MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 22. Bersyukur


Angga lalu terdiam dari tawanya. Dia lalu duduk di tempat tidurnya.


“Pak, aku tidak menyangka di batas waktu ada donor yang cocok. Papi jadi tidak perlu mendonorkan ginjalnya buat Oma. Benar benar tidak menyangka Pak, di detik detik terakhir ada donor buat ginjal Oma. Aku kira sudah tidak ada dan Papi yang akan menjadi donor.” ucap Angga sambil melihat Pak Jemari yang masih tidur tengkurap.


“Itulah Mas yang namanya mujijat, keajaiban dari Allah buat umat yang percaya kepada Nya kadang datangnya tidak kita duga. Tetapi tetap ada yang namanya mujijat itu Mas.” ucap Pak Jemari yang sudah mengubah posisi tubuhnya. Dan kini dia sudah duduk di samping Angga.


“Oma dan Papinya Mas Angga orang baik sering membantu orang orang yang membutuhkan, Allah akan memberi bantuan juga saat Oma dan Papi mendapat ujian dan godaan.” ucap Pak Jemari swlanjutnya dia teringat baru saja Papinya Angga memberi banyak komputer untuk anak anak panti dan mereka merasa senang sekali. Apa mungkin karena itu lalu Allah memberi ganti dengan menghadirkan orang yang cocok untuk menjadi donor ginjal Oma.


“Godaan Papi sangat banyak Pak. He.. he... Papi tidak berani dengan istrinya. Dua kali punya istri selalu kalah dari isterinya.” ucap Angga sambil tertawa kecil mengingat ulah kedua Maminya untuk dirinya


“Mungkin tidak kalah Mas, tetapi mengalah he... he... Mas Angga sebagai anaknya harus selalu mendoakan orang tua termasuk kepada Mami Mas Angga. Jangan dendam ya, itu tidak baik, tidak suka oleh Allah. Sabar ya Mas, bersyukur Oma dan Papi sayang dan bertanggung jawab pada Mas Angga dan dilimpahi banyak rejeki.”


“Iya Pak, aku akan mencobanya. Sekarang yang penting kesehatan Oma dan Papi.” ucap Angga. Pak Jemari lalu bangkit dari duduknya dan berjalan menuju ke tempat tidurnya untuk melanjutkan tidurnya. Sementara Angga berdoa lagi mengucapkan syukur dan memohon agar operasi Oma berjalan lancar.


Di kamar lain, Marginah tidak bisa tidur memikirkan nasib Angga dan Nesya. Marginah membolak balikkan tubuhnya di tempat tidur. Matanya terpejam tetapi pikirannya kemana mana.


“Kasihan Angga, Ibunya sendiri tidak mau menerima anaknya, apalagi Ibu Tirinya. Oma yang mengurus dan mencurahkan kasih sayang juga sedang sakit kritis. Papinya juga harus menjadi donor ginjal karena tidak ada pendonor.” otak Marginah berputar putar mengingat ingat cerita Angga tadi di ruang perpustakaan. Dan tiba tiba Marginah merasa kuatir.


“Kalau terjadi sesuatu yang buruk, berarti dana untuk panti berkurang. Kalau dana buat panti berkurang anak anak yang kurang mampu kesulitan meneruskan sekolah. Ibu Sari harus lebih giat mencari bantuan. Semoga Oma dan Papinya Angga diberi kesehatan ya Allah.” gumam Marginah dalam hati. Marginah lalu membalikkan tubuhnya menghadap ke arah temoat tidur Nesya. Dilihatnya Nesya juga membolak balikkan tubuhnya.


“Nesya sepertinya juga tidak bisa tidur, dia memikirkan Angga apa sedang rindu dengan Ibunya ya...” gumam Marginah dalam hati sesaat dia membuka matanya dilihatnya ada air mata di pipi Nesya.


“Nes, kamu kenapa?” tanya Marginah dengan suara yang lirih agar tidak mengganggu tidur teman teman yang lainnya. Pertanyaan Marginah malah membuat Nesya terisak isak sambil menggelengkan kepalanya.


“Nes, kamu kangen Ibumu? Besok saja kamu huhungi Ibumu..” suara Marginah dengan pelan. Nesya terlihat menganggukkan kepalanya. Dilihatnya Nesya menghapus air matanya.


