
Ibu Sari lalu mengajak perempuan itu bangkit berdiri dan berjalan meninggalkan ruang tamu. Perempuan itu memperbaiki letak tas slempangnya yang berada di tubuhnya lalu mengikuti langkah Ibu Sari. Saat keluar dari pintu terlihat suasana di luar sudah gelap namun lampu di teras ruang tamu belum dinyalakan. Ibu Sari lalu menyalakan lampu yang digunakan untuk menerangi teras ruang tamu dan jalan di depan panti. Terlihat mobil pak polisi masih terparkir tetapi tidak terlihat sosok Pak Polisi. Ibu Sari pun lega berarti tidak ada yang mendengar cerita dari perempuan ibunya Abi. Meskipun tadi perempuan itu berbicara sangat pelan akan tetapi Ibu Sari agak was was jika bapak bapak polisi sudah berada di luar ruang tamu, dan mendengar rahasia ibunya Abi.
“Bu, kita cari Bapak Bapak Polisi tadi, kita sampaikan jika sampeyan tinggal di sini.” ucap Ibu Sari lalu berjalan di sepanjang koridor menuju ke ruang perpustakaan. Karena Ibu Sari melihat ruang perpustakaan menyala lampunya yang berarti ada orang di dalamnya. Ibu Sari membuka pelan pintu ruang perpustakaan terlihat ada beberapa anak panti yang sedang belajar terutama anak anak yang masih duduk di sekolah dasar, mereka belajar sambil menunggu jam makan malam.
“Anak anak apa ada yang melihat Bapak Polisi sekarang di mana?” tanya Ibu Sari
“Tadi saya lihat di kebun belakang Bu.” jawab salah satu dari mereka.
“Baru saja saya lihat di ruang sembayang Bu, tadi diantar Mas Budi.” jawab yang lain. Informasi yang belakangan yang dianggap masuk akal oleh Ibu Sari karena hari sudah gelap tidak mungkin mereka berada di kebun. Setelah mengucapkan terima kasih Ibu Sari berjalan menuju ke ruang doa.
“Bu, saya juga ingin sembahyang saya akan mohon ampun dan mengucapkan syukur Bu.” ucap perempuan itu.
“Silahkan Bu, mari kita ke sana.” ucap Ibu Sari lalu mengajak perempuan itu terus berjalan di sepanjang koridor lalu membelokkan langkahnya berjalan di koridor lainnya yang menuju ke ruang doa.
“Bu itu di depan ada kran air tetapi di dalam ruang doa juga ada kamar mandi kecil. Silahkan Ibu Narimah mau yang di mana.” ucap Ibu Sari sambil menunjukkan sebuah kran air di depan ruang doa yang berjarak dengan lantai koridor.
“Yang di dalam saja ya Bu.” ucap perempuan itu sambil tersenyum. Ibu Sari lalu menganggukkan kepalanya sambil tangannya memberi kode mempersilahkan perempuan itu masuk. Dan sebelum perempuan itu masuk, kedua Bapak Polisi dan Mas Budi keluar dari ruang doa.
Perempuan itu menunggu bapak Polisi dan Mas Budi keluar dulu baru dia masuk ke dalam.
“Bagaimana Bu, sudah selesai?” tanya salah satu Bapak Polisi.
“Sudah Pak, saya juga akan meminta Mas Budi mencabut laporannya. Ibu Narimah juga akan tinggal di sini. Semua akan kami selesaikan dengan kekeluargaan Pak.” ucap Ibu Sari sambil menatap Bapak bapak Polisi dan Mas Budi.
“Tapi Bu...” ucap Mas Budi
“Ibunya Abi sudah menceritakan semua pada Ibu, dia sudah minta maaf sudah tahu salahnya, sudah menyesali dan akan tinggal di sini akan memberi asi buat Abi dan bekerja membantu panti. Besok pagi pagi kamu ke kantor polisi dan mencabut laporan. “ ucap Ibu Sari sambil menatap Mas Budi
Sedangkan Ibu Sari berjalan menuju ke ruang doa menyusul Ibu Narimah. Setelah selesai sembahyang mereka berdua berjalan ke luar dari ruang doa.
