MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 40. Persiapan Malam Perpisahan


Mereka bertiga terus berjalan menuju ke aula panti. Tidak lama kemudian mereka sudah sampai di depan pintu aula yang sudah terbuka lebar. Aula panti luas pintunya pun lebar dan tinggi, anak anak yang sedang bekerja terlihat dari pintu yang terbuka leba itu. Ada yang membersihkan lantai ada yang mengatur kursi, ada yang mengecek sound system di panggung. Bagian depan aula merupakan bangunan lantai yang lebih tinggi yang digunakan untuk panggung. Terlihat Nesya langsung berlari menuju ke panggung, dia nanti akan maju ke depan untuk membaca puisi.


Pak Jemari dan Marginah masih berdiri terpaku di depan pintu.


“Pak, Nah... ayo maju ke sini. Kita latihan berdiri dan berbicara di sini. Biar nanti bisa menguasai panggung.” teriak Nesya. Marginah dan Pak Jemari saling pandang.


“Sana Pak ikut Nesya aku nanti duduk di belakang saja.” ucap Marginah sambil mendorong tubuh Bapaknya.


“Kamu nanti yang pidato mewakili aku.” ucap Pak Jemari ganti mendorong tubuh Marginah.


“Aku sekarang saja sudah deg deg an Pak, apalagi nanti kalau dilihat teman teman dan Ibu Sari.” ucap Marginah tidak bergerak meskipun didorong Bapaknya.


“Ha yo podo, sama saja aku juga sudah deg degan wel welan.” ucap Pak Jemari yang telapak tangannya sudah dingin gemetaran.


Anak anak yang lain menoleh menatap Nesya dan tempat berdirinya Marginah dan Pak Jemari. Nesya terus berteriak memanggil Pak Jemari dan Marginah agar naik ke atas panggung. Saat dia masih berdiri terpaku, Angga dan Mas Budi berjalan masuk pintu aula mereka berdua membawa gitar di masing masing tangannya.


“Kok malah bengong di sini, ayo masuk.” ucap Angga saat melihat Pak Jemari dan Marginah masih berdiri terpaku di dekat pintu masuk aula. Angga dan Mas Budi terus berjalan dan mereka berdua lalu duduk di kursi yang ada di aula. Mereka berdua duduk berdekatan dan terlihat sibuk mencoba bermain gitar seperti sedang menyetel sinar gitarnya.


Nesya yang gagal memanggil Pak Jemari dan Marginah lalu turun dari panggung dan berjalan mendekat ke tempat duduk Angga dan Mas Budi.


“Mas, Nga itu Pak Jemari dan Marginah malah ketakutan dengan acara nanti malam.” ucap Nesya sambil menarik salah satu kursi dan duduk di dekat mereka berdua. Angga dan Mas Budi yang mendengar ucapan Nesya lalu menghentikan kegiatannya.


“Takut?” tanya Angga dengan wajah heran, heran karena akan ada acara untuk bersenang senang kok takut.


“Iya takut kalau disuruh pidato.” ucap Nesya dengan serius.


“Pidato apa sih? Pidato kepresidenan kik... kik... kik...” ucap Angga lalu tertawa kecil. Dan selanjutnya dia bangkit berdiri dan berjalan menuju ke tempat Pak Jemari dan Marginah berdiri .


“Ayo Pak, Nah.. duduk di kursi apa mau ikut latihan nyanyi. Tidak usah mikir pidato kepresidenan.” ucap Angga sambil menarik tangan Pak Jemari dan Marginah.


“Pidato kepresidenan apa, aku itu bener lagi mikir harus omong apa saat pidato perpisahan nanti.” gumam Pak Jemari yang didengar oleh Angga.


“Siapa yang bilang Pak Jemari harus pidato?” tanya Mas Budi saat Pak Jemari sudah duduk di kursi dekatnya. Pak Jemari dan Marginah menatap Nesya.


