MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 48. Informasi dari Pak Jemari


Tidak lama kemudian pintu terbuka, tampak Ibu Sari masih memakai daster panjang dan terlihat baru bangun tidur.


“Bu, saya ada test di pagi hari jam pertama.” ucap anak itu.


“Iya iya.” ucap Ibu Sari yang terlihat bingung. Ibu Sari lalu masuk dan mengambil kunci mobil. Beliau lalu keluar sambil menutup pintu dan memguncinya. Beliau berjalan dengan tergesa gesa menuju ke mobil, anak anak sudah duduk manis di dalam mobil. Ibu Sari yang masih memakai daster panjang itu lalu menyalakan mesin mobil. Marginah dan Nesya saling pandang tapi tidak tahu harus bicara apa sebab anak yang akan test pagi juga terburu buru.


Saat mobil sudah berjalan beberapa meter dari panti, Ibu Sari mendadak menepikan mobilnya dan mobil berjalan pelan pelan.


“Nah, Abi di dalam kamar lupa belum kutitip Ibu Perawat. “ ucap Ibu Sari kemudian dengan suara penuh kekuatiran.


“Bu, saya telpon Mas Budi saja untuk mengambil Adik Abi biar dititp Ibu Perawat.” usul Marginah sambil cepat cepat mengambil hape dari dalam tasnya.


“Tapi ini kunci kamar aku bawa.” ucap Ibu Sari sambil menepuk saku di dasternya.


“Owh.” gumam Marginah


“Ya sudah Ibu jalan, semoga Abi masih tidur sampai Ibu nanti pulang.” ucap Ibu Sari kemudian. Ibu Sari lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Nesya dan Marginah terlihat wajahnya tegang karena baru kali ini Ibu Sari membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Tidak lama kemudian mobil sudah sampai di depan pintu gerbang sekolah.


“Terimakasih Bu, hati hati ya...” ucap Marginah sambil mencium tangan Ibu Sari. Akan tetapi bel tanda masuk sudah berbunyi. Ibu Sari menyuruh Marginah dan anak anak yang lain agar segera masuk tidak usah cium tangan Ibu Sari. Ibu Sari segera melajukan mobilnya untuk ke panti. Ibu Sari kembali melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, dia kuatir Abimana sudah bangun dan nangis kejer.


“Semoga saja belum bangun.” gumam Ibu Sari. Beberapa menit kemudian mobil sudah memasuki halaman panti. Terlihat Ibu Perawat menyapu ruang pengobatan. Saat melihat Ibu Sari turun dari mobil dengan mengenakan daster panjang yang merupakan baju tidur Ibu Sari, terlihat Ibu Perawat menatap heran Ibu Sari. Ibu Sari terus saja melangkah karena yang da di pikirannya cuma ingin segera mengetahui keadaan adik bayi.


Sesampai di pintu ruangnya Ibu Sari langsung membuka kunci pintu dan dengan segera Ibu Sari mendorong daun pintu. Tidak terdengar suara tangis Ibu Sari lega. Ibu Sari segera masuk ke dalam kamar dan dilihatnya Adik Bayi, ternyata dia sudah membukakan matanya sambil mulut mungilnya bergerak gerak.


“Ooo Abi sudah bangun, lapar ya... tunggu ya Sayang...” ucap Ibu Sari sambil melihat Abimana, lalu dia segera ke kamar mandi untuk cuci tangan dan cuci muka, sebab tadi Ibu Sari belum cuci muka langsung mengambil kunci mobil dan mengantar anak anak. Setelah selesai cuci tangan dan cuci muka, Ibu Sari segera membuatkan susu buat Abi.


“Abi anak pintar ya, tahu Ibu sedang mengantar Kakak Kakak, Abi sudah bangun dan lapar tapi tidak nangis.” ucap Ibu Sari sambil memberikan susu buat Abi lewat botol dot bayi. Abi dengan kuat minum susunya. Baru sebentar saja susu satu botol sudah habis. Ibu Sari segera memandikannya lalu dititip di Ibu Perawat.


Waktu terus berlalu, kegiatan semua penghuni panti bisa terlaksana dengan baik. Yang ikut test di pagi hari meskipun waktu berangkat dengan penuh kekuatiran akan tetapi tidak terlambat dalam mengikuti test.


