MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 58. Ibu Sang Bayi


“Bu.. Bu.. Bu Sari ada Bapak Polisi dan seorang perempuan, mungkin Ibunya Abi, Bu.” teriak anak yang tadi berlari saat sudah menemukan Ibu Sari di ruang makan yang sedang menyiapkan snack sore.


“Wah jangan jangan mau mengambil Abi.” ucap anak panti yang sedang membantu Ibu Sari.


“Ibu temui mereka dahulu.” ucap Ibu Sari lalu berjalan meninggalkan ruang makan menuju ke ruang tamu. Ibu Sari berjalan dengan cepat melewati koridor yang lumayan panjang itu.


Sementara itu berita kedatangan Pak Polisi dengan membawa seorang perempuan sudah tersebar di seluruh penghuni panti. Marginah, Nesya dan Mas Budi pun lalu berlari menuju ke ruang tamu.


Tidak lama kemudian Ibu Sari sudah berada di depan pintu ruang tamu, ada dua anak yang masih berdiri di depan ruang tamu itu. Ibu Sari lalu menyuruh dua anak itu untuk ke ruang makan dan membuatkan minuman buat para tamu.


“Selamat sore Bu.” sapa Pak Polisi saat Ibu Sari sudah masuk ke dalam ruang tamu. Ibu Sari menjawab salam kedua Baoak Polisi itu lalu menjabat tangan ketiga tamu itu dan selanjutnya Ibu Sari duduk di salah satu kursi tamu itu.


“Bu Sari, ini Ibu Narimah perempuan yang selama ini Mas Budi cari, dia sudah mengaku yang membuang bayi itu.” ucap salah satu Bapak Polisi itu. Perempuan itu lalu bangkit dari tempat duduknya dan bersimpuh di kaki Ibu Sari.


“Bu, maafkan saya Bu... maaf Bu tolong jangan penjarakan saya Bu, saya mengakui salah Bu... hiks... hiks.. “ ucap perempuan itu sambil menangis terisak isak sambil memegang kaki Ibu Sari.


“Bu, siahkan berdiri jangan seperti ini, hanya Allah yang layak untuk tempat bersimpuh dan bersujud.” ucap Ibu Sari lalu menarik tubuh perempuan itu agar berdiri dan kembali duduk di kursi. Perempuan itu lalu kembali duduk di kursinya lagi namun kepala menunduk sangat rendah sambil tangannya selalu menghapus air mata yang berderai.


Anak anak terlihat banyak yang menonton di depan pintu. Tidak lama kemudian Marginah, Nesya dan Mas Budi menghambur ikut masuk ke dalam ruangan menerjang anak anak panti yang berdiri di depan pintu.


“Bu, Abi biar tetap di sini jangan boleh dibawa pergi Bu.” teriak Nesya sambil berjalan masuk.


“Iya Bu, jangan boleh Abi dibawa kan dia sudah membuangnya dan kita yang sudah nemu Abi.” ucap Marginah membantu Nesya, bagaimanapun Marginah tidak mau jika disalahkan oleh Nesya karena sudah membujuk memberi keterangan pada Pak Polisi. Perempuan itu mendengar permintaan Marginah dan Nesya malah semakin keras dalam menangis. Hal ini dikira Nesya perempuan itu tidak ingin anaknya diminta Marginah dan Nesya. Padahal dia semakin sedih menangisi dan menyesali dirinya.


“Ibu itu sudah membuang Abi sembarangan untung segera kami temu, kalau tidak bisa dicabik cabik hewan liar.” teriak Nesya sambil menatap tajam wajah perempuan itu.


“Nes.” ucap Ibu Sari sambil menarik tubuh Nesya lalu dipangkunya tubuh Nesya. Agar Nesya tidak terbakar emosinya.


“Abi akan tetap di sini, tapi tolong anak anak meninggalkan ruang tamu ini. Kami ingin membicarakan hal serius pada Ibu Sari yang belum layak didengar anak anak.” ucap salah seorang Bapak Polisi itu sambil menatap wajah Marginah dan Nesya.


