MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 38. Semangat Belajar


“Aku kok tidak diajak sih kalau mau ke kebun obat obatan. Bapak itu kan tahu kalau aku pengen jadi dokter pengen mengobati orang sakit kok mau melihat tanaman obat obatan aku tidak diajak.” teriak Marginah sambil berkacak pinggang menatap Bapaknya lalu menatap Angga, akan tetapi dia tidak ada nyali untuk menatap Mbah Parjan.


“Lha Bapak tidak tahu kalau kalau mau ke kebun tanaman obat. Yang Bapak tahu mau ke warung sate he... he...” ucap Pak Jemari sambil tertawa.


“Lagian kamu kan mau jadi dokter obatnya obat apotik dan pakai jarum suntik bukan pakai jamu jamuan.” ucap Pak Jemari lagi, kemudian mereka terus berjalan menuju ke belakang sambil membawa apa yang dibawa dari kebun.


“Aku pikir itu bagus untuk dikombinasikan Bapak.” ucap Marginah, dan ketiga orang yang mendengar ucapan Marginah tampak mengangguk anggukan kepalanya menyetujui ucapan Marginah.


“Ya sudah ayo lihat tanaman tanamannya kita akan tanam di kebun belakang dekat dapur belakang.” ucap Angga sambil menunjukkan banyak anakan tanaman yang dia bawa. Sambil terus berjalan.


“Iya, nih Bapak bawakan ayam bakar.” ucap Pak Jemari pada Marginah sambil menunjukkan sisa makanan yang dibawa dari kebun. Marginah tampak tersenyum senang.


“Jangan suka kesal dan marah marah ya... harus sabar tanya baik baik, apalagi sama orang tua.” ucap Mbah Parjan sambil menepuk nepuk bahu Marginah.


“Iya Mbah... maaf aku tadi emosi jiwa he.. he...” ucap Marginah.


“Minta maaf sama Bapakmu itu.” ucap Mbah Parjan lalu Marginah sambil berjalan memeluk pinggang Bapaknya dari samping.


“Maaf ya Pak.” ucap Marginah sambil menoleh menatap Pak Jemari. Pak Jemari lalu mengelus ngelus kepala anaknya. Mereka kini sudah sampai di kebun belakang di dekat dapur. Mereka semua jongkok di kebun sambil memilah milah tanaman.


“Kok tidak ditanam di kebun rambutan?” tanya Marginah.


“Di sini dulu, yang dekat mudah merawatnya, nanti kalau sudah banyak dan musim hujan baru kita pencarkan di sana.” jawab Mbah Parjan. Mereka berempat terus menanam. Marginah sibuk bertanya tentang nama tanaman dan manfaatnya.


“Nanti kita lihat di perpustakaan Nah. Aku mau istirahat dulu. Nanti kan latihan bela diri lagi. Masih ada waktu beberapa menit untuk istirahat.” ucap Angga lalu dia bangkit berdiri dan membersihkan tangan dan kakinya di kran air di dekat dapur. Sedangkan Mbah Parjan dan Pak Jemari sudah lebih dulu meninggalkan mereka.


“Nga kamu kok juga jadi semangat belajar tentang obat obatan apa kamu juga ingin jadi dokter?” tanya Marginah saat juga mencuci tangannya.


“Tidak aku belajar buat Oma dan Opa. Kata Mbah Parjan kalau kita belajar sesuai kebutuhan kita jadi semangat.” ucap Angga sambil tersenyum lalu berjalan meninggalkan Marginah.


“Hmmm dia dapat banyak ilmu dari Mbah Parjan. Tapi benar juga ya, kalau belajar sesuai kebutuhan kita jadi semangat. Kita butuh melindungi diri kita, jadi semangat belajar ilmu bela diri dari Mbah Parjan, Angga butuh untuk membantu kesehatan Omanya jadi semangat belajar tanaman obat. Aku butuh untuk membantu Bapak dan Mak.. Aku harus rajin belajar.” gumam Marginah lalu dia berjalan menuju ke kamarnya.


Sore hari setelah jam istirahat anak anak kembali mengikuti latihan bela diri dari Mbah Parjan. Marginah mengamati semua anak anak semangat mengikuti latihan termasuk Mas Budi dan bapaknya Pak Jemari. Dan yang terlihat paling semangat adalah Nesya, Angga dan tentunya dirinya. Gerakan gerakan mereka bertiga terlihat lebih lincah dan gesit dari yang lainnya. Mbah Parjan terlihat tersenyum senang.


Setelah selesai latihan Mbah Parjan mohon diri akan segera pulang ke rumahnya. Akan tetapi anak anak belum mengijinkan Mbah Parjan untuk pulang, mereka ingin Mbah Parjan pulang besok pagi saja bersama sama saat mereka semua pergi berangkat sekolah. Akhirnya Mbah Parjan mengabulkan keinginan anak anak.


