MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 64. Pintar Saja Tidak Cukup


Waktu terus berlalu mobil yang akan mengantar berangkat ke sekolah sudah siap. Ibu Sari sudah menyalakan mesin mobil dan beliau sudah duduk di jok kemudi. Anak anak yang duduk di bangku bsk belakang juga sudah duduk berjajar rapi. Akan tapi jok di samping Ibu Sari yang biasa ditempati oleh Marginah dan Nesya masih kosong. Ibu Sari melongokkan kepalanya keluar dari jendela untuk melihat pintu kamar Marginah dan Nesya yang bisa dilihat dari arah Ibu Sari kini berada.


“Kamu lihat mereka berdua jangan jangan tidur lagi.” ucap salah satu anak panti yang duduk di bak belakang karena melihat Ibu Sari melongok ke arah kamar Marginah dan Nesya. Satu orang anak lalu bangkit berdiri dan akan turun dari mobil. Akan tetapi tidak jadi sebab sudah terlihat Marginah dan Nesya keluar dari pintu kamarnya dan mereka berdua berlari menuju ke mobil.


Mereka berdua langsung menuju ke pintu mobil bagian depan, dengan segera Marginah membuka pintu mobil lalu masuk ke dalam mobil.


“Bu, maaf.” ucap Marginah sambil menaruh pantatnya di jok samping kemudi. Dan tidak lama kemudian dia menggeser pantatnya untuk memberi tempat duduk pada Nesya yang juga sudah masuk ke dalam mobil.


“Maaf Bu.” ucap Nesya sambil menutup pintu mobil. Ibu Sari hanya menatap pada mereka berdua sambil menganggukan kepala. Lalu Ibu Sari pandangan matanya fokus ke depan dan selanjutnya menjalankan mobil dengan pelan pelan meninggalkan halaman panti.


Beberapa menit kemudian mobil antar jemput itu sudah sampai di depan gedung sekolah. Tepat mobil berhenti terdengar suara bel tanda masuk. Nesya segera membuka pintu mobil, Marginah dengan cepat menarik tangan kanan Ibu Sari lalu mencium punggung tangannya. Sedangkan Nesya langsung turun dari mobil. Marginah pun dengan segera menyusul Nesya. Anak anak yang lain juga segera turun dari mobil.


“Terima kasih Bu...” teriak mereka bersamaan dan langsung berlari sebelum pintu gerbang ditutup oleh petugas penjaga pintu. Ibu Sari lalu menutup pintu mobil yang tidak ditutup oleh Marginah karena tergesa gesa berlari menyusul Nesya. Setelah pintu tertutup dengan benar, Ibu Sari lalu menjalankan mobilnya menuju ke panti.


Waktu terus berlalu, di jam jam awal Marginah dan Nesya masih bisa mengikuti pelajar dengan baik. Akan tetapi saat pelajaran setelah istirahat kedua. Mata Marginah dan Nesya teramat sangat susah dibuka. Marginah menopang kepalanya dengan tangannya sambil mendengarkan guru yang sedang menjelaskan pelajaran. Akan tetapi lama lama mata Marginah terpejam.


Sementara itu Nesya duduk dengan bersedekap tangan ditaruh di meja depannya. Dia berusaha untuk berkonsentrasi mendengarkan apa yang disampaikan oleh gurunya agar tidak mengantuk. Ada orang bilang jika otak berpikir maka tidak akan mengantuk. Namun tetap saja apa yang disampaikan oleh guru tidak bisa dicerna dengan baik oleh Nesya. Malah matanya terasa semakin berat. Akhirnya tiba tiba kepala Nesya tertunduk sendiri. Nesya tampak kaget. Lalu membukakan matanya dan berusaha untuk melihat gurunya.


“Hmmm Bu Guru melihat ke arah belakang berarti tidak melihat aku.” gumam Nesya merasa tenang. Nesya lalu menoleh untuk melihat Marginah dan betapa kagetnya Nesya saat melihat Marginah matanya terpejam sambil kedua tangan menopang dagu dan rahangnya . Nesya pun akhirnya ikut ikut melakukan apa yang dilakukan oleh Marginah. Dan kedua anak itu tampak tenang mendengarkan guru bicara akan tetapi mereka terlelap. Itulah untungnya jika duduk di kursi paling depan dan guru berbicara berdiri di dekat kursi murid paling depan sambil melihat murid murid yang duduk di kursi belakang. Guru tidak melihat merka tertidur.


