
Beberapa hari kemudian, mobil yang dinanti nanti datang. Mobil diantar oleh sopirnya Papinya Angga yang dulu mengantar Angga. Anak anak yang sudah mendengar informasi panti mereka akan mendapatkan bantuan sebuah mobil mereka semua berhembur keluar untuk menyambut kedatangan mobil.
“Pak, mobilnya sudah datang.” teriak Angga pada Pak Jemari saat mereka berdua sedang berada di dapur belakang.
“Ayo kita ke sana.” teriak Angga lagi sambil berjalan menuju ke kran air untuk mencuci tangan, dia tidak mau mukanya terkena jelaga lagi. Pak Jemaripun mengikuti langkah kaki Angga. Tidak lama kemudian mereka berdua sudah sampai di halaman panti. Tampak anak anak sudah mengerumuni mobil bahkan sudah ada beberapa anak yang naik ke atas mobil. Angga tersenyum bahagia sekaligus terharu. Tidak menyangka teman temannya sangat amat bahagia mendapatkan mobil bak bekas dari Papinya. Angga melihat mobil itu sudah dimodifikasi di sisi samping kiri kanan sudah diberi pembatas oleh besi besi baja, mungkin demi keamanan kalau anak anak berada di belakang.
Angga dan Pak Jemari terus berjalan mendekat. Anak anak yang lain pun berteriak teriak memanggil Angga agar segera mendekat.
“Wah masih bagus Mas.” ucap Pak Jemari yang berjalan di samping Angga mereka terus mendekat dan tidak lama kemudian mereka sudah berada di dekat mobil itu.
“Wah ada bangkunya Mas.” teriak Pak Jemari saat melihat di dalam bak mobil juga ada bangku kayak bangku di mobil angkot. Pak Jemari pun langsung naik ke atas bak mobil itu dan duduk di bangku bersama anak anak yang lain.
“Ayo Mas ikut naik.” teriak Pak Jemari, namun sesaat Ibu Sari yang sedang berdiri di depan pintu ruang tamu juga berteriak memanggil nama Angga. Angga menoleh ke arah suara Ibu Sari dan terlihat Ibu Sari melambaikan tangannya sebagai kode agar Angga mendekat ke arah Ibu Sari. Angga lalu berlari menuju ke ruang tamu.
“Tuan Muda” teriak Pak Sopir sambil bangkit berdiri saat melihat Angga sudah berdiri di pintu ruang tamu.
“Jangan panggil tuan muda Pak, panggil Mas Angga saja he... he...” ucap Angga sambil berjalan mendekat. Pak Sopir tersenyum terharu melihat Angga. Pak Sopir merasa kasihan dengan nasib Angga yang harus tinggal di panti namun dia juga merasa senang dengan perubahan yang terjadi wajah Angga kini terlihat tidak murung lagi.
“Bagaimana kabar Tuan... eh Mas Angga?” ucap Pak Sopir sambil menjabat tangan Angga.
“Beginilah Pak, seperti yang kamu lihat he... he... senang di sini banyak temannya.” Jawab Angga sambil tertawa kecil. Pak Sopir lalu menyampaikan pada Angga dan Ibu Sari tentang mobilnya yang sudah dibuat aman jika anak anak duduk di atas bak, mesin juga bagus bagus. Pak Sopir juga menyampaikan nanti kalau saatnya melakukan service ada bengkel yang akan datang ke panti. Pak Sopir menyerahkan surat surat dan nomor bengkel yang akan siap datang jika dibutuhkan. Semua itu dilakukan Pak Sopir atas perintah Papinya Angga. Setelah Pak Sopir menyampaikan semuanya lalu dia pamit pulang. Pak Sopir akan pulang dengan transport umum, dia diantar oleh Mas Budi sampai ke tepi jalan raya, di depan toko mekar.
Sementara itu Ibu Sari dan Angga berjalan menuju ke mobil. Ibu Sari membuka pintu kemudi lalu mencoba menyalakan mesin. Saat mesin mobil sudah mulai menyala anak anak bersorak senang.
“Ayo Bu, kita coba mobilnya.” teriak Pak Jemari yang masih duduk di bak.
“Ayo Nga naik.” ajak Ibu Sari sambil menoleh menatap Angga yang berdiri di dekatnya. Angga lalu berlari mengitari mobil lewat depan lalu dia membuka pintu mobil dia duduk di samping Ibu Sari. Ada beberapa anak yang turut naik di bak belakang. Ibu Sari lalu pelan pelan menjalankan mobil keluar dari halaman panti. Anak anak yang berada di dalam bak bersorak sorak demikian juga anak anak yang masih berdiri di halaman mereka bersorak sorak dan saling melambaikan tangan.
