
“Sekarang jawab pertanyaanku Emak mau kemana?” tanya Ibu Sari sekali lagi.
“Bu... maaf ya.... hiks... hiks...” ucap Emak Baru sambil sambil terisak isak menangis sambil menghapus air matanya dengan ujung kain gendongan sudah.
“Bukan berarti saya tidak percaya pada Ibu Sari, tetapi saya benar benar takut dan bingung Bu... hiks.. hiks..” ucap Emak Baru kemudian dan belum berlanjut lagi kalimatnya, karena dia menghapus lagi air matanya.
“Saya akan ke kantor polisi untuk minta perlindungan. Maaf Bu.. bukan berarti saya dan Abi di sini tidak dilindungi oleh Ibu Sari.. Maaf Bu... benar benar saya bingung.” ucap Emak Baru selanjutnya, sekarang dia sambil menepuk nepuk pantat Abi dengan pelan pelan sebab Abi mulai merengek rengek.
“Mak, di kantor polisi itu banyak orang yang bertugas di sana, dan masing masing orang beda beda dalam menjalankan tugasnya. Saat Emak di sana belum tentu bapak bapak Polisi yang kemarin ke sini yang sedang jaga. Belum lagi kalau ada penjahat yang sedang ditahan atau sedang dibawa di kantor polisi untuk dimintai keterangan. Belum lagi kalau ada orang yang berkelahi sedang dibawa ke kantor polisi. Banyak orang beraneka macam masalah.” ucap Ibu Sari sambil menatap tajam ke wajah Emak Baru
“Kalau Emak malah difoto oleh orang yang di kantor polisi atau orang di jalan terus viral bagaimana hayo. Emak terlihat capek, menangis mengendong bayi, pasti orang orang ada yang gatel ingin memotret Emak. Terkadang banyak orang yang hanya memikirkan keuntungan diri sendiri agar mendapat uang dengan mengorbankan orang lain.” ucap Ibu Sari lagi
“Kalau ini waspada Mak.” ucap Ibu Sari sambil menepuk pundak Emak Baru.
“Bu, kok saya tidak mikir sampai di situ ya.. Kalau foto saya viral sambil mengendong bayi malah berbahaya ya Bu.. Apalagi kalau sampai dilihat oleh majikan saya. Hiiii.” ucap Emak Baru sambil begidik ngeri.
“Makanya Mak di sini saja, pakai kerudung pakai cadar atau masker kalau masih terus kuatir.” ucap Ibu Sari memberi saran
“Sini, Abi aku bawa. Mak menenangkan diri dulu sambil resapi perkataanku.” ucap Ibu Sari kemudian
“Bu, kalau Abi besok besar wajahnya kayak bapaknya bagaimana Bu?” tanya Emak Baru dengan ekspresi wajah kuatir.
“Mak, itu kan belum pasti juga, banyak juga orang itu mirip mirip meskipun tidak ada hubungan darah.” jawab Ibu Sari
“Dan lagi Mak, belum tentu juga majikan Emak punya kuasa terus. jabatan itu juga ada masanya. Kadang hari ini mendapat jabatan tinggi eee beberapa jam kemudian jabatan hilang apalagi dalam kurun waktu tertentu Mak.. Mak.. Hari ini punya kekuasaan beberapa tahun ke depan bisa menjadi tahanan. Belum lagi yang namanya kematian Mak. Orang yang segar bugar eee tahu tahu meninggal. Semua yang di dunia sifatnya hanya sementara Mak, tidak ada yang tahu, seperti roda yang berputar. ” ucap Ibu Sari kemudian
“Yang penting Emak kerja baik baik ikut membantu mendampingi anak anak panti. Percayalah Allah akan melindungi kita.” ucap Ibu Sari kemudian
“Aamiin...” ucap Emak Baru sambil menengadahkan tangannya lalu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya.
