi saja ya untuk mencari perempuan itu.” gumam Mas Budi saat akan melewati kantor polisi. Akan tetapi saat ingat Ibu Sari yang menyuruhnya agar segera pulang dan nada kuatir di suara Ibu Sari, membuat Mas Budi mengurungkan niatnya untuk masuk ke halaman kantor polisi. Motor terus melaju dan beberapa menit kemudian motor sudah masuk ke halaman panti. Setelah memarkir motornya Mas Budi segera ke ruangan Ibu Sari untuk menyerahkan kunci dan melaporkan kalau dia sudah pulang.


“Kamu makan dulu dan habis makan ke sini lagi.” ucap Ibu Sari saat menerima kunci motor dari Mas Budi.


Mas Budi terus berjalan menuju ke dapur. Sebab ruang makan sudah dibersihkan dan dikunci oleh petugas. Mas Budi mengambil piring lalu mengambil nasi dan perlengkapannya. Mas Budi lalu menarik kursi yang ada di dapur dan duduk makan di situ. Suasana panti tampak sepi sebab semua anak anak istirahat siang. Pegawai panti juga sudah pulang sebab sore hari pekerjaan dikerjakan anak anak yang bertugas.


Setelah selesai makan Mas Budi segera mencuci piring dan peralatan makan minum yang sudah dia pakai. Setelah selesai dia segera menutup pintu dan menguncinya. Selanjutnya Mas Budi berjalan menuju ke ruangan Ibu Sari. Tampak pintu ruangan Ibu Sari tidak tertutup Saat Mas Budi berada di depan pintu terlihat Ibu Perawat menyerahkan adik bayi kepada Ibu Sari. Dan selanjutnya Ibu Perawat pamit untuk pulang.


“Mas Budi kok baru pulang biasanya kursus cuma sebentar.” ucap Ibu Perawat saat berpapasan dengan Mas Budi di depan pintu. Mas Budi hanya tersenyum, lalu dia berjalan masuk.


“Duduk dulu Mas, Ibu nidurkan Adik Bayi dulu.” ucap Ibu Sari lalu berjalan masuk ke dalam kamar tidurnya untuk menaruh Adik Bayi. Saat dirasa Adik Bayi tidak rewel dan masih terpejam matanya. Ibu Sari keluar untuk menemui Mas Budi.


“Bagaimana apa kamu sudah bertemu dengan tukang ojek yang membawa perempuan itu?” tanya Ibu Sari sambil duduk di kursi


“Belum Bu, besok saya akan mencarinya lagi atau lapor kepada polisi. Saya tadi lihat di CCTV toko Mekar Bu, ini lihat wajah perempuan itu meskipun kurang begitu jelas.” ucap Mas Budi sambil menunjukkan. Foto rekaman CCTV di hapenya. Ibu Sari lalu terlihat mengamati foto di hape Mas Budi.


“Kurang jelas Bud.” ucap Ibu Sari masih berusaha mengamati foto rekaman CCTV.


“Sudahlah kalau tidak ketemu dan susah mencari tidak apa apa. Nanti akta nya ngikut petugas pembuat akta akan dikosongi orang tuanya atau akan ditulis aku sebagai orang tuanya, seperti dirimu, dia jadi adikmu Bud.” ucap Ibu Sari sambil menatap wajah Mas Budi.


“Kamu jangan pikirkan dengan omongan masyarakat. Orang membuang anak itu ada banyak alasan tidak semua itu karena ingin lepas dari tanggung jawab atau karena tidak menghendaki kehadiranya atau membenci kehadirannya. Mungkin karena memang dalam kondisi keterpaksaan tidak bisa merawat anaknya.” ucap Ibu Sari mencoba menghibur Mas Budi.


“Tapi buktinya mereka membuang , tidak mau bertanggung jawab dengan apa yang sudah dilakukan Bu.” ucap Mas Budi yang teringat dengan kalimat mau enaknya tidak mau anaknya. Mata Mas Budi kini sudah terlihat memerah.


“Ada yang mereka itu korban Bud dan tidak ada niat untuk melakukan, jika itu korban mereka merasakan sakit Bud dan belum lagi stigma dari masyarakat. Hamil tanpa suami. Masih bersyukur jika mereka tetap mau menjaga anak dalam kandungannya sampai lahir dan selamat Bud.” ucap Ibu Sari lagi


“Mungkin bisa lahir dengan selamat karena sudah dicoba digugurkan selalu gagal Bu.” ucap Mas Budi menyanggah perkataan Ibu Sari


“Bud.. “ ucap Ibu Sari. Ibu Sari lalu menarik nafas dengan dalam. Ibu Sari bisa merasakan kesedihan Mas Budi, keinginan tahunya akan siapa orang tuanya..