“Dulu Ibu juga punya mobil Nga, tapi saat panti kesulitan uang mobil Ibu jual.” ucap Ibu Sari. Ibu Sari terus menjalankan mobilnya, namun hanya melewati jalan yang memutari panti. Kini mobil sudah sampai di pintu masuk halaman panti, mobil sudah memasuki halaman panti lagi. Anak anak yang masih berdiri menunggu bersorak sorak lagi.
“Bu.. kurang.” teriak Pak Jemari dan anak anak yang berada di atas bak mobil. Sementara Ibu Sari sudah mematikan mesin mobilnya dan beliau turun dari mobil. Anggapun juga turun dari mobil.
“Sekarang kalian belajar, nanti sore kita lihat pasar malam di lapangan.” teriak Ibu Sari. Anak anak sangat senang mereka semua lalu berhembur menuju ke ruang perpustakaan untuk segera belajar agar nanti sore bisa ikut ke pasar malam yang sedang diadakan di lapangan desa.
Sore hari yang dinanti nanti pun tiba. Anak anak sudah mandi dan bersiap akan pergi ke pasar malam. Hiburan rakyat yang sangat disukai oleh anak anak panti. Sedangkan Angga baru kali ini akan melihat pasar malam di lapangan desa. Kalau Marginah sudah sering melihat pasar malam di desanya. Dia juga sangat senang jika ada pasar malam.
“Nga nanti hati hati bawa dompet dan hapemu kadang banyak copet di pasar malam. Bawa uang sedikit saja yang penting bisa buat jajan dan naik komedi putar.” ucap Marginah saat Angga sudah berpakaian rapi berjalan mendekat pada anak anak yang lain yang sudah berdiri di halaman menunggu Ibu Sari.
“Iya ini kutaruh di dalam tas, tas nanti aku taruh depan.” ucap Angga sambil menarik tas slempangnya ditaruh di depan badannya. Tidak lama kemudian Pak Jemari juga berjalan mendekat dia juga berpakaian rapi, rambutnya pun disisir rapi tidak lupa dia meminta jelly rambut milik Angga.
“Kita berangkat sebagian dulu ya. Marginah, Nesya dan Angga belakangan saja.” ucap Ibu Sari yang datang mendekati mobil. Beberapa anak lalu naik ke atas bak termasuk Pak Jemari dia ingin berangkat kloter pertama. Fatima bersama Nita sudah duduk di depan di samping Ibu Sari. Tidak lama kemudian mobil berjalan keluar halaman menuju ke lapangan desa tempat pasar malam diadakan.
“Fat, tunggu di sini ya lihat adik adiknya jangan boleh pergi pergi dulu. Pak Jemari juga jangan pergi pergi. Nanti semakin lama semakin banyak orang.” ucap Ibu Sari saat menurunkan mereka di tepi lapangan di bawah pohon beringin. Fatima dan Pak Jemari menganggukkan kepalanya. Ibu Sari lalu menjalankan lagi mobilnya untuk mengambil anak anak yang lain.
Beberapa menit kemudian Ibu Sari sudah sampai di panti lagi, Marginah dan teman temannya sangat senang mereka lalu segera naik ke atas mobil. Kali ini Nesya dan Vani yang duduk di samping Ibu Sari. Sedangkan Mas Budi dengan tiga anak lainnya tidak ikut serta mereka bertugas menjaga panti. Mobil terus berjalan meninggalkan panti dan tidak lama kemudian mobil sudah sampai di lapangan. Ibu Sari menghentikan mobil di bawah pohon beringin terlihat Fatima dan lainnya masih setia duduk di bawah pohon beringin. Anak anak yang ikut kloter kedua langsung turun dari mobil dan bergabung dengan rombongan kloter kedua. Ibu Sari lalu memarkir mobilnya dan selanjutnya beliau turun dari mobil. Ibu Sari lalu berjalan mendekat ke rombongan anak anak yang dia bawa.
“Fatima dan Mawarni awasi adik adiknya ya. Nanti kita kumpul lagi di sini jam delapan. Kalian boleh jajan untuk makan malam dengan uang saku yang sudah Ibu kasih tadi.” ucap Ibu Sari sambil menatap anak anak. Namun tiba tiba Ibu Sari kaget karena tidak melihat Pak Jemari.
“Fat dimana Pak Jemari?” tanya Ibu Sari sambil menatap ke arah Fatima.
“Tadi ada di sini Bu..” jawab Fatima namun dia juga kaget saat tidak melihat sosok Pak Jemari. Marginah juga terlihat panik saat tidak melihat sosok Bapaknya berada di dalam rombongan, sementara semakin banyak orang berduyun duyun datang ke pasar malam.