MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 53. Nesya Histeris


Waktu terus berlalu. Hari Sabtu pun tiba. Selesai pelajaran terakhir Angga bersama Marginah dan Nesya berjalan keluar kelas. Sejak pagi terlihat Angga hanya diam saja.


“Kamu kenapa sih Nga sejak tadi diam saja, sakit gigi apa lupa sikat gigi?” tanya Marginah sambil menepuk pundak. Angga dengan pelan.


“Sepertinya yang kedua Nah.” saut Nesya sambil tertawa kecil.


“Enak aja, meskipun aku ga sikat gigi tetap harum bau mulutku.. Hah.. Hah.. Hah.. “ ucap Angga sambil melepas udara dari mulutnya diarahkan ke wajah Marginah dan Nesya.


“Angga kamu itu menjijikkan..” teriak Nesya dan Marginah sambil menutup wajahnya dengan tas mereka. Sedangkan Angga terus tertawa senang sudah bisa membuat Marginah dan Nesya spontan menutuo wajahnya dan marah marah.


Saat Angga tertawa tawa dari ujung tampak siswi siswi yang akan main ke panti berjalan juga ke arah pintu keluar sekolah.


“Mereka itu yang membuatku diam" ucap Angga sambil dagunya menunjuk pada siswi siswi fans nya yang berjalan menuju ke pintu gerbang.


“Kamu itu aneh banyak cowok mendekati mereka, mereka itu siswi siswi populer, pemes di seantero sekolah.” ucap Nesya dan Angga diam saja sambil terus berjalan. Beberapa teman temannya anak panti yang menunggu jemputan mobil Ibu Sari sudah berdiri di bawah pohon rindang si halaman sekolah. Angga segera berjalan dan mendekati mereka lalu Angga berada di samping anak yang teman sekelas siswi siswi yang akan main ke panti itu.


“Mas, nanti kamu yang nemui mereka ya.” ucap Angga sambil menepuk pundak teman panti dan sekaligus kakak kelasnya itu.


“Beres, nanti aku temui mereka sama yang lain.”


“Tuh mobil Ibu Sari sudah datang.” ucapnya kemudian sambil memeluk pundak Angga. Semua penghuni panti sayang pada Angga, setelah mereka mengetahui permasalahan Angga dan Angga tidak sombong pada mereka apalagi banyak membantu panti. Saat pertama melihat Angga yang dingin apalagi berani menggebrak meja, mereka mengira Angga pribadi yang sombong dan menyebalkan. Ternyata dengan berjalannya waktu Angga bisa membaur dengan penghuni panti yang lain dan tidak sombong.


Mereka berjalan menuju ke mobil yang dikendarai oleh Ibu Sari. Disisi siswi yang akan main ke panti langsung berlari juga menuju ke mobil Ibu Sari. Salah satu dari mereka berjalan mendekat ke jendela mobil Ibu Sari.


“Bu, nanti kami jadi main ke panti tetapi kami pulang dulu ya, nanti jam dua lebih kami akan datang.” ucap siswi yang mewakili kelompoknya itu.


“Iya, kami tunggu.” jawab Ibu Sari sambil tersenyum. Ibu Sari lalu menoleh melihat anak anak sudah duduk semua di dalam mobil. Marginah dan Nesya juga sudah duduk dan diam manis di samping Ibu Sari. Ibu Sari lalu menjalankan mobilnya. Dari kaca spion tampak siswi siswi tadi dijemput oleh mobil yang bagus bagus.


“Bu, apa kaya itu yang membuat orang percaya diri?” tanya Marginah saat mobil sudah menjauh dari sekolah.


“Tidak semua, percaya diri itu bisa muncul karena dia yakin dengan kemampuannya, yakin dengan kelebihannya. Contohnya saja saat kamu yakin dengan kemampuan matematikamu, kamu akan percaya diri saat test.” jawab Ibu Sari


“Tapi harus hati hati kadang percaya diri juga bisa membawa kita menjadi sombong dan itu akan menjatuhkan kita.” ucap Ibu Sari kemudian sambil terus fokus pada kemudi mobilnya.


