MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 63. Memberikan Kepercayaan dan Kesempatan


Di pagi hari Ibu Sari sudah bangun, terlihat beberapa anak yang sudah besar juga sudah bangun melakukan jadwal piket masing masing. Terlihat sudah ada yang menyapu halaman panti meskipun hari masih gelap. Anak anak yang melakukan tugas paketnya lebih awal biasanya mereka mempunyai tugas di sekolah di pagi hari jadi mereka melakukan tugas di panti lebih awal agar semua tugas bisa terlaksana dengan baik. Ibu Sari memang yang mengajari mereka dalam mengelola waktu demi tanggung jawab.


Ibu Sari lalu berjalan di sepanjang koridor dia terus berjalan menuju ke kamar tamu, di berdiri di depan kamar tamu. Suasana masih tampak sepi, tidak ada suara tangisan Abi atau pun suara orang berbicara. Hanya terdengar suara srek...srek..srek.. suara sapu lidi yang bersentuhan dengan tanah halaman panti. Sapu yang digerakkan oleh tangan tangan anak panti yang sedang bertugas.


Ibu Sari merogoh anak kunci yang dia taruh di saku daster panjangnya. Dia membuka gembok kecil yang tadi malam dia kaitkan di depan pintu kamar tamu itu. Ibu Sari lalu mengambil gembok dan anak kuncinya dan dimasukkan lagi ke dalam saku daster panjangnya. Namun saat Ibu Sari membalikkan tubuhnya akan meninggalkan pintu kamar tamu itu, terdengar suara langkah kaki di belakangnya. Ibu Sari lalu menoleh ke arah suara langkah kaki itu.


“Bud, sudah bangun kamu?” tanya Ibu Sari pelan saat melihat sosok Mas Budi yang berjalan mendekatinya.


“Iya Bu, mau sembahyang nanti mau pagi pagi ke kantor polisi untuk mencabut laporan.” jawab Mas Budi pelan lalu mereka berdua berjalan meninggalkan kamar tamu itu.


“Bu, apa perempuan Ibunya Abi benar benar mau merawat Abi dan mau bekerja di sini?” tanya Mas Budi sambil terus berjalan di samping Ibu Sari.


“Aku juga belum bisa memastikan. Kita baru kenal satu hari saja tidak penuh Bud. Tetapi kita harus memberi kesempatan dan kepercayaan pada orang yang sudah mengakui kesalahannya dan menyesalinya dan sudah berniat akan melakukan hal yang baik agar bisa menghapus kesalahan yang sudah dibuat.” ucap Ibu Sari sambil terus berjalan


“Meskipun harus tetap waspada.” ucap Ibu Sari kemudian.


“Oya Bud, nanti siang selesai makan siang kamu ajak anak anak laki laki yang besar untuk mengatur gudang. Itu kamar gudang tempat lemari pakaian kan besar, kamu pindah makanan makanan yang tahan lama ke gudang itu. Makanan makanan yang segera digunakan kamu taruh di dapur.” ucap Ibu Sari kemudian saat mereka sudah dekat di ruang doa.


“Lemari di gudang makanan juga di pindah Bu?” tanya Mas Budi minta kejelasan.


“Iya. Gudang makanan akan aku setting untuk kamar Abi dan Ibunya.” jawab Ibu Sari. Ibu Sari berpikir gudang makanan yang berada di dekat ruangannya terlihat lebih dekat dan memudahkan Ibu Sari dalam mengawasi Abi dan Ibunya. Kamar yang berdampingan juga membuat Ibu Sari bisa mendengar jika Abi menangis.


“Ada informasi minggu depan akan ada tamu donatur yang akan menginap di sini.” ucap Ibu Sari selanjutnya dan memang benar akan ada tamu donatur yang akan menginap jadi memang harus mempersiapkan kamar buat tamu tersebut dan membuat kamar buat Abi dan Ibunya.


“Besok kalau ada dana kita buat gudang makanan di dekat dapur.” ucap Ibu Sari selanjutnya. Tampak Mas Budi menganggukkan kepalanya mengerti apa yang dimaksud oleh Ibu Sari, Mas Budi lalu segera masuk ke dalam ruang doa. Sedangkan Ibu Sari terus berjalan menuju ke ruangannya.


Waktu terus berlalu. Acara doa pagi sudah selesai tetapi Fatima dan Mawarni terlihat gelisah sebab dia tidak melihat sosok Marginah dan Nesya.