“Iya kan Mbak ada acara sambutan dari Pak Jemari?” teriak Nesya sambil menoleh ke arah Mawarni. Mawarni menganggukkan kepala.


“Iya setelah sambutan Ibu Sari.” teriak Mawarni kemudian. Pak Jemari dan Marginah wajahnya semakin memucat saat mendengar jawaban dari Mawarni.


“Itu bukan pidato Pak. Pak Jemari boleh hanya bilang terimakasih saja sudah cukup. “ ucap Mas Budi. Marginah lalu berdiri dan selanjutnya berjalan menuju ke tempat duduk Mawarni.


“Mbak acara sambutan Bapakku harus omong apa. Aku dan Bapakku takut.” ucap Marginah sambil menatap Mawarni.


“Biasanya hanya bilang selamat malam, terus mengucapkan terimakasih, cerita tentang apa yang berkenan di hati selama di panti. Gitu Nah... Tidak usah takut kayak Pak Jemari waktu pamit di Ibu Sari itu cuma sekarang di hadapan banyak anak anak.” jawab Mawarni.


“Nih kamu tulis saja di sini, nanti biar bapakmu yang baca tidak usah banyak banyak.” ucap Mawarni sambil mengulurkan kertas dan bolpen kepada Marginah.


“Mbak Mawarni ajari aku dan Bapak ya.” ucap Marginah sambil menerima kertas dan bolpen. Mawarni menganggukkan kepala dia dengan senang hati akan mengajari Marginah. Marginah lalu memanggil Bapaknya agar mendekat. Setelah Pak Jemari mendekat Marginah menjelaskan pada Pak Jemari.


“Ya sudah kamu tulis, tulis yang besar besar agar nanti aku waktu baca tidak kesulitan.” ucap Pak Jemari terlihat senang dan setuju dengan saran Mawarni. Marginah lalu menulis diawali dengan ucapan salam dan terimakasih lalu menulis tentang hal hal yang berkenan di hati Pak Jemari, Pak Jemari omong banyak sekali tentang hal hal yang menarik di hatinya, mulai dari orang orang panti yang baik hati, mencoba naik becak, memanjat pohon rambutan, mendapat anak baru yaitu Nesya, kenalan dengan Angga dan seterusnya...


“Pak aku capek nulisnya, tidak usah ditulis saja, nanti Bapak omong begitu di panggung.” ucap Marginah sambil memberikan kertas itu kepada Bapaknya.


“Ya sudah sini, aku mau ke kamar saja, mau latihan pidato eh salah bukan pidato memberi kata sambutan.” ucap Pak Jemari sambil menerima kertas dari Marginah lalu dia akan pergi meninggalkan aula.


“Pak jangan banyak banyak ceritanya ya.. waktunya hanya lima belas menit.” teriak Mawarni. Pak Jemari menoleh dan menganggukan kepalanya.


“Terimakasih ya Mbak.” ucap Marginah.


“Iya Nah, di sini kita semua belajar. Aku dulu juga tidak bisa awalnya, saat pertama omong pakai mik suaraku bergetar getar telapak tangan dingin dan keluar keringat rasa rasanya mik yang aku pegang akan jatuh dari genggaman tanganku. Namun lama lama sudah biasa. Aku di sekolah kalau ada acara acara juga selalu jadi MC. Ada acara di balai desa juga kadang dipakai.” ucap Mawarni sambil menatap Marginah. Tampak Marginah juga sangat ingin seperti Mawarni bisa lancar omong di panggung.


“Aku diajari Mbak, aku juga pengen seperti Mbak Mawarni.” ucap Marginah.


“Ya sudah nanti kamu jadi MC sama aku. Ada acara acara seperti ini bisa untuk latihan kita Nah.” ucap Mawarni, dan Marginah yang ingin seperti Mawarni mengangguk setuju. Mereka berdua terlihat sibuk berbagi tugas dan lalu latihan. Nesya, Angga dan Mas Budi terlihat senang saat Marginah terlihat dengan Mawarni di atas panggung latihan menjadi MC.