
Ibu Sari dan Mas Budi terlihat tersenyum melihat Mbah Parjan yang masih gesit dengan gerakan jurus jurusnya.
“Kapan? Sekarang aku juga siap. Kamu naik motor aku bisa jalan kaki dengan jurus ilmu meringankan tubuh ha.... ha.....” ucap Mbah Parjan lalu dia kembali duduk di kursinya.
“Mbah kalau hari Minggu, bagaimana Mbah?” tanya Ibu Sari.
“Anak anak libur di hari Minggu.” ucap Ibu Sari selanjutnya.
“Baiklah. Minggu pagi pagi ya... Aku hari Sabtu sudah datang ke panti.” jawab Mbah Parjan dengan nada serius. Ibu Sari terlihat menganggukkan kepala tanda menyetujui. Tidak lama kemudian dari belakang muncul seorang perempuan tua sambil membawakan tiga gelas minuman. Lalu menaruh nampan berisi tiga gelas kopi itu di atas meja dan mempersilahkan Ibu Sari dan Mas Budi meminumnya.
“Ini istri saya, namanya Sumirah. Orang orang kalau memanggil Mbah Sum.” ucap Mbah Parjan memperkenalkan istrinya dan selanjutnya juga mempersilahkan Ibu Sari dan Mas Budi meminum kopinya.
“Kalau Mbah Parjan nanti ke panti, Mbah Sum sendiri di sini atau bagaimana?” tanya Ibu Sari yang kuatir jika Mbah Sum sendirian di rumah di tepi sungai dan di bawah bukit jauh dari tetangga.
“Ditinggal sendiri juga tidak apa apa. Ikut juga tidak apa apa. Ada kerabat yang tinggal di dekat panti. Dia juga kuat jalan kaki ke sana.” ucap Mbah Parjan sambil tersenyum menatap istrinya. Mbah Sum yang ditatap suaminya membalas dengan senyuman. Ibu Sari dan Mas Budi setelah menghabiskan kopinya lalu Ibu Sari pamit. Beliau mengucapkan banyak terimakasih kepada Mbah Parjan sekalian. Namun tiba tiba Mbah Sum berjalan setengah berlari menuju ke belakang. Gerakan Mbah Sum juga masih terlihat gesit meskipun juga sudah tidak muda lagi.
Ibu Sari dan Mas Budi berjalan keluar menuju ke sepeda motornya diikuti oleh Mbah Parjan. Sebelum Mas Budi memegang motornya. Mbah Sum terlihat di depan pintu sambil membawa satu tandan pisang yang sangat besar.
“Pak ini biar dibawa mereka.” teriak Mbah Sum pada suaminya. Mbah Parjan menoleh dan dengan segera dia melangkah menuju ke arah Mbah Sum dan membawa satu tandan pisang besar itu. Dan tidak lama kemudian Mbah Sum datang lagi sambil membawa satu kantong plastik besar yang terlihat berat dan tampak ada benda bergerak gerak di dalamnya.
“Ini ikan kali bisa untuk lauk anak anak. Mbah tadi yang menangkap. Enak ini ikannya gurih banget. Sudah dibawa saja tidak usah dibayar.” ucap Mbah Sum menyerahkan kantong plastik itu kepada Ibu Sari. Ibu Sari menerima semua pemberian itu dengan senang hati. Tidak lupa dia mengucapkan banyak terimakasih. Ibu Sari sangat terharu, benar yang dikatakan Mbah Parjan mungkin orang melihat kalau mereka adalah orang miskin kalau dilihat dari rumah dan kepemilikannya. Akan tetapi mereka kaya hatinya, karena sudah merasa bersyukur dengan segala yang dimilikinya, merasa berkecukupan hingga mampu memberikan apa yang sudah dimilikinya. Ibu Sari tersenyum menatap Mbah Parjan dan Mbah Sum secara bergantian. Mbah Parjan dan Mbah Sum membalas dengan senyum tulusnya. Namun tidak lama kemudian...