“Nesya, Marginah dan anak anak lain, ke ruang makan sana jadwalnya kan snack sore.” Ucap Ibu Sari sambil menepuk nepuk pundak Nesya yang masih duduk di pengakuannya sambil menoleh ke arah pintu karena anak anak masih berdiri di depan pintu termasuk Angga dan Fikri ada di antara meraka.


“Kalau Abi diambil ibunya itu gara gara kamu dan Angga yang membujuk aku kasih keterangan ke bapak Polisi. Bener kan akhirnya pak polisi menemukan perempuan itu dan akan membawa Abi.” ucap Nesya sambil berjalan di samping Marginah


“Bukannya Pak Polisi bikang Abi tetap di sini. Aku kepo nih mereka mau bicara apa ya.. Aku mau menguping tetapi takut.” ucap Marginah


“Mbah Parjan kok belum mengajarkan bagaimana cara mendengarkan jarak jauh ya.. “ gumam Marginah sambil terus berjalan


“Aku sedang bicara serius Nah kamu malah mengkhayal.” Ucap Nesya sambil cemberut bibirnya, mereka berdua terus berjalan menuju ke ruang makan.


Sementara itu di ruang tamu Bapak Polisi menatap tajam ke arah perempuan itu yang masih menangis terisak isak.


“Sudah nangis nya, sekarang ceritakan pada Ibu Sari.” ucap salah satu Bapak Polisi itu kemudian.


“Bu, biar Ibu ini bercerita sendiri di depan Ibu Sari.” ucap Bapak Polisi itu lagi.


“Bu, diminum dulu teh hangatnya agar lebih tenang.” ucap Ibu Sari yang merasa tidak tega karena perempuan itu masih terisak isak menangis disuruh berhenti dan bercerita. Perempuan itu lalu menganggukkan kepala, dia pelan pelan mengambil gelas teh hangat itu lalu meminumnya.


“Bu, sekali lagi maafkan saya, saya benar benar mengakui kesalahan saya, saya menyesal hiks...hiks...” ucap perempuan itu setelah menaruh gelas di atas meja lagi.


“Semua ini saya lakukan karena saya sangat terpaksa Bu, saya bingung sungguh sangat bingung.. saat itu bahkan saya sudah berniat akan bunuh diri dengan anak saya itu, saya akan menabrakkan diri saya dengan anak saya di dekat terminal. Tetapi ada tukang ojek yang menarik tangan saya. Terus dia menanyakan nanya ke saya karena memang saya tampak bingung saat itu, terus dia yang menyarankan saya untuk menitipkan anak saya. Tetapi saat sampai di panti saya takut kalau nanti disuruh bayar dan ditanyai data data anak saya saya takut Bu... hiks... hiks...” ucap perempuan itu lalu terhenti karena dia menangis lagi sambil mengusap air matanya. Ibu Sari dengan sabar menunggu.


“Saya tidak punya uang dan...”


“Dan anak saya itu hiks....hiks... “ ucap perempuan itu dan terhenti lagi ceritanya. Ibu Sari menduga jika Abi tidak jelas bapaknya karena perempuan tadi bilang takut kalau ditanya data data anaknya. Mas Budi terlihat wajahnya juga terlihat kaku, dia berpikir apa sejak lahir memang orang tuanya bingung dengan data data hingga dia ditaruh begitu saja.


“Dan anak ibu kenapa?” tanya Mas Budi sambil menatap perempuan itu yang masih terisak isak menangis. Mas Budi benar benar sudah tidak sabar menanti keterangan dari perempuan itu.


“Apa Abi tidak ada bapaknya?” tanya Mas Budi selanjutnya karena perempuan itu belum juga melanjutkan ceritanya masih sesenggukan menangis. Perempuan itu menjawab pertanyaan Mas Budi dengan menggeleng gelengkan kepalanya sambil masih terus terisak isak. Sementara Ibu Sari masih dengan sabar menunggu, Ibu Sari menyuruh perempuan itu meminum lagi teh hangatnya.