MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 84. Kecewa?


Ibu Sari dengan khusuk melantunkan doa sambil memangku Abi yang terlihat dengan tenang meminum asi dari Emak Baru yang ditaruh di dalam botol dot susunya.


Kedamaian mengalir di hati sanubari Ibu Sari jika sudah melantunkan doa doa pada Sang Khalik Pencipta Alam Semesta, dan siapapun orang yang turut mendengar lantunan doa Ibu Sari pun ikut serta merasakan aura damai itu. Demikian juga Nyonya Naura yang sedang berjalan di depan ruang doa. Suasana sepi panti lantunan doa dari Ibu Sari semakin jelas terdengar.


“Aku yakin misi akan berjalan lancar aku minta tolong pada orang yang tepat.” gumam Nyonya Naura. Lalu Nyonya Naura pun ikut masuk ke dalam ruang doa.


Semantara itu di lain tempat. Bis pariwisata yang mengantar anak anak sudah sampai di tempat pariwisata. Bis berhenti di tempat parkir. Semua penumpang di dalam bis segera turun. Wajah wajah bahagia terlihat pada mereka semua. Akhirnya mereka dibuat berkelompok kelompok agar mudah dalam mengawasi.


Akan tetapi tiba tiba terlihat sebagian besar dari mereka tampak kecewa sebab tempat wisata yang mereka kunjungi adalah sebuah museum.


“Lah kok kita ke sini.” ucap Ibu pegawai masak yang janda, saat Mas Budi selaku pimpinan sedang antri untuk membelikan tiket masuk.


“Iya iya, mungkin Pak Sopir salah tempat.” ucap Emak Baru sambil kedua tangannya memegang tangan Nita dan Vany agar tidak hilang.


“Tidak apa apa yang penting kita jalan jalan. Mungkin juga tidak salah Pak sopirnya. Mungkin ini memang sudah pilihan Bunda Naura kan ini wisata untuk anak anak, jadi kalau di museum kan bisa sekaligus belajar.” ucap Ibu Perawat.


“Mak.. Mak.. aku pengen kencing..” bisik Nita pada Emak Baru


“Aku juga Mak, aku sudah aku tahan sejak tadi.” ucap Vany juga yang memang terlihat wajahnya sudah tidak tahan lagi menahan hingga tangan yang digandeng oleh Emak pun dia tarik lalu dia memegang bagian tubuhnya yang sudah akan mengeluarkan air seni itu.


Emak lalu menoleh noleh pandangan matanya mencari suatu tempat yang ada tulisan Toilet. Dan akhirnya Emak pun menemukan tulisan itu. Dia dengan segera menarik tangan Nita dan Vany. Mereka bertiga segera berjalan menuju ke toilet.


“Mak ayo ikut masuk aku takut nanti Emak pergi kalau aku di dalam.” ucap Vany saat disuruh masuk ke dalam toilet oleh Emak.


“Aku takut nunggu sendirian di luar Mak.” ucap Nita.


“Ya sudah ayo kita masuk bertiga, cepat nanti kita tertinggal rombongan. “ ucap Emak Baru lalu segera mengajak Nita dan Vany masuk ke dalam toilet umum. Setelah mereka berdua sudah selesai menuntaskan hajatnya. Emak Baru pun segera membantu Nita dan Vany merapikan pakaiannya. Dan mereka bertiga segera keluar dari toilet umum itu.


“Mak bayar pakai uangku.” ucap Nita dan Vany sambil mengeluarkan uang dari tasnya untuk membayar biaya mereka kencing. Mereka berdua memiliki sisa uang saku yang terkumpul dan dibawa untuk uang saku sama seperti kakak kakak lainnya.


“Kalian tahu saja, Emak belum punya uang.” ucap Emak Baru sambil menerima uang dari Nita dan Vany lalu memasukkan uang itu ke dalam kotak. Mereka bertiga lalu berjalan untuk kembali ke tempat semula. Nita dan Vany kini wajahnya sudah terlihat senang dan lega sebab sudah tidak menahan beban di kandung kemihnya.


Mereka bertiga segera berjalan cepat untuk menuju ke tempat semula di mana rombongan menunggu antri membeli tiket masuk ke dalam museum. Akan tetapi betapa paniknya Emak, saat sampai di tempat semula sudah tidak ada teman teman mereka. Kini yang ada hanya wajah wajah asing bagi mereka. Benar benar asing, sebab kini yang sedang antri membeli tiket masuk adalah rombongan turis asing.


