
Beberapa menit kemudian anak anak sudah selesai berdoa mereka keluar dari ruang doa dengan tertib. Ibu Sari terlihat setelah selesai berdoa mengambil tubuh Abi lalu digendongnya. Lalu beliau berdiri dan berjalan meninggalkan ruang doa. Mas Budi pun sudah terlihat keluar dari ruang doa.
Kini tinggal tiga orang yang masih berada di dalam ruang doa. Marginah yang sudah selesai berdoa belum berniat untuk keluar dari ruang doa, dia akan menunggu Emak. Marginah menoleh ke arah Emak Baru.
“Emak sakit?” tanya Marginah pelan karena melihat tubuh lesu dan wajah kusut Emak Baru.
“Iya mbak Nah, pusing kepala saya, entah kenapa..” jawab Emak yang kini memang merasakan kepalanya pusing.
“Ayo Mak, ke kamarku saja aku buatkan minuman jahe. Mungkin Emak masuk angin.” ucap Marginah dengan nada kuatir.
“Ayo Nes bantu Emak berdiri.” ucap Marginah selanjutnya.
Nesya dan Marginah lalu membantu Emak Baru berdiri mereka lalu mengandeng tangan Emak Baru untuk berjalan menuju ke kamar mereka.
“Emak sudah sejak tadi pusingnya?” tanya Marginah sambil membuka pintu kamarnya. Kini Marginah mengira Abi dibawa Ibu Sari karena Emak Baru sedang pusing.
“Emak tiduran dulu, aku buatkan minuman agar tidak pusing resep dari Mbah Parjan ya.” ucap Marginah
“Nes, kamu pijitin Emak Baru ya.” ucap Marginah lalu dengan gesit dia lari meninggalkan kamar untuk pergi ke dapur.
“Terima kasih ya kalian kan harus bersiap ke sekolah. “ ucap Emak pelan sedangkan Nesya sudah memijiti punggung Emak Baru. Nesya sangat senang mengerjakannya sebab dia membayangkan sedang memijiti Ibunya yang dia rindukan.
“Sudah mandi kok Mak, aku dan Marginah, tinggal ganti baju seragam terus makan pagi.” ucap Nesya karena memang mereka berdua sudah mandi sedangkan teman sekamar lainnya masih mandi.
“Aku yang harus membantu kalian malah merepotkan terus hiks...hiks....” ucap Emak merasa bersalah lalu terisak isak menangis.
“Emak jangan terlalu banyak memikirkan kami hidup saling membantu Mak.” ucap Nesya dan tidak lama kemudian Marginah sudah kembali dengan membawa satu gelas besar ramuan jamu resep mbah Parjan.
“Ayo Mak diminum ya.. ini enak lho pakai gula aren, yakin dech badan jadi segar pusing menghilang .” ucap Marginah sambil berjalan dan membawa satu gelas jamu.
“Kamu kok sudah persis kayak penjual jamu Nah.” ucap Nesya sambil masih memijit punggung Emak Baru.
“Ha... ha... ha... iya apalagi aku buat dengan penuh cinta pada Emak tersayang. Ayo Mak.” ucap Marginah sambil mengulurkan gelas jamu kepada Emak.
“Ini tidak bikin sakit ginjal misterius Mak.” ucap Marginah sambil tersenyum.
“Kalian anak anak baik dan pintar.” puji Emak lalu dia meminum.jamu yang sudah dibuatkan oleh Marginah.
“Hiks.. hiks.. Emak itu orang bodoh Abi sekarang dibawa Ibu Sari lagi karena Emak belum bisa dipercaya hiks... hiks...” ucap Emak sambil menangis. Marginah dan Nesya terlihat kaget.
“Memangnya Emak kenapa?” tanya Marginah dan Nesya secara bersamaan. Emak Lalu menceritakan kepada Marginah dan Nesya kalau akan membawa Abi ke kantor polisi tetapi Emak tidak menceritakan kalau dia takut dengan tamu donatur.