“Berdoa saja Bud, semoga suatu saat orang tuamu akan datang ke sini dan mencari dirimu. Andai mereka datang, kamu tidak apa apa pergi ikut mereka. Bagaimanapun mereka orang tuamu.” ucap Ibu Sari dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya dan saat Ibu Sari berkedip air mata mulai mengalir dari kedua ujung matanya. Ibu Sari teringat sejak Mas Budi masih bayi dia yang merawat, dia sangat sayang pada semua anak panti akan tetapi dia juga harus mengiklaskan jika sewaktu waktu anak anak itu pergi ikut pada orang tua mereka.


“Saya akan tetap di sini Bu, ini rumah saya, Ibu Sari orang tua saya.” ucap Mas Budi sambil menatap Ibu Sari. Dan sesaat kemudian terdengar suara tangis dari adik bayi.


Oekkkkk ooooooekkk oooooooekkk


“Siapa namanya Bu, apa Budi Luhur 2 he.. he..” ucap Mas Budi sambil melihat adik bayi dan tertawa kecil.


“Anak anak memberi nama dia James Ari Marnico.” jawab Ibu Sari sambil tersenyum.


“Wah keren.” ucap Mas Budi sambil menoel noel lengan adik bayi.


“Tapi depannya aku ganti.” ucap Ibu Sari kemudian. Namun tiba tiba di luar pintu ruangan Ibu Sari terdengar suara ramai anak anak. Mereka berebut ingin melihat adik bayi.


“Bu... saya pengen lihat adik bayi. Tadi belum lihat.” teriak Angga dan teman yang lain. Ibu Sari dan Mas Budi lalu bangkit berdiri dan berjalan keluar dari ruangan, sebab akan penuh jika mereka semua masuk, dan bisa dipastikan adik bayi akan nangis karena kepanasan kekurangan oksigen.


Ibu Sari lalu berjalan dan duduk di bawah pohon rambutan. Anak anak semua duduk mengelilingi Ibu Sari dari depan.


“Bu nanti tidur dengan saya saja adik bayinya.” ucap Angga sambil memegang kaki adik bayi dan menggoyang goyang pelan kaki adik bayi itu karena gemas.


“Kamu kan sudah tidur dengan teman temanmu.” ucap Ibu Sari yang sudah tahu Angga tidur di kamar bersama kelompoknya.


“Kalian harus tidur cukup agar tidak mengantuk di kelas.” ucap Ibu Sari kemudian.


“Iya kamu pikir kamu bisa merawat bayi. Paling kalau tidur sama kamu adik bayinya nangis karena haus kamunya tetap lelap bermimpi.” ucap Marginah.


“Sepertinya begitu ha..ha...ha...” ucap Angga sambil tertawa.


“Bu namanya akhirnya siapa?” tanya Nesya.


“Seperti usul kalian, tetapi depannya Ibu ganti.” jawab Ibu Sari.


“Siapa Bu?” tanya Angga.


“Abimana Ari Marnico. Abimana artinya berbudi tinggi semoga menjadi anak yang baik hati, berbudi tinggi.” ucap Ibu Sari .


“Aaaminn..” ucap anak anak.


“Nga, Ari singkatan namamu dengan nama Ibu Sari. Tidak usah protes lagi.” ucap Marginah sebab tadi Angga protes karena nama Marginah dan Nesya sudah disematkan menjadi nama Marnico.


Waktu berlalu... Anak anak tampak bahagia dengan hadirnya adik bayi. Akan tetapi masalah baru muncul lagi. Adik bayi yang malam tidur dengan Ibu Sari membuat Ibu Sari harus terjaga di malam dan dini hari untuk memberikan minum atau mengganti popok. Ibu Sari akhirnya bangun pagi kesiangan. Seperti pagi hari ini. Marginah dan teman teman sudah siap akan berangkat ke sekolah akan tetapi Ibu Sari sejak tadi belum terlihat keluar kamar. Pintu ruangan masih tertutup rapat.


“Nah kamu ketuk pintunya, kita keburu telat. Aku ada test pagi hari.” ucap salah satu anak yang tidak satu kelas dengan Marginah.


“Aku takut, kamu naik sepeda saja.” jawab Marginah.


“Ooo minta Mas Budi yang mengantar, dia kan sudah kursus paling bisa jalan pelan pelan.” ucap Nesya.


“Ya sama saja Nes, kunci di kamar Ibu Sari.” ucap Angga.


“Hadeh” ucap anak yang akan test di pagi hari itu. Lalu dia memberanikan diri untuk membangunkan Ibu Sari. Dia berjalan dengan cepat menuju pintu kamar Ibu Sari. Terlihat dia mengetuk ngetuk pintu ruangan Ibu Sari.