“Waduh mereka sudah masuk. Emak ga punya uang lagi.” gumam Emak dengan ekspresi wajah kuatir sebab tanpa tiket tidak mungkin bisa masuk.


“Mak kita tidak bisa masuk ya?” tanya Nita dengan ekspresi wajah sedih dan kuatir bahkan sudah hampir menangis.


“Iya, kita ketinggalan. Apa kita nunggu di bis saja ya daripada kita hikang nanti. Pintu keluar museum bukan di sini., kita akan susah bertemu mereka.” ucap Emak Baru karena takut tersesat dan malah ketinggalan bis lebih bahaya lagi. Apalagi Emak Baru tidak punya telepon seluler.


“Percuma dong Mak, kalau kita tidak ikut masuk.” ucap Nita


“Apa kalian bawa hape?” tanya Emak Baru sambil menatap wajah Nita dan Vany yang sudah berurai air mata. Mereka berdua menggelengkan kepalanya. Emak Baru pun mendadak pusing kepalanya.


“Kita ke tempat bis saja nanti minta diceritain saja sama yang lain isinya apa di dalam museum. Dari pada nanti kita ketinggalan bis. Kita juga tidak bisa masuk kalau tidak punya tiket.” ucap Emak Baru masih terus membujuk.


“Masih ada uang saku ku Mak, kita belikan tiket Emak patungan aku dan Nita. Biar kita bisa masuk.” ucap Vany sambil mengambil uang dari dalam tasnya. Emak Baru terharu mendengar niat mereka berdua akan patungan untuk membelikan tiket pada dirinya. Akhirnya Emak Baru menuruti keinginan mereka berdua. Lalu mereka bertiga berjalan menuju ke tempat pembelian tiket. Saat mereka sudah di depan loket.....


“Mak... Mak... Mak...” teriak Marginah yang sedang berlari larian bersama Nesya dan Ibu Perawat mendekati mereka.


“Mbak Nahhhh!” teriak Nita dan Vany bersamaan wajah mereka berdua spontan terlihat kembali bahagia, saat melihat siapa yang datang , tangannya lalu segera menghapus air matanya yang sejak tadi terus meleleh. Emak Baru pun terlihat sangat bahagia.


“Emak, kami cari cari sejak tadi. Dicari di toilet tidak ada tadi katanya mengantar Vany dan Nita mau buang air kecil.” ucap Marginah setelah berada di dekat mereka. Tadi memang mereka mencari Emak Baru di toilet tetapi tidak menemukan sebab mereka bertiga ada di dalam toilet lalu dikira mereka sudah meninggalkan lokasi toilet.


“Ya sudah ayo segera masuk kita, biar tidak ketinggalan yang lain.” ucap Ibu Perawat lalu mereka segera berjalan menuju ke tempat antrian masuk lagi. Terlihat petugas memberikan pada mereka prioritas untuk segera masuk tanpa antri lagi setelah Ibu perawat dan Marginah menjelaskan rombongan lainnya sudah masuk lebih dahulu.


“Uang kita tidak jadi berkurang ya Van.” ucap Nita senang sebab tidak jadi membeli tiket pakai uang saku mereka. Vany menganggukkan kepalanya. Mereka senangnya bukan kepalang saat sudah bergabung dengan rombongan.


Mereka melihat lihat koleksi museum sambil mendengarkan penjelasan dari pemandu wisata.


“Mbak Nah, kok wisatanya seperti ini. Aku bingung Mbak.” bisik Nita pada Marginah.


“Kita lihat lihat dan dengarkan saja pemandu wisata itu. Kita jalan jalan sambil belajar.” bisik Marginah.


“Mbak, kita sudah bawa baju ganti, aku kira kita akan mainan air.” bisik Vany


“Ya sudah kita tunggu saja nanti siapa tahu nanti sampai sore, kita pakai ganti nanti kalau mau pulang.” bisik Marginah.


“Nah, kalau kita sampai sore di sini bisa ngantuk aku.” suara Angga yang tiba tiba ada di dekat mereka.


“Kita harus nikmati wisata dan belajar ini, lihat bule bule itu saja semangat dalam melihat lihat dan mendengarkan penjelasan dari pemandu wisata. Mosok kita sendiri malah kalah semangatnya.” ucap Mbah Parjan yang didengar oleh mereka semua. Mereka lalu membenarkan ucapan Mbah Parjan dan selanjutnya mereka berusaha menikmati wisata belajar yang gratis itu.