
Ibu Sari sambil memangku Abi masih dengan setia menunggu apa yang akan dibicarakan oleh Nyonya Naura. Suasana sepi panti semakin menambah hening ruangan Ibu Sari itu.
“Ibu Sari, kali ini kami benar benar mau minta tolong pada Ibu Sari, kami sangat berharap Ibu Sari mau membantu misi kami.” akhirnya Nyonya Naura mulai berbicara akan tetapi Nyonya Naura mulai terdiam lagi. Ibu Sari masih menunggu kelanjutan dari cerita Nyonya Naura. Awal pembukaan dari Nyonya Naura itu belum membuat Ibu Sari paham. Akan tetapi Nyonya Naura belum juga melanjutkan kalimatnya.
“Kami akan siap membantu jika itu demi suatu kebaikan Bunda.” ucap Ibu Sari selanjutnya sambil menatap wajah Nyonya Naura. Sedangkan Nyonya Naura terlihat berpikir pikir untuk menyusun kalimat.
“Begini Ibu Sari, Sandra itu keponakan dari sahabat saya yang tinggal di luar negeri. Dia juga salah satu anggota grup yang rutin membantu panti.” ucap Nyonya Naura selanjutnya, lalu Beliau terlihat menarik nafas panjang. Ibu Sari masih diam sambil menatap Nyonya Naura menunggu cerita selanjutnya.
“Nah saat ini perusahaan milik orang tua dia sedang dalam masalah besar. Karena ada hacker yang mencuri blue print perusahaan orang tuanya, hingga perusahaan itu sedang diambang kebangkrutan.” ucap Nyonya Naura selanjutnya tampak ekspresi sedih di wajahnya. Ibu Sari yang mendengarkan pun juga terlihat sedih ikut prihatin dengan kasus yang sedang menimpa orang dekat donatur.
“Hmmm terus misi seperti apa, dan apa yang bisa saya bantu untuk masalah yang berat itu Bunda?” tanya Ibu Sari sambil menatap wajah Nyonya Naura dengan serius.
“Sandra itu sebenarnya namanya bukan Sandra, yang sebenarnya dia sedang menyamar menjadi Sandra, dan selanjutnya dia akan bekerja pada perusahaan yang sudah meretas perusahaan orang tuanya itu. Dia ingin mendapatkan bukti bukti secara langsung. Kalau dia masih dengan jati diri yang sesungguhnya jelas itu sangat bahaya buat dirinya. Dan jelas tidak akan bisa masuk ke perusahaan yang meretas itu.” ucap Nyonya Naura selanjutnya.
“Anak itu pun disembunyikan oleh keluarganya, agar dia aman hingga dia yang memegang perusahaan itu. Sejak kecil dia di luar ikut sahabat saya itu. Dan misi ini orang tua pun tidak mengetahuinya.” ucap Nyonya Naura lagi.
“Owhhh..” gumam Ibu Sari akhirnya dia paham kenapa matanya menangkap ada kecantikan yang tersembunyi di balik kacamata tebal gadis itu.
“Terus apa yang bisa kami bantu Bunda?” tanya Ibu Sari selanjutnya dengan nada serius.
“Sandra akan berada di panti ini untuk orientasi agar dia bisa menjalankan perannya sebagai anak panti dengan bagus. Kami membutuhkan bantuan dari Ibu Sari dan penghuni panti lainnya. “ jawab Nyonya Naura sambil menatap Ibu Sari.
“Akan tetapi saya minta Ibu Sari memegang rahasia ini.” ucapnya lagi.
“Maka saya buat anak anak pergi berwisata selain memang hadiah buat mereka namun juga dengan maksud tidak tidak orang yang tiba tiba datang ke ruangan ini atau lewat di koridor lalu mendengar perbincangan kita ini.” tambah Nyonya Naura .
“Kemudian, kami juga membutuhkan surat keterangan dari Ibu Sari yang menyatakan bahwa Sandra adalah memang benar anak penghuni panti di sini.” ucap Nyonya Naura selanjutnya. Terlihat Ibu Sari tampak berpikir pikir.
“Untuk masalah Sandra di sini kami akan dengan senang hati untuk membantunya. Akan tetapi untuk surat keterangan saya pikir pikir dulu ya Bun.” ucap Ibu Sari selanjutnya.
“Iya, Ibu Sari silahkan dipikir pikir dan dipertimbangkan masak masak, kami menunggu hasil dari keputusan Ibu Sari.” ucap Nyonya Naura sambil tersenyum menatap Ibu Sari. Dan selanjutnya Nyonya Naura mengajak berganti topik pembicaraan. Dia meminta daftar nama anak anak yang berprestasi. Dan rencananya akan memberikan beasiswa buat mereka. Beberapa saat kemudian Nyonya Naura pamit dari ruangan Ibu Sari.
Setelah Nyonya Naura keluar dari ruangan nya. Ibu Sari terlihat duduk dengan ekspresi tampak berpikir keras.
“Mereka sering membantu panti ini, sekarang mereka membutuhkan bantuan ku.” gumam Ibu Sari dalam hati, sambil membelai lembut pipi gembul Abi dengan ujung telunjuk jarinya.
“Tetapi membuat surat keterangan itu, apa nantinya tidak bermasalah dengan diriku. Bagaimana jika aku dimintai pertanggung jawaban di hadapan hukum.” gumam Ibu Sari lagi dia tampak masih berpikir pikir. Akan tetapi tiba tiba Abi terbangun dan menangis mungkin dia juga merasakan jika Ibu Sari sedang gelisah.
“Sayang apa kamu sudah lapar lagi...” ucap Ibu Sari lalu dia bangkit berdiri sambil mengendong Abi. Ibu Sari lalu berjalan menuju ke dapur untuk mengambil asi buat Abi yang sudah disimpan di kulkas. Setelah suhu asi sudah dihangatkan, lalu Ibu Sari memberikan botol asi itu pada mulut mungil Abi. Sambil berjalan mengendong Abi, Ibu Sari masih berpikir pikir.
“Membantu untuk memerangi kejahatan itu memang harus didukung, harus dibantu.” gumam Ibu Sari sambil terus berjalan.
“Apa aku tanya pada temanku yang tahu masalah hukum ya, apa ada resiko nya jika aku membuat surat keterangan itu.” gumam Ibu Sari lagi.
“Hadeh tapi ini kan rahasia kalau aku tanya dia, bisa bisa jadi merembes rahasia ini.” gumam Ibu Sari sekali lagi. Lalu dia berjalan menuju ke ruang doa. Akan dia sampaikan saja segala permasalahan, kebimbangan, keraguan dan dilema pada Sang Khalik Pencipta Alam Semesta, yang pasti rahasia akan aman.
“Hmmm permasalahan Abi dan Emak sudah teratasi kini ada lagi masalah. Orang hidup memang harus berhadapan dengan masalah masalah dan harus bisa mengatasinya. Hanya dengan kekuatan dari Allah kita akan mampu.” ucap Ibu Sari lalu membuka pintu ruang doa itu dengan pelan pelan. Abi pun terlihat tenang.