“Owalah Emak ... Emak itu juga salah karena mau membawa lari Abi ke tempat yang belum jelas. Kalau Pak Polisi tidak mau menerima Emak gimana hayo, atau nanti kalau Emak dibawa ke rumah nya Pak Polisi, malah istrinya marah marah dikira Emak selingkuhannya Pak Polisi terus Emak dikrues krues istrinya, weleh Mak tambah pusing, kasihan Abi harus dibawa kemana mana.. ngeri Mak.” komentar Marginah setelah Emak selesai bercerita.
“Makanya bener Ibu Sari kuatir terus Abi dibawa lagi.” saut Nesya.
“Terus Emak harus bagaimana, Emak memang bodoh tidak mikir sampai ke situ.” ucap Emak Baru
“Emak, nikmati saja tinggal di sini ikuti aturan di panti pasti senang Mak. Aku dulu awalnya juga takut takut tetapi semua orang baik baik dan Ibu Sari selalu berusaha mengatasi masalah kita.” ucap Marginah.
“Nurut sama Ibu Sari, Mak. Dulu pesan Nenek ku harus nurut pada pegawai panti he...he....” ucap Marginah lagi.
“Kalau Emak sudah tidak pusing lagi ikut bantu bantu di dapur kalau masih pusing istirahat saja, nanti periksa ke Ibu Perawat.” ucap Nesya yang sudah selesai memijit Emak Baru. Sementara teman teman yang lain sudah masuk ke dalam kamar terlihat Nita dan Vany juga sudsh masuk sehabis mandi.
“Sudah sudah segar.. terimakasih ya.. Emak bantu Nita dan Vany sini..” ucap Emak Baru lalu membantu Nita dan Vany untuk menyiapkan diri akan pergi ke sekolah. Marginah dan Nesya pun lalu bersiap siap untuk memakai baju seragamnya.
Tidak lama kemudian terdengar bunyi bel pertanda jam makan pagi. Mereka semua lalu segera berjalan meninggalkan kamar untuk menuju ke ruang makan. Tampak Marginah dan Nita menggandeng tangan Emak Baru.
“Emak pusing ya?” tanya Ibu Sari dengan nada kuatir saat berada di dekat Emak Baru di depan ruang makan.
“Sudah sembuh kok Bu, sudah dibuatkan jamu mbak Marginah dan dipijitin mbak Nesya.” jawab Emak Baru.
“Ooo syukurlah, ini Mak gendong Abi.” ucap Ibu Sari sambil menyerahkan Abi kepada Emak Baru, karena di samping beliau nanti harus mengantar anak anak beliau juga tidak tega apalagi setelah ada laporan dari Marginah kalau Emak sedang pusing. Ibu Sari mengira Emak pusing karena sedih tidak boleh membawa Abi.
“Boleh Bu?” tanya Emak Baru dengan wajah seakan tidak percaya. Ibu Sari menganggukkan kepalanya akan tetapi beliau sudah memberi tahu pada Mas Budi dan juga para pegawai di panti untuk mengawasi Emak Baru.
“Tapi jangan dibawa pergi ya.” ucap Ibu Sari sambil menaruh Abi di gendongan Emak Baru dan mengikat kain gendongan di punggung Emak Baru.
“Tidak Bu, tidak berani lagi.. takut saya nanti kalau dikira selingkuhan Pak Polisi terus saya dikrues krues sama istrinya.” ucap Emak yang memang benar benar takut, dia membayangkan jika istri majikannya tahu suaminya menghamilinya pasti istrinya juga akan marah dan mengkrues krues wajahnya.
Emak Baru sudah bertekat akan tinggal di panti saja. Nanti akan meminta pada Fatima atau Mawarni agar mencarikan baju baju panjang dan kerudung di lemari gudang baju, agar kalau ada tamu dia tinggal pakai cadar atau masker.
Ibu Sari yang mendengar ucapan Emak Baru terlihat mengeryitkan dahinya sementara Marginah yang lewat di sampingnya dan mendengarkan ucapan Emak Baru tertawa kecil dan menoleh sambil memperagakan tangannya mengkrues krues di depan Emak Baru.