
“Hallo.” ucap Mas Budi
“Hallo.” ucap Mas Budi lebih keras lagi
“Kok mati, Nah?” tanya Mas Budi sambil menatap Marginah sementara hape masih dipegangnya dan ditempelkan di telinganya menunggu jika ada suara Pak Jemari lagi. Akan tetapi tetap tidak ada suara apa apa dan selanjutnya sambungan terputus. Mas Budi lalu menyerahkan hape kepada Marginah.
“Pulsa habis mungkin Mas, kalau ga ya baterai habis atau hang karena panas. Maklum hape tua, kayak yang punya..” ucap Marginah sambil menerima hapenya dari tangan Mas Budi.
“Ya sudah nanti aku telpon saja. Padahal tadi Pak Jemari bilang katanya duduk bersebelahan dengan perempuan yang aku curigai yang menaruh bayi.” ucap Mas Budi kemudian. Bersamaan dengan itu Nesya berlari dari arah kamar menuju ke mereka berdua.
“Nah ngapain sih kamu lama sekali ga masuk masuk ke kamar. Malah berduaan dengan Mas Budi. Awas aku laporkan ke Ibu Sari. Malam malam berduaan.” ucap Nesya setelah berada di dekat mereka.
“Apa sih kamu! Ini lagi ada masalah penting.” ucap Marginah sambil menepuk pundak Nesya.
“Apa? Kepo aku.” tanya Nesya sambil menatap Marginah
“Bapakku ternyata duduk sebelahan dengannya Maknya Abi.” jawab Marginah dengan nada serius.
“Masih dicurigai Nah, entah iya entah bukan.” saut Mas Budi meluruskan jawaban Marginah.
“Sudah Mas, biar saja Abi di sini. Anaknya lucu dan tidak rewel. Kita semua sudah sayang pada Abi.” ucap Nesya sambil menatap Mas Budi.
“iya Mas, biar saja tidak usah dicari ibunya.” sambung Marginah.
“Iya biar Abi di sini tidak apa apa. Tapi Nah, Nes alangkah baiknya jika nanti dia tahu orang tuanya. Tidak seperti aku. Mungkin kamu tidak pernah merasakan bagaimana seorang anak yang tidak tahu orang tuanya, tidak tahu asal usulnya. Tidak tahu trahnya. Saat mengisi formulir data diri itu selalu ada rasa sakit di hati. Saat kalian dikunjungi keluarga, saat dengar ada keluarga keluarga yang ada perkumpulan trah dan lain lain ... rasanya dada dan leherku sakit.” ucap Mas Budi sambil menatap Marginah dan Nesya.
“Mas, aku tahu Bapakku tapi aku malah kecewa mending aku tidak tahu Bapakku saja.” ucap Nesya dengan nada serius sambil menatap Mas Budi dengan tajam.
“Sudah tidak usah berdebat, kata Bapakku yang bernama Pak Jemari semua itu harus disyukuri ada itu berkah. Aku sebagai Marginah sudah takdirnya menjadi anaknya Pak Jemari tidak bisa milih menjadi anaknya Pak Presiden. Kalau bisa memilih menjadi anaknya siapa Pak Presiden bisa punya anak banyak sekali. Nesya punya orang tua seperti itu ya sudah takdir Nes, bersyukur kamu diberi hidup dan bisa tinggal di panti ini.” ucap Marginah berusaha menengahi
“Kamu juga akan bilang ya Nah, kalau aku sudah takdir punya orang tua tidak jelas siapa dan harus disyukuri diberi hidup dan tinggal di panti.” ucap Mas Budi sambil menepuk pundak Marginah.
“Harus disyukuri kita diberi hidup dan sehat. Sudah yok, aku ngantuk... “ ucap Marginah lalu menarik tangan Nesya. Mereka berjalan menuju ke kamarnya masing masing.