“Fat, Marginah dan Nesya kok tidak terlihat, mereka berdua kan anak yang rajin.” Ucap Mawarni saat sudah keluar dari ruang doa.


“Iya ya, coba kita lihat mereka di kamar tamu jangan jangan masih tidur apa malah diajak pergi oleh perempuan itu.” Ucap Fatima yang berdiri di dekat Mawarni


“Kamu itu omong sembarangan, tidak mungkin Marginah dan Nesya mau begitu saja pergi dengan orang yang tidak dikenal.” Ucap Mawarni


“Kamu itu malah bikin aku kuatir. Kenapa kita ijinkan mereka berdua tidur dengan perempuan itu. Kita bisa kena marah Ibu Sari.” Ucap Mawarni dengan nada kuatir dan langsunh akan berlari menuju ke kamar tamu. Namun sebelum mereka berdua melangkah sudah ada tangan yang menepuk pundak mereka.


“Fat, Ni mana Marginah dan Nesya kok tidak terlihat?” tanya Ibu Sari.


“Hmmm anu Bu.” Ucap Mawarni yang akan menjawab dengan bohong akan tetapi tetap mulutnya tidak bisa ber ucap bohong di depan Ibu Sari.


“Di kamar tamu, katanya mau menjaga Abi agar tidak dibawa lari.” jawab Mawarni, sedangkan Fatima hanya bisa menganggukan kepalanya karena takut kena marah dari Ibu Sari sebab sudah mengijinkan kedua adiknya tidur di kamar tamu.


“Cepat kalian ke sana, pasti masih tidur.” ucap Ibu Sari lalu membalikkan tubuhnya berjalan meninggalkan mereka. Mawarni dan Fatima juga cepat cepat berlari menuju ke kamar tamu, anak anak yang lain ikut memandang ke arah mereka.


Tidak lama kemudian mereka berdua sudah sampai di depan pintu kamar tamu. Mawarni dan Fatima mengetuk ngetuk pintu itu. Tetapi tetap saja pintu tertutup dengan rapat.


Sementara itu Marginah masih tertidur pulas sambil memeluk Abi. Marginah memang minta pada Ibunya Abi agar Abi ditidurkan di sampingnya. Sementara Nesya tidur pulas memeluk perempuan Ibunya Abi, Nesya sedang bermimpi Ibunya pulang dan dia bermimpi tidur berdua dengan Ibunya di sebuah kamar hotel.


Namun suara ketukan pintu yang bertubi tubi membangunkan perempuan Ibunya Abi. Ibunya Abi lalu membukakan matanya.


“Ha.. sudah pagi.” ucap perempuan Ibunya Abi lalu dia bangkit dari tidurnya. Tangan Nesya yang terlepas dari pelukannya terdengar Nesya merengek dalam igauannya.


“Iya iya...sudah bangun.” teriak perempuan Ibunya Abi.


“Neng.. Neng bangun.” ucap Ibunya Abi sambil menggoyang goyang kaki Nesya. Perempuan ibunya Abi langsung bangkit berdiri dan berjalan menuju ke pintu dan dengan segera dia membuka pintu kamar.


“Maaf maaf terlambat bangun, sudah terang ya harinya. Maaf.” ucap perempuan itu sedangkan Mawarni dan Fatima langsung berjalan masuk dan segera membangunkan Marginah dan Nesya.


“Jangan dimarah mereka berdua, mereka tadi yang merawat Abi saat Abi terbangun, maafkan saya.” ucap perempuan itu penuh penyesalan dan tidak tega jika Marginah dan Nesya mendapat marah. Sedangkan Marginah dan Nesya terlihat kaget mereka berdua langsung duduk dari tidurnya dan terlihat wajahnya masih ngantuk dan bingung.


“Aku ternyata hanya bermimpi tidur di hotel dengan Ibuku.” ucap Nesya dengan nada sedih. Fatima dan Mawarni mengeryitkan dahinya sedangkan Marginah masih mengumpulkan nyawanya yang belum seluruhnya masuk karena masih kaget saat dibangunkan.


“Cepat kalian mandi dan ke ruang makan agar tidak terlambat ke sekolah.” ucap Mawarni. Kemudian dengan segera Marginah dan Nesya berlari menuju ke kamar mandi mereka karena menyadari mereka terlambat bangun