“Bener Nah yang dibilang Mbah Parjan. Cocok informasinya. Keren ya Mbah Parjan. Dia itu hafal semua tanaman di kebunnya dan semua manfaatnya dia tahu.” ucap Angga sambil fokus pada layar monitor.


“Besok ajak aku ke sana ya.” ucap Marginah.


“Minggu depan Nah, sama Mbah Parjan saja. Itu kebun milik orang tua Mbah Parjan, bukan kebun milik umum, katanya kerabat Mbah Parjan yang datang ke kebun kalau butuh tanaman obat. Nanti kalau kita ke sana ada kerabat Mbah Parjan yang sedang di kebun kita dikira pencuri.” jawab Angga dan Marginah mengangguk paham. Setelah selesai belajar mereka pergi meninggalkan perpustakaan dan masing masing berjalan menuju ke kamarnya.


Angga terus berjalan menuju ke kamarnya saat melewati koridor yang menuju ke kamar. Tampak Mbah Parjan sedang berbincang bincang dengan Mas Budi dan Pak Jemari. Angga lalu turut berada di antara meraka akan tetapi saat baru sebentar Angga lalu segera meninggalkan mereka sebab Mbah Parjan sedang bercerita tentang makhluk halus.


“Lebih baik tidak usah ikut mendengar daripada tidak bisa tidur.” gumam Angga lalu segera menuju ke kamar. Saat di dalam kamar hapenya berdering. Angga lalu segera mengangkat karena Papinya yang menghubungi.


“Angga bagaimana kabarmu, kok belum menghubungi Papi hari ini. Apa kamu sakit atau banyak kegiatan?” ucap Papinya Angga saat Angga sudah menggeser tombol hijau. Angga lalu menceritakan semua kegiatan yang sudah dia lakukan hari ini juga cerita tentang Mbah Parjan. Papinya Angga sangat senang dengan semua kemajuan yang didapat dari Angga. Setelah mendengarkan cerita dari Angga, Papinya Angga lalu memberi tahu kalau Oma akan segera dioperasi. Angga sangat bahagia mendengar berita itu. Akan tetapi setelahnya Papinya Angga memberi pesan serius kepada Angga.


“Angga, kalau Mami menghubungimu dan marah marah tidak usah dimasukkan hati ya. Dia baru saja tahu kalau Papi mengirim komputer dan mobil ke panti, dia ngomel ngomel, kalau dia juga ngomel ngomel ke kamu tidak usah dihiraukan.” ucap Papinya Angga, sebab Mami tiri Angga tidak suka Papinya Angga sudah banyak membantu panti dimana Angga kini tinggal.


“Iya Pap maafin Angga gara gara Angga Papi dimarahi Tante Mami.” ucap Angga lirih. Dan tidak lama kemudian percakapan mereka lewat sambungan telepon berakhir.


Dan bersamaan dengan itu Pak Jemari dan Mbah Parjan masuk ke kamar tamu. Mereka berdua mendengar ucapan sedih Angga dengan Papinya lewat sambungan telpon. Pak Jemari menepuk nepuk pundak Angga pelan.


“Jangan sedih Angga, hadapi hidup dengan dengan senyuman jangan dengan kesedihan. Kalau ada berita sedih kita cari jalan keluarnya. Ada apa?” ucap Mbah Parjan sambil mengelus lembut kepala Angga. Usapan tangan Mbah Parjan itu bisa membuat kesedihan Angga pelan pelan menghilang.


“Mami marah karena Papi membantu panti.” jawab Angga. Mbah Parjan lalu tersenyum.


“Sudah tidak usah dipikir, yang marah kan orang salah. Ada orang membantu dan berbuat baik kok dimarahi.” ucap Mbah Parjan


“Iya Mas, paling itu Maminya iri.” saut Pak Jemari


“Iya Pak, Mbah, Papi juga bilang tidak usah dihiraukan. Dan... kabar gembiranya Oma sudah membaik kesehatannya besok mau dioperasi.” ucap Angga selanjutnya sambil memeluk Pak Jemari, Mbah Parjan lalu juga mendekat memeluk Angga.


Setelah selesai meluapkan kebahagiaannya Angga pamit akan pergi tidur ke kamar teman temannya. Mbah Parjan juga pamit akan tidur di kamar Mas Budi. Kini tinggal Pak Jemari yang berada di dalam kamar tamu itu.


“Kok jadi ingat cerita Mbah Parjan tadi. Tadi aku berani mendengarkan karena aku kira Mbah Parjan tidur di sini, eee malah tidur sama Mas Budi.” gumam Pak Jemari yang kini bulu kuduk sudah berdiri.