“Sini, Abi aku bawa, aku jadi waspada pada kamu Mak, takut Abi kamu bawa lari, meskipun ini anak kandungmu. Tapi aku wajib menjaga keselamatan Abi. Aku secara hukum adalah orang tua Abi. Di akta Abi adalah anakku.” ucap Ibu Sari sambil meminta Abi dari gendongan Emak Baru. Ibu Sari kuatir sebab Emak Baru juga pernah mencoba untuk bunuh diri dengan anaknya. Ibu Sari kuatir jika hal itu terulang lagi.
“Bu sekali lagi maaf... “
“Iya aku sudah berkali kali memaafkan kamu Mak. Nanti kalau kamu sudah bisa dipercaya baru boleh kamu berdua dengan Abi. Sekarang harus dengan pemantauan. Aku juga minta maaf jika kali ini aku agak keras. Semua ini demi keselamatan dan kebaikan kamu dan Abi.” ucap Ibu Sari sambil melepaskan kaitan kain gendongan yang berada di punggung Emak Baru. Emak Baru pun tidak bisa membantah kemauan Ibu Sari.
“Ayo sekarang kita sembahyang.” ucap Ibu Sari setelah mengendong Abi. Mereka berdua lalu berjalan keluar dari kamar tamu dan berjalan menuju ke ruang doa.
Ibu Sari berjalan lebih dulu setelah sampai di depan ruang doa Ibu Sari membuka pelan pelan pintu ruang doa itu. Terlihat lampu di bagian depan sudah menyala terlihat Mas Budi sedang berdoa. Ibu Sari lalu berjalan ke depan dia mengambil bantal kecil yang berada di ruang doa itu. Bantal kecil milik Abi yang memang ditaruh di situ. Ibu Sari lalu membaringkan Abi di dekat Mas Budi, kepala Abi dialasi oleh bantal kecil itu. Lalu kain gendongan Abi diselimutkan pada tubuh Abi.
Ibu Sari lalu berjalan menuju ke kamar mandi yang berada di ruang dia tersebut. Sementara Emak Baru terlihat sudah berjalan masuk ke dalam ruang doa. Terlihat Emak Baru berdoa di bagian belakang. Dia tidak berani maju ke depan. Sementara itu Ibu Sari setelah selesai dari kamar mandi dia berjalan ke depan dia berdoa dengan posisi di belakang Mas Budi.
Mereka bertiga berdoa dengan khusuk, Abi pun terlihat tidur dengan tenang. Akan tetapi beberapa saat kemudian terdengar suara isakan tangis di belakang. Emak Baru terlihat berdoa sambil terisak isak menangis. Emak Baru menyesali dengan apa yang sudah dilakukan dan juga bersyukur bisa berada di panti ini. Dia juga memohon agar selalu mendapat lindungan, dia juga berdoa untuk Ibu Sari agar selalu diberi kesehatan.
Emak Baru lalu menghapus air matanya, sebab lampu ruang doa terlihat sudah lebih terang, semua lampu sudah mulai menyala, dan terdengar suara banyak langkah kaki mulai masuk ke dalam ruang doa. Anak anak sudah mulai masuk ke ruang doa. Marginah dan Nesya pun juga sudah mulai masuk ke ruang doa. Tatapan mereka tertuju ke arah Abi yang tidur di samping Mas Budi, di depan Ibu Sari. Lalu pandangan mata mereka mengelilingi seluruh isi ruang doa, dia mencari sosok Emak Baru.
“Kok Abi tidak bersama Emak Baru.” gumam Marginah dalam hati. Dan betapa kagetnya Marginah saat melihat Emak Baru bersimpuh di belakang dan terlihat wajahnya sembab tampak habis menangis.
“Emak sepertinya habis menangis, apa dimarahi Ibu Sari. Kasihan semua penghuni panti sedang senang karena akan ada tamu donatur Ibu Kota, kenapa Emak malah menangis.” gumam Marginah di dalam hati lagi. Marginah lalu berjalan mendekati Emak Baru dan dia mengambil posisi untuk berdoa di samping Emak Baru. Nesya pun berjalan mengikuti Marginah. Marginah akan berusaha untuk menghibur Emak Baru nanti sehabis berdoa. Sebab di dalam ruang doa tidak boleh berbicara dengan yang lain, kalau tidak penting sekali.