“Bu, di mana anak saya? Siapa namanya Bu, saya memang belum memberikan dia nama, tidak sempat mikir Bu, saya melahirkan juga di bidan suatu yayasan yang memberikan layanan melahirkan gratis, saya benar benar tidak punya uang cukup buat biaya melahirkan, itu dulu kain gendongan dan baju baju yang saya taruh di kardus juga baju bekas yang mengasih orang. Kardusnya itu saya dapat di tempat sampah. Saya tidak tega waktu mau menaruh begitu saja terus saya lihat kardus. Pak ojek waktu itu menyarankan saya menaruh ke dalam. Tapi saya takut ...” ucap perempuan itu sambil berjalan di samping Ibu Sari.
“Sudah Bu jangan diingat ingat lagi, saya juga sedih mendengarnya. Namanya Abimana Ari Marnico. Abimana artinya berbudi tinggi, kebanggaan. Ari dan Marnico itu menurut anak anak adalah singkatan nama nama kami. Ari singkatan Angga dan nama saya Sari. Marnico singkatan dari nama anak anak yang menemukan Marginah dan Nesya. Doa kami semoga Abi menjadi anak yang baik berbudi luhur bisa membanggakan kami yang merawat dan sekarang juga bisa membanggakan Ibu kandungnya.” ucap Ibu Sari lalu berjalan menuju ke kamar kelompoknya Marginah. Sebab Abi selalu dititipkan pada Mawarni kalau Ibu Perawat sudah pulang.
“Aaminnn.. terima kasih Bu, namanya bagus banget, saya benar benar terharu.” ucap perempuan itu dengan bibir tersenyum
“Bu, maaf apa Angga itu nama suami Ibu Sari?” tanya perempuan itu dengan hati hati.
“Bukan Bu, Angga itu juga anak panti tapi dia anak seorang donatur tetap panti, dia yang membelikan segala keperluan Abi dengan uang dia sendiri.” jawab Ibu Sari sambil tersenyum.
“Oooo... baik banget anak itu.” gumam perempuan itu.
“Bu, apa anak anak nanti akan marah ke saya?” tanya perempuan itu kemudian dengan wajah kuatir.
“Tidak Bu, nanti saya yang akan menjelaskan pada mereka.” jawab Ibu Sari sambil mengetuk ngetuk pintu kamar Marginah. Tidak lama kemudian pintu dibuka oleh Nita, terlihat wajah Nita sangat kaget saat pintu dibuka terlihat sosok Ibu Sari dan ibunya Abi.
“Abi mau diambil!” teriak Nita sambil berlari menuju ke tempat tidur Mawarni di mana Abi dibaringkan.
Sementara itu terlihat Abi berbaring sambil diberi dot susu oleh Mawarni, dan dikelilingi oleh anak anak panti penghuni kamar tersebut Nesya yang tadi asyik melihat Abi sambil bermain main kaki Abi yang bergerak gerak langsung menoleh ke arah pintu dengan ekspresi wajah sedih dan kuatir menjadi satu, air matanya pun sudah mulai meleleh membasahi pipinya.. lalu dia kembali melihat Abi,
“Abi... Abi...” ucap lirih Nesya sambil menciumi kaki Abi. Mawarni yang selama ini selalu ikut membantu merawat Abi pun sudah mulai terisak isak menangis, dia langsung mengambil Abi dan memangkunya sambil masih memberi dot susu dia menciumi kepala Abi.
“Bu, jangan diambil dulu.” ucap Marginah yang kini dia juga takut akan diputus menjadi sahabatnya Nesya. Perempuan ibunya Abi melihat apa yang terjadi di depannya malah menangis tersedu sedu sambil terus mengusap air mata yang meleleh deras di pipinya. Dia tidak menyangka anak anak panti sangat menyayangi anaknya yang sudah dia buang di tempat sampah, yang sudah pernah akan dia gugurkan...