MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 71. Tidak Sendiri


Setelah selesai acara makan pagi, anak anak keluar dari ruang makan untuk segera berangkat ke sekolah, demikian juga Ibu Sari, beliau segera berjalan ke luar dari ruang makan. Saat di depan pintu Ibu Sari mendekati langkah Mas Budi.


“Bud, kamu kursus agak siang kan? Kamu awasi dulu Emak sebelum Ibu Perawat dan Ibu Pegawai masak datang. Aku juga sudah menghubungi mereka lewat hapenya agar nanti selalu mengawasi Emak Baru. Ibu Pegawai masak ijin agak siang datangnya katanya ada kerja bantu bantu dulu di tetangganya yang sedang punya hajatan..” ucap Ibu Sari sambil berjalan di samping Mas Budi.


“Baik Bu, kalau begitu saya ke dapur belakang saja. Saya buat kayu bakar saja dan dari sana saya bisa mengawasi Emak yang bekerja di dapur samping ruang makan.” ucap Mas Budi lalu dia membalikkan tubuhnya tidak jadi menuju ke depan tetapi dia berjalan ke belakang menuju ke dapur belakang.


Sementara itu Emak sibuk membereskan ruang makan. Lalu dia berjalan ke dapur di samping ruang makan. Piring dan gelas sudah dicuci oleh anak anak panti yang sudah besar. Emak tadi dipesan okeh Ibu Sari untuk menyiapkan bahan bahan yang akan dimasak. Sambil mengendong Abi, Emak sibuk bekerja.


“Kalau anak anak pergi sekolah sepi rasanya.” gumam Emak Baru sambil berjalan ke luar dari dapur untuk mengambil lap yang ada di jemuran luar. Saat berjalan Emak merasa ada yang mengawasi dirinya. Lalu Emak mendekap erat Abi di dalam gendongannya sambil kepalanya menoleh noleh mencari cari siapa yang mengawasinya.


“Sepi sepi gini kok rasanya ada yang mengawasi aku.” gumam Emak yang sudah membawa lap dan masih menoleh noleh dan tiba tiba matanya melihat Mas Budi yang sedang membelah belah kayu di dapur belakang.


“Mas Budi, kok sepertinya dia tidak begitu suka dengan aku. Orangnya hanya diam saja kalau ketemu aku. Apa karena Bu Sari menyuruh menarik laporannya. Apa dia mau aku ditahan di kantor polisi.” gumam Emak Baru lalu dia cepat cepat masuk ke dalam dapur lagi.


“Yang penting Ibu Sari tidak membenci aku, aku ikuti yang diomongkan Marginah saja, nurut pada Ibu Sari.” gumam Emak lalu dia kembali bekerja menyiapkan bahan bahan yang akan dimasak.


Beberapa waktu kemudian terlihat ada dua orang wanita setengah baya datang ke dapur, mereka pegawai panti yang bertugas memasak.


“Maaf ya Mak, aku baru datang tadi membantu kerja dulu di tetangga yang punya hajat.” ucap salah satu wanita itu lalu dia segera memulai pekerjaannya demikian pula yang satunya.


“Iya Bu, tidak apa apa namanya juga hidup di masyarakat. Ini sudah selesai bahan yang saya potong potong.” ucap Emak Baru sambil menunjukkan hasil kerjanya. Sementara itu Mas Budi yang melihat sudah ada Ibu Pegawai masak datang, dia langsung pergi meninggalkan dapur belakang untuk pergi ke depan karena akan berangkat ke kursus nya.


Sekilas Emak Baru dari pintu dan jendela dapur melihat sosok Mas Budi yang berjalan ke depan.


“Bu.. Mas Budi itu orang bagaimana sih, maaf saya tanya karena saya orang baru. Kok sepertinya orangnya pendiam?” tanya Emak pada dua wanita itu.


“Mas Budi itu orangnya baik, rajin, nurut, sopan juga, tapi memang dia orang yang pendiam.” jawab salah satu wanita itu.


“Dia itu kan nasibnya hampir sama dengan Abi. Cuma bedanya Emaknya Abi datang.. kalau Emaknya Mas Budi tidak tahu, jaman dulu tidak terpikirkan untuk mencari, juga teknologi belum canggih.” ucap yang satu lainnya.


“Sudah Mak tidak usah sedih. Banyak orang yang nasibnya juga tidak baik. Semoga Abi menjadi anak yang baik dan pintar, bisa membanggakanmu Mak.” ucap salah satu wanita itu sambil terus bekerja.


“Nasibku pun juga tidak baik, Mak. Aku janda, suamiku selingkuh terus menikah dengan selingkuhannya dan aku dicerai. Anakku tiga ikut aku semua. Pusing Mak aku dulu. Untung aku dibantu Ibu Sari. Aku kerja di sini, dapat makan untuk aku dan anak anak ku. Sekolah anak anakku juga gratis karena ditolong oleh Ibu Sari. