MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 43. Penghuni Baru


Saat Marginah dan Nesya membalikkan badannya, Marginah mendengar ada suara kresek kresek. Marginah mengabaikan karena dia kira suara tikus atau kucing yang sedang mengais ngais makanan dari sampah yang tercecer. Akan tetapi suaranya semakin keras. Marginah mencari sumber suara itu.


“Nes, dengar suara kresek kresek ga?” tanya Marginah sambil matanya mencari cari sumber suara.


“Iya, tikus mungkin atau kucing.” jawab Nesya. Mereka berdua lalu lalu melangkah meninggalkan pintu gerbang halaman panti tersebut. Akan tetapi saat baru berjalan beberapa langkah.


“Ooooeeeek.” terdengar suara tangis bayi yang begitu pelan. Akan tetapi suara itu didengar oleh Marginah dan Nesya. Mereka berdua lalu saling pandang.


“Bayi.” ucap Marginah dan Nesya bersamaan. Mereka bedua lalu membalikkan tubuhnya dan mencari cari sumber suara yang didengarnya. Marginah berjalan cepat menuju ke pintu gerbang, matanya mencari cari ke arah bawah. Lalu dilihatnya ada sebuah kardus yang ditaruh di bawah di dekat bak sampah.


“Nes ini ada kardus.” ucap Marginah lalu dia jongkok di depan kardus itu. Nesya juga ikut mendekati kardus itu. Kardus tidak ditutup rapat. Dengan segera Marginah membuka kardus itu. Benar ada satu bayi mungil yang masih merah. Di dalam kardus selain ada bayi juga ada bungkusan tas plastik hitam. Suara kresek kresek tadi sepertinya karena kaki bayi yang menendang nendang tas plastik itu.


“Ayo kita bawa ke dalam, kita kasih ke Ibu Sari.” ucap Marginah lalu mengendong kardus yang berisi bayi itu. Mereka berdua terus berjalan menuju ke ruangan Ibu Sari. Terlihat beberapa penghuni panti sudah ada yang keluar dan berjalan menuju ke ruang doa. Mereka melihat Marginah membawa kardus tetapi tidak begitu memperhatikannya.


Saat Nesya akan mengetuk pintu Ibu Sari, pintu sudah terbuka lebih dulu, sebab Ibu Sari akan menuju ke ruang doa.


“Ada apa?” tanya Ibu Sari saat melihat wajah Marginah dan Nesya berekspresi kuatir. Dan melihat Marginah yang membawa kardus seperti mengendong bayi.


“Bu ini ada bayi di taruh di dekat bak sampah dekat pintu gerbang.” ucap Marginah sambil menunjukkan kardus yang dia bawa.


“Masih hidup atau sudah mati?” tanya Ibu Sari dengan nada kuatir dan segera mengambil alih kardus yang dibawa oleh Marginah. Lalu Ibu Sari membawa masuk ke dalam ruangannya. Marginah dan Nesya saling pandang lalu dia mengikuti Ibu Sari masuk ke dalam ruangan Ibu Sari. Marginah dan Nesya kuatir jika bayi itu sudah mati. Sebab hanya nangis sekali dan lirih.


Ibu Sari mengambil bayi itu lalu digendong dan ditepuk tepuk pelan, bayi itu bergerak gerak. Ibu Sari, Marginah dan Nesya terlihat lega. Marginah membuka tas plastik hitam di dalam kardus itu di dalamnya ada beberapa baju bayi. Tampak baju baju yang tidak baru. Marginah mencari cari botol susu namun tidak ada di dalam kardus itu.


“Tidak ada botol susunya Bu.” ucap Marginah.


“Mungkin terselip Nah, mosok ga dibawakan botol susunya.” ucap Nesya sambil membantu mengaduk ngaduk isi kardus. Namun hanya ada kain gendongan dan tas plastik yang berisi baju baju. Terlihat Marginah dan Nesya sudah melelehkan airmata sambil menatap bayi yang masih digendong Ibu Sari. Bayi itu tampak hanya diam saja, sambil sesekali mengeluarkan suara pelan.


“Sudah kalian sekarang pergi ke ruang doa dan seterusnya menyiapkan diri untuk ke sekolah. Biar Ibu urus bayi ini dulu. Marginah dan Nesya lalu menghapus air matanya dan selanjutnya dia melangkah menuju ke ruang doa.


Sementara itu di kamar tamu, Angga membukakan matanya. Dia menoleh ke arah tempat tidur Pak Jemari, saat dilihat tempat tidur sudah rapi. Angga langsung bangkit dari tidurnya dan duduk, dilihat tempat yang biasa untuk menaruh tas baju Pak Jemari sudah tidak ada.


“Pak Jemari kenapa tidak membangunkan aku.” teriak Angga yang kesal karena tidak bisa melihat kepulangan Pak Jemari. Angga langsung menuju ke kamar mandi dengan tergesa gesa. Setelah selesai dia langsung berjalan menuju ke ruang doa. Ruang doa sudah sepi, anak anak sudah masuk dan sudah berdoa dengan khusuk di dalam.


Setelah acara doa pagi selesai, berita tentang adanya bayi di depan panti gempar mengalahkan berita kepulangan Pak Jemari. Anak anak sudah tahu berita dari Marginah dan Nesya.


“Tidak tahu Kak, pakai baju putih sih, masih kecil banget masih merah mungkin baru lahir kemarin.” jawab Marginah. Angga yang baru selesai doa penasaran dengan berita pagi itu.


“Bayi siapa Nah?” tanya Angga mendekat ke Marginah. Marginah dan Nesya lalu menceritakan semua kepada Angga. Ekspresi Angga tampak terkejut tidak menyangka ada orang tua yang membuang bayi di dekat bak sampah.


“Kasihan ya, kok dibuang di dekat tempat sampah untung tidak dimakan binatang.” ucap Angga


“Kenapa tidak langsung saja dikasih ke Ibu Sari atau pengurus yang lain.” ucap Angga lagi.


“Kasihan ya seperti nasibnya Mas Budi. Ayo kita lihat bayinya lagi.” ucap Marginah lalu mereka berjalan ke ruang Ibu Sari. Di saat bersamaan Mas Budi sudah pulang dari mengantar Pak Jemari. Setelah memarkir motor, Mas Budi berjalan menuju ke ruangan Ibu Sari juga. Dia tampak heran saat anak anak berkerumun di depan pintu Ibu Sari.


“Ada apa?” tanya Mas Budi.


“Ada bayi.” jawab anak anak. Mas Budi terlihat kaget. Namun tidak lama kemudian Ibu Sari keluar sambil mengendong bayi.


“Ayo kita semua ke ruang makan, ada hal penting yang ingin Ibu sampaikan.” ucap Ibu Sari lalu anak anak mengikuti kata Ibu Sari mereka semua berjalan menuju ke ruang makan dan duduk dengan rapi di tempatnya masing masing. Ibu Sari lalu menyampaikan berita terkini di panti ada penghuni baru, adik mereka yang masih bayi yang ditemukan oleh Marginah dan Nesya.


“Bu adiknya laki atau perempuan?” tanya Nita dan Vani dengan mata berbinar binar sebab senang mendapat adik baru.


“Laki laki, belum ada namanya, Ibu cari cari di kardus tidak ada pesan apa apa.” jawab Ibu Sari.


“Dikasih nama Jemari saja Bu, sebab Pak Jemari pulang kok ada bayi laki laki, buat pengganti Pak Jemari.” usul Angga


“Jangan kasihan nanti nama Jemari sudah tidak up to date.” ucap Marginah.


“Siapa tahu ke depan malah jadi nama yang keren. Ya sudah biar keren jadi James Ari aja...” ucap Angga.


“James Ari Marnico. Keren tuh he.. he... “ usul Marginah


“Terserah Ibu Sari lah yang memberi nama.” ucap Marginah selanjutnya.


“Ya sudah kalian sekarang makan dan selanjutnya pergi ke sekolah.” ucap Ibu Sari selanjutnya, beliau lalu menyerahkan bayi itu kepada Ibu Perawat yang sudah datang. Sementara itu Mas Budi terlihat duduk terdiam, dia teringat nasibnya yang dulu ditaruh di panti saat bayi. Dan dia teringat akan seorang perempuan yang dia lihat tadi saat keluar mengantar Pak Jemari, dia melihat seorang perempuan bukan orang desa sini naik ojek dengan arah yang sama dari jalan panti dan menunggu bis di jalan raya sama seperti Pak Jemari. Perempuan itu terlibat wajahnya sembab seperti habis nangis.


“Apa dia yang menaruh bayi itu.” gumam Mas Budi dalam hati.