Sosok Marginah dan Nesya sudah tidak terlihat mereka sudah masuk ke dalam kamarnya, sedangkan Mas Budi masih berjalan sebab letak kamarnya memang ada di bagian lebih belakang. Saat Mas Budi berada di depan ruang doa yang dia lewati. Mas Budi berhenti sesaat. Dia teringat ucapan Marginah. Ada itu berkah, harus disyukuri bisa terlahir dan hidup. Mas Budi lalu membelokkan badannya, dia membuka pintu ruang doa dengan pelan pelan. Mas Budi memasuki ruang doa itu. Saat Mas Budi menyalakan lampu betapa kagetnya dia, saat melihat sosok Ibu Sari sedang duduk bersimpuh sambil memangku adik bayi. Ruangan yang semula gelap dan mendadak terang tidak mengubah posisi duduk Ibu Sari, terlihat dia masih khusyuk melantunkan doa doa. Mas Budi pun lalu ikut berdoa.
Mereka berdoa lumayan lama, akan tetapi adik bayi tetap tenang di dalam pangkuan Ibu Sari. Dan sesaat kemudian Ibu Sari mengakhiri doanya, Mas Budi pun ikut juga mengakhiri doanya. Terlihat Ibu Sari sangat hati hati akan berdiri sambil mengendong adik bayi. Mas Budi yang melihat hal itu lalu membantu Ibu Sari.
“Biar Abi saya gendong dulu Bu.” ucap Mas Budi lalu mengambil adik bayi dari tangan Ibu Sari.
“Abi anteng ya Bu.” ucap Mas Budi sambil menatap wajah Abi yang tenang dan tampak bibirnya tersenyum.
“Iya Bud. Ibu berdoa buat kesehatan kita semua. Berdoa agar Ibu diberi kekuatan untuk mengasuh kalian semua. Juga mengajari Abi akan sudah terbiasa mendengar lantunan doa... Dan sepertinya dia suka dan anteng.” ucap Ibu Sari lalu menerima Abi dari tangan Mas Budi. Mereka lalu berjalan keluar ruang doa setelah Mas Budi mematikan lampu di ruangan tersebut.
“Bu.” ucap Mas Budi dengan pelan
“Ada apa Bud, ada masalah apa?” tanya Ibu Sari sambil menatap wajah Mas Budi.
“Kata Pak Jemari dia duduk sebelahan di bis dengan perempuan yang dicurigai Ibunya Abi.” ucap Mas Budi dengan nada serius sambil menatap Ibu Sari.
“Sudahlah Bud, tidak usah terlalu memaksakan diri mencarinya. Dan juga belum tentu dia..Nanti kita akan buang buang energi. Sekarang yang kita pikirkan yang sudah ada ini. Bagaimana kita bisa merawat Abi.” jawab Ibu Sari sambil mengusap lembut kepala Abi.
“Ada itu berkah ya Bu?” tanya Mas Budi sekalgus meminta pendapat dan penjelasan dari Ibu Sari.
“Iya, bagaimana kita bisa merawat berkah itu agar bisa menjadi berkah buat sesama umat.” jawab Ibu Sari tetap memgusap usap lembut kepala Abi.
“Ya kalau kamu masih penasaran besok kamu ke kantor polisi laporkan foto rekaman CCTV itu. Dan biarkan Pak Polisi yang mengurus. Kerjaan kita mengurus panti banyak Bud. Kamu segera selesaikan kursusmu agar bisa mengantar adik adikmu. Juga segera urus pendaftaranmu yang katanya mau ikut kuliah di Universitas Terbuka, agar tetap bisa bantu Ibu.” ucap Ibu Sari kemudian sambil menatap Mas Budi.
“Sudah ya Bud, jangan terlalu dipikir masa lalumu, pikir yang sekarang dan masa depanmu. Masa lalu buat pembelajaran.” usap Ibu Sari selanjutnya yang kini mengusap usap lembut pundak Mas Budi
“Yok, Ibu mau ke kamar kasihan Abi kena angin malam nanti. Sudah kamu istirahat ya... cepat selesaikan kursusmu daripada sibuk mikir yang tidak jelas, besok kamu latihan nyetir mobil saja malah lebih berguna.” ucap Ibu Sari kemudian yang kini berjalan menuju ke ruangannya sambil memeluk tubuh Abi dengan erat agar angin malam tidak menerpa tubuh mungil Abi meskipun sudah terbungkus oleh kain. Sementara Mas Budi masih berdiri mematung mencerna semua yang diomongkan oleh Ibu Sari.