Di malam hari, saat Marginah baru saja selesai belajar dan masih di dalam ruang perpustakaan Pak Jemari telpon ke Marginah.


“Kamu kok tidak telpon dan kabar kabar Bapakmu Nah?” tanya Pak Jemari saat Marginah sudah menggeser tombol hijau.


“Maaf Pak, bukannya lupa tapi lagi sibuk tugas sekolah dan sibuk dengan berita adik bayi.” jawab Marginah


“Adik bayi apa, Makmu sudah tidak mau hamil lagi. Padahal aku ingin anak laki laki, siapa besok yang melanjutkan profesiku sebagai petani. Kalau tidak ada yang melanjutkan profesiku bagaimana coba yang melanjutkan mengurus tanaman siapa.” Uc ap Pak Jemari


“Besok Stela Pak yang melanjutkan katanya mau jadi sarjana pertanian dia.”


“Pakai cara yang modern Pak, pakai teknologi tepat guna.” jawab Marginah


“Apa itu?” tanya Pak Jemari kepo.


“Aku juga tidak tahu Pak, Bapak tanya Pak Kades saja.” ucap Marginah yang kini sudah berjalan di koridor ruangan perpustakaan menuju ke kamarnya.


Sesaat Mas Budi juga lewat di koridor tersebut mereka berpapasan. Mas Budi berhenti sesaat dia mendengarkan dengan siapa Marginah berbicara di telponnya. Setelah dia yakin Marginah berbicara dengan Pak Jemari, lalu Mas Budi berbalik arah dan mengikuti Marginah.


“Nah.” panggil Mas Budi, dan Marginah menoleh sambil masih mendengarkan suara Pak Jemari.


“Kamu telpon Bapakmu?” tanya Mas Budi. Dan Marginah menjawab dengan anggukan kepala.


“Aku pengen bicara dengan Pak Jemari, Nah. Penting.” ucap Mas Budi. Marginah lalu terdengar bicara dengan Pak Jemari kalau Mas Budi ingin berbicara dengan Bapaknya. Marginah lalu menyerahkan hapenya kepada Mas Budi.


“Heleh ternyata banyak yang kangen aku, banyak yang pengen bicara padaku. Ha kok kalau tidak aku yang nelpon ya diam saja tidak ada yang nelpon aku. Sejak tadi aku pegangi hapeku aku lihat kok tidak ada kelip kelip dan tidak ada suaranya.” ucap Pak Jemari setelah selesai Marginah bilang kalau Mas Budi ingin bicara.


“Maaf Pak, benar benar sibuk karena ada penghuni panti baru. Pak, aku mau tanya.” ucap Mas Budi


“Ya sudah tanya saja.” saut Pak Jemari


“Pak, Jemari ingat ga, kemarin pas mencegat bis ada perempuan yang naik ojek di depan kita, terus juga ikut mencegat bis?” tanya Mas Budi


“Ya ingat tho. Lha duduk di bis sebelahan dengan aku.” jawab Pak Jemari.


“Lha kok bisa Pak, bukannya dia naik bis yang lebih dulu.” saut Mas Budi.


“Iya tapi di terminal kota dia pindah jadi satu bis dengan aku. Aku ingat karena aku lihat waktu nyegat bis itu wajahnya tampak bingung. Kenapa e Mas kok tanya tanya perempuan itu?” jawab Pak Jemari dan balik bertanya.


“Pak Jemari tanya tanya atau bicara dengan dia tidak?” tanya Mas Budi dengan nada serius dan penuh semangat.


“Ya bicara tapi cuma sebentar..Aku tidak enak hati mau tanya tanya orangnya banyak diam dan sering memejamkan matanya.” jawab Pak Jemari


“Sepertinya habis nangis, nanti kalau aku tanya tanya terus mewek menangis, aku malah repot kalau dia meluk aku kayak Nesya. Atau kalau penumpang lain menuduh aku yang membuatnya menangis mengira aku melecehkan di dalam bis. Bisa tambah repot aku nanti.” ucap Pak Jemari selanjutnya


“Aduh Pak Jemari, mungkin orang itu yang menaruh bayi di panti.” ucap Mas Budi dengan nada suara penuh penyesalan.


“Ha?” teriak Pak Jemari kaget sampai hape di tangannya terlepas