Dan setelah ibu Guru selesai menyampaikan materi pelajaran, kini ibu Guru berjalan menuju ke papan tulis dan memberikan tugas. Akan tetapi posisi Nesya dan Marginah belum berubah. Angga dan Brian yang duduk di belakang mereka juga tidak tahu jika Marginah dan Nesya tidur. Mereka mengira Marginah dan Nesya masih memperhatikan tugas apa yang akan ditulis oleh Ibu Guru. Setelah Ibu Guru selesai menulis tugas dia membalikkan tubuhnya untuk melihat murid muridnya. Namun betapa kagetnya saat melihat Marginah dan Nesya matanya terpejam, tidak biasanya mereka berdua tidur di dalam kelas.


“Angga apa di panti tadi malam ada acara?” tanya Ibu Guru sambil menatap Angga. Angga yang ditanya tentang masalah di luar mata pelajar tampak kaget. Sedangkan Marginah tiba tiba matanya terbuka sebab mendengar ada kata panti disebut.


“Tidak ada Bu.” jawab Angga.


“Marginah, Nesya nanti kalian menghadap Ibu setelah jam pulang sekolah.” ucap Ibu Guru sambil menatap Marginah yang sudah terbuka matanya, tapi posisi tidak berubah agar tidak begitu terlihat oleh teman temannya kalau dia tadi tertidur. Sedangkan Nesya yang disebut namanya langsung terlonjak kaget.


“Iya Bu.” jawab Marginah sedangkan Nesya masih diam saja sebab tidak jelas apa yang diminta Ibu Guru.


“Nes, bilang iya.” bisik Marginah


Setelah pelajaran berakhir, semua anak keluar kelas untuk pulang. Sedangkan Marginah dan Nesya keluar kelas menuju ke ruang guru. Sementara itu mobil jemputan sudsh berada di depan gedung sekolah. Anak anak sudah duduk di bangku belakang.


“Marginah dan Nesya terlambat lagi.” ucap salah satu anak panti yang sudsh duduk rapi.


“Dipanggil Ibu Guru, karena tidur di kelas.,” ucap Angga


“Ooo karena tadi malam jaga Abi dan Ibunya.” saut yang lain. Ibu Sari yang duduk di jok kemudi sayup sayup mendengarkan pembicaraan mereka.


Beberapa menit kemudian terlihat Marginah dan Nesya keluar dari ruang guru dan mereka berdua berlari menuju ke mobil. Sesampai di pintu mobil mereka segera membuka pintu dan dengan cepat masuk ke dalam mobil.


“Maaf Bu, menunggu kami lagi.” ucap Marginah dan Nesya bersamaan. Ibu Sari lalu menyalakan mesin mobilnya dan menjalanksn mobil meninggalkan lokasi sekolah.


“Itulah akibat kalian tidak minta ijin pada Ibu.” ucap Ibu Sari saat mobil sudah beberapa meter meninggalkan lokasi sekolah. Tampak Marginah dan Nesya tertunduk merasa salah.


“Maksud kalian baik, waspada untuk menjaga Abi dari orang yang belum kita kenal meskipun itu ibunya Abi sendiri.” ucap Ibu Sari kemudian.


“Apa menurut kalian Ibu tidak kuatir dan tidak waspada? Tadi malam Ibu juga menjaganya tetapi dengan cara Ibu, Ibu gembok itu pintu kamar tamu dari luar. Kalau masalah Abi menangis pasti Ibunya juga akan mendengar.” ucap Ibu Sari kemudian, tampak Marginah dan Nesya menoleh memandang Ibu Sari, mereka berdua tidak menyangka ibu Sari mengembok pintu dari luar.


“Nah, ternyata Ibu Sari lebih pintar dari kamu. Kenapa kamu tidak punya ide begitu.” ucap Nesya sambil menyikut pinggang Marginah.


“Ya jelas tho.” saut Marginah.


“Yang dibutuhkan itu tidak hanya pintar tetapi juga pengalaman Nes, pintar dan pengalaman hidup, istilahnya sudah banyak makan asam garam itu nanti yang akan disebut orang memiliki kebijaksanaan.” ucap Ibu Sari sambil terus melajukan kendali mobilnya. Tampak Marginah mencerna apa yang diucapkan oleh Ibu Sari.


“Saya masih minim pengalaman hidup Bu. Jadinya malah membuat repot orang lain dan susah diri sendiri.” ucap Marginah lirih.


“Jadi malu juga, ketahuan tidur di kelas ha....ha....” ucap Marginah lagi sambil tertawa menoleh ke arah Nesya. Nesya lalu menepuk pundak Marginah.


"Terus belajar Nah, bisa juga belajar dari pengalaman hidup orang lain." ucap Ibu Sari. Marginah dan Nesya tampak menganggukkan kepalanya.