“Pinter kamu.” ucap Ibu Sari sambil tersenyum.


“Aku percaya diri karena menjadi anak yang baik, menjadi sahabat baikmu Nah.. he... he...” saut Nesya..


“Semoga itu abadi ya Nes...” ucap Marginah sambil memeluk Nesya. Ibu Sari tampak tersenyum sambil terus melajukan mobilnya. Dan tidak lama kemudian mobil sudah masuk ke halaman panti. Namun Ibu Sari tampak kaget saat pintu ruang tamu yang biasanya tertutup sekarang terbuka dan terlihat ada mobil polisi. Anak anak pun tampak kaget.


“Bu, ada polisi jangan jangan mau mengambil Abi.” ucap Marginah dengan nada suara penuh kekuatiran.


“Bu jangan boleh diambil Bu, kasihan Abi kami sudah sayang hiks.. hiks...” ucap Nesya yang sudah mulai terisak isak menangis.


“Ini gara gara Mas Budi, aku benci.” teriak Nesya lagi.


“Nes, sabar. Semua bisa dibicarakan baik baik. Kita berdoa demi kebaikan semua.” ucap Ibu Sari lalu memarkirkan mobilnya. Ibu Sari segera turun dari dan menuju le ruang tamu, setelah menyuruh anak anak agar segera ke ruang makan untuk makan siang.


Ibu Sari dengan cepat segera melangkah menuju ke ruang tamu. Benar di dalam ruang tamu ada dua orang polisi dan Mas Budi yang ikut duduk menemui.


“Bu.” ucap Mas Budi saat Ibu Sari berada di depan pintu. Dua orang polisi itu terlihat bangkit berdiri dari duduknya lalu menundukkan kepala memberi hormat pada Ibu Sari. Ibu Sari lalu mempersilahkan dua polisi itu untuk duduk lagi di kursi. Ibu Sari lalu juga duduk di dekat Mas Budi.


“Bu, maaf kami datang karena laporan dari Mas Budi dan kami akan meminta keterangan dari Ibu Sari dan anak anak yang menemukan bayi itu.” ucap salah satu polisi itu dengan sopan.


“Baik Pak, tapi anak anak yang menemukan biar makan siang dulu. Jika Bapak Bapak berkenan kami juga mengundang Bapak Bapak untuk makan siang.” ucap Ibu Sari.


“Terimakasih Bu, jika sekarang jam makan siang silahkan Ibu dan Mas Budi makan dulu, kami akan menunggu di sini.” ucap salah satu polisi masih dengan nada sopan. Ibu Sari lalu mengajak Mas Budi untuk ke ruang makan, untuk makan terlebih dahulu dan juga Ibu Sari akan memberi tahu pada Marginah dan Nesya yang akan dimintai keterangan oleh polisi.


Ibu Sari segera berjalan keluar dari ruang tamu dia berjalan menuju ke dapur menyuruh pegawai panti membuatkan minum dan diberikan pada dua polisi yang ada di ruang tamu. Setelah itu Ibu Sari segera berjalan menuju ke ruang makan.


Beberapa menit kemudian setelah selesai makan siang. Ibu Sari menyampaikan informasi kepada anak anak kalau di ruang tamu ada dua Bapak Polisi, anak anak diminta tenang tidak usah takut dan kuatir, mereka hanya meminta keterangan.


“Aku tidak mau, aku tidak mau Abi diambil, kasihan Abi siapa tahu memang dititipkan di sini agar tidak dijual oleh Bapaknya!” teriak Nesya dan selanjutnya dia menangis dengan histeris. Marginah yang berada di sampingnya segera memeluk Nesya. Ibu Sari tampak kaget dengan apa yang diucapkan oleh Nesya. Mas Budi pun juga tampak kaget tidak menyangka jika apa yang dia lakukan berlawanan dengan apa yang dipikirkan oleh Nesya. Ibu Sari lalu bangkit berdiri dan berjalan mendekati Nesya.