“Ayo tidur Nes, besok saja hubungi Ibumu.” ucap Marginah selanjutnya sambil menutup selimut sampai ke ujung kepalanya. Marginah mensyukuri nasibnya yang mempunyai kedua orang tua yang menyayanginya. Marginah lalu sudah terlelap dalam mimpinya.


“Mas... Mas Budi, Angga ilang lagi.” teriak Pak Jemari sambil mengetuk ngetuk pintu kamar Mas Budi. Tidak lama kemudian pintu kamar Mas Budi terbuka.


“Hilang gimana Pak, sedang mandi mungkin nanti kan anak anak sudah mulai sekolah.” ucap Mas Budi


“Nah itu, kalau sudah mulai sekolah kan harusnya sudah mandi atau menyiapkan buku buku untuk sekolah ini di kamar tidak ada di kamar mandi juga tidak ada. Di ruang doa juga sudah tidak ada, di perpustakaan apalagi masih terkunci rapat. Ayo kita cari.” ucap Pak Jemari sambil menarik tangan Mas Budi. Mas Budi mau tak mau menuruti ajakan Pak Jemari yang memaksanya. Mereka berdua lalu berjalan di sekitar area Panti.


“Mas Angga... Mas Angga....” teriak Pak Jemari. Anak anak yang mendengar teriakan Pak Jemari bertanya pada Pak Jemari lalu ikut mencari Angga. Ibu Sari yang mendengar hanya menyuruh mereka mencari Angga sampai ketemu. Sesaat mereka berjalan menuju ke dapur kotor yang berada di bagian paling belakang panti.


“Hai kenapa kalian berteriak teriak memanggil namaku.” ucap Angga ke luar dari dapur kotor. Pak Jemari yang melihat Angga malah tertawa terbahak bahak melihat Angga. Mas Budi dan anak anak yang lain ingin juga tertawa tetapi takut Angga marah seperti saat pertama kali dulu dia datang menggebrak meja.


“Ha.... ha... ha... Mas Angga sedang apa di situ, ayo ke kamar lihat wajah Mas Angga di cermin.” ucap Pak Jemari


“Memang kenapa, saya sedang belajar memasak air dan nasi dengan kelompok kerja.” jawab Angga di panti memang air dan nasi dimasak pakai kayu bakar agar lebih cepat dan bisa memasak dalam jumlah besar,.juga menghemat bahan bakar gas. Sebab banyak ranting ranting kayu yang bisa digunakan.


“Itu Nga wajahmu hitam hitam dan rambutmu kotor sekali.” ucap Marginah.


“Ha?” gumam Angga lalu mengusap wajahnya dengan tangannya namun tidak menjadi bersih malah semakin banyak noda hitam di wajahnya.


“Jangan diusap usap lihat tanganmu itu.” teriak Pak Jemari, Angga lalu melihat telapak tangannya. Saat melihat tangannya penuh dengan warna hitam jelata, dia lalu berlari menuju ke kamarnya. Pak Jemari dan Marginah tertawa yang lain hanya menahan tawanya lalu mereka bubar kembali pada kegiatannya masing masing.


Sesampai di kamar Angga langsung mandi dan keramas untuk membersihkan seluruh tubuhnya dari kotoran abu dan jelaga kayu bakar. Setelah selesai dia tampak tersenyum malu malu pada Pak Jemari namun hatinya senang. Senang karena kabar bahagia adanya donor buat ginjal Oma dan senang karena dia sudah bisa bergabung dengan kelompok kerjanya. Dia merasakan teman teman kelompoknya sangat baik dan perhatian padanya.


“Pak, nanti malam saya akan mencoba tidur di kamar bersama kelompok saya Pak.” ucap Angga sambil menyiapkan buku buku yang akan dibawa ke sekolah. Pak Jemari menjawab dengan senyuman dan anggukan kepala. Pak Jemari bersyukur Angga akhirnya sudah bisa berbaur dengan anak anak panti lainnya.


“Pak Jemari nanti tidur sendiri di kamar ini ya Pak.” ucap Angga selanjutnya. Pak Jemari hanya diam saja. Dia kuatir jika tidur sendirian di kamar tamu ini lampunya akan berulah lagi.