“Sungai di sini bersih, kalau ada yang berani mengotori atau nyetrum mengambil ikan ikan nya aku .... ciaaaaaat... ciaaaaaat....” ucap Mbah Parjan sambil kembali memperagakan gerakan jurusnya. Mbah Sum lalu dengan segera mendorong tubuh suaminya sambil tertawa. Ibu Sari dan Mas Budi pun ikut tertawa. Lalu mereka benar benar pamit pulang. Pisang satu tandan besar ditaruh di depan Mas Budi sedangkan satu kantong plastik besar berisi ikan ditaruh di belakang Mas Budi sambil dipegang oleh Ibu Sari. Beberapa kali Mas Budi dan Ibu Sari merasa geli karena gerakan gerakan ikan di dalam plastik itu.
Motor terus melaju menuju ke panti asuhan dan tidak lama kemudian motor memasuki halaman panti. Mas Budi menjalankan motornya menuju ke tempat di lorong yang untuk berjalan menuju belakang. Setelah motor berhenti Ibu Sari turun sambil membawa kantong plastik besar berisi ikan. Beberapa anak yang melihat kedatangan Ibu Sari dan Mas Budi, terlihat berlari menghampiri Ibu Sari dan Mas Budi, mereka lalu membawa kantong plastik besar berisi ikan itu dan menggotong satu tandan pisang besar itu secara bersama sama.
“Bu.... kita mau belajar ilmu bela diri ya?” teriak Marginah dan Nesya bersamaan lalu mereka berlari mendekat pada Ibu Sari. Ibu Sari terlihat menganggukkan kepala sambil tersenyum. Sedangkan Mas Budi menjalankan motornya menuju ke tempat parkir.
“Ibu Sari dari Mbah Parjan ya?” tanya Nesya sambil membuntuti langkah Ibu Sari, Marginah juga berjalan di dekatnya.
“Iya kamu kok tahu.” Ucap Ibu Sari sambil membuka pintu ruangannya.
Teman terakhir yang akan diberi tahu adalah Angga. Angga kalau malam tidur bersama teman teman panti. Tetapi kalau siang dan sore dia masih sering di kamar tamu untuk bercengkerama dengan Pak Jemari atau menghubungi Papinya lewat hapenya.
TOK... TOK....TOK...TOK..
TOK...TOK...TOK...TOK...
Marginah mengetuk pintu dengan sangat keras. Karena tidak sabar memberikan kabar bahagia kepada Angga.
“Siapa sih mengutuk pintu keras keras.” ucap Pak Jemari lalu berjalan membuka pintu.
“Opo toh Nah, apa Makmu telpon ke kamu pengen omong dengan aku, sudah kangen sudah rindu sampai ubun ubun.” ucap Pak Jemari saat membuka pintu dan melihat Marginah ada di depannya sedang Nesya berada di belakang Marginah.
“Mak sudah bawa uang sepuluh juta damai tenang hatinya tidak rindu pada Bapak he.. he... “ ucap Marginah sambil tertawa lalu ditabok pundaknya oleh Pak Jemari.
“Angga....” teriak Marginah dan Nesya karena terlihat Angga tidak menghiraukan kehadiran mereka berdua. Terlihat Angga masih asyik dengan lap topnya.
“Apa.” jawab Angga dingin karena masih sibuk dengan lap topnya.
“Angga lihat sini to!” teriak Marginah karena Angga pandangan matanya sejak tadi fokus ke layar lap topnya.
“Apa.” ucap Angga menoleh sekilas lalu kembali lagi menatap layar lap topnya.
“Hari Minggu pagi kita ada latihan ilmu bela diri.” teriak Marginah. Angga langsung menatap ke arah Marginah demikian juga Pak Jemari.
“Yang bener?” tanya Angga dengan nada tidak percaya.
“Benar. Kalau tidak percaya sana tanya Mas Budi. Tadi dia habis mengantar Ibu Sari ke rumah orang yang mau melatih. Ibu Sari dikasih pisang satu tandan besar dan ikan satu plastik besar. Nanti malam kita makan lauk ikan goreng....he...he...” jawab Marginah panjang lebar dengan mata yang berbinar binar karena senang akan belajar ilmu bela diri dan senang nanti malam makan dengan lauk ikan goreng. Mendengar jawaban Marginah mata Pak Jemari dan Angga pun ikut berbinar binar senang.