MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 91. Rambut Dibelah Tujuh


Ibu Sari lalu memberikan Abi kepada Emak Baru, karena terlihat Abi sudah mulai tenang.


“Kamu kasih asi dulu Abi, dan kamu berusaha tenang... Nyebut mohon ketenangan dan keselamatan.” ucap Ibu Sari sambil menaruh tubuh Abi di pangkuan Emak Baru.


“Yakin Abi akan menjadi anak yang baik.” ucap Ibu Sari selanjutnya sambil mengusap usap kepala Abi dengan lembut.


“Iya Bu.” ucap Emak Baru lalu membuka kancing baju bagian depannya. Abi pun kepalanya segera menoleh ke arah dada Emak Baru, mungkin dia sudah kehausan karena tadi menangis kejer.


“Ya sudah aku ke dapur dulu. Aku lihat bagaimana komentar ibu ibu pegawai masak. “ ucap Ibu Sari kemudian lalu melangkah berjalan meninggalkan kamar Emak Baru menuju ke dapur.


Saat Ibu Sari sudah sampai di dapur terlihat beberapa anak termasuk Sandra sudah membantu Ibu ibu pegawai masak untuk menyiapkan makanan makanan di ruang makan.


“Bu, Abi kenapa apa kok tadi mendadak menangis kejer?” tanya salah satu Ibu Pegawai masak.


“Mungkin digigit semut.” jawab Ibu Sari bohong demi suatu kebaikan. Kadang memang perlu bohong putih, agar ada kedamaian di antara hubungan antar sesama.


“Ooo iya Bu, digigit semut apa nyamuk jadi kaget.” ucap salah satu Ibu Pegawai masak sambil mencuci perkakas dapur.


“Padahal sedang ada hot news. Emak Baru jadi tidak bisa melanjutkan mendengar berita itu..” ucap Ibu Pegawai masak satunya sambil mengelap kompor dapur.


“Berita apa Bu?” tanya Ibu Sari berpura pura tidak tahu. Kedua ibu pegawai masak itu lalu dengan semangat menceritakan berita tentang pejabat yang tertangkap tangan kasus korupsi dan terseret hukum karena kasus pelecehan pada karyawan di kantornya.


“Sudah korupsi masih juga melakukan pelecehan pada karyawan. Padahal istrinya cantik masih kurang saja.” ucap Ibu pegawai masak yang sedang mencuci perkakas dapur.


“Mungkin karena istrinya sering pergi jalan jalan ke luar negeri jadi kesepian ha...ha..” ucap Ibu pegawai masak yang mengelap kompor dapur.


“Mungkin korupsi juga karena tuntutan sang istri dan anak anaknya yang sering ke luar negeri. Beritanya istrinya kalau perawatan demi penampilannya butuh banyak biaya...” ucap Ibu pegawai masak yang mencuci perkakas dapur, berargumen.


“Itulah Bu, sekarang pejabat dan keluarganya gaya hidup bagai artis, tetapi ternyata uang untuk menunjang gaya hidup artis pakai dengan cara cara kotor.” ucap Ibu Sari menanggapi pendapat ibu pegawai masak.


“Kita hanya bisa berdoa dan berbuat baik... he... he... setidaknya masih ada manusia yang baik, meskipun sedikit itu nanti akan menyelamatkan.” jawab Ibu Sari sambil tertawa kecil.


“Tapi harus kuat Bu, harus sabar, harus tahan uji. Hidup di jalan yang benar memang tidak mudah banyak ujian dan halangan. Maka diibaratkan sulitnya bagai melewati jembatan rambut yang dibelah tujuh.. “ ucap Ibu Sari sambil menatap kedua ibu pegawai masak itu secara bergantian. Kedua ibu pegawai masak itu pun mengangguk anggukan kepala karena ingat akan kotbah kotbah dari tokoh tokoh agama yang mereka dengar.


Akan tetapi tiba tiba,


“Maaf Bu, mengganggu. Hanya mau menyampaikan kalau anak anak sudah siap.” ucap Sandra yang sudah berdiri di depan pintu. Sepertinya dia pun sudah agak lama bediri di situ. Mungkin dia juga ikut mendengarkan pembicaraan Ibu Sari dan kedua ibu pegawai masak. Mungkin dia tadi tidak enak hati untuk menyela.


“Sudah aku ke ruang makan itu anak anak sudah ngumpul.” ucap Ibu Sari kemudian sambil mengecilkan volume televisi kecil di dapur itu yang sedang menyiarkan acara hiburan. Tidak dimatikan karena kedua ibu pegawai masak itu masih bekerja di dapur beres beres, sebab mereka berdua tadi sudah istirahat makan siang dengan pegawai panti lainnya.


“Iya Bu, silahkan.. tadi Emak Baru belum ikut makan mungkin masih menenangkan Abi. Kalau sekarang juga belum bisa makan, nanti saya sediakan makan siang dia, Bu.” ucap salah satu Ibu Pegawai masak


Ibu Sari lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah keluar dari dapur, dia berjalan menuju ke ruang makan. Terlihat anak anak sudah duduk rapi, Ibu Sari pun berjalan menuju ke mejanya. Dan tidak lama kemudian terlihat Emak Baru datang sambil menggendong Abi.


“Abiiiii...” teriak anak anak saat melihat Abi di dalam gendongan Emak Baru masuk ke dalam ruang makan.


“Iya.. Kakak Kakak...” ucap Emak Baru sambil sambil tersenyum lalu dia duduk di kelompok meja Ibu Sari. Ibu Sari pun tersenyum menatap Emak Baru. Beliau senang karena ekspresi wajah Emak Baru terlihat netral.


“Hmmm dia sudah belajar menguasai emosi hatinya.. mungkin dia sebenarnya anak yang pintar, hanya karena kondisi ekonomi dia tidak bisa melanjutkan pendidikannya.” Gumam Ibu Sari dalam hati sambil tersenyum menatap Emak Baru. Emak Baru pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


Akhirnya mereka semua melakukan acara makan siangnya seperti biasanya. Dan setelah selesai makan siang. Sandra yang duduk di satu meja dengan Ibu Sari menatap Ibu Sari dengan seksama.


“Bu, saya mau menghadap Ibu, ada hal penting yang ingin saya sampaikan.” ucap Sandra dengan nada serius sambil masih menatap Ibu Sari.


“Baiklah. Ayo sekarang kita ke ruang kerjaku. Kamu tidak usah ikut membantu membereskan meja makan.” ucap Ibu Sari sambil menatap Sandra dan mereka berdua pun segera bangkit berdiri dan berjalan ke luar dari ruang makan. Anak anak dan Emak Baru pun melihat Ibu Sari dan Sandra yang sudah mendahului mereka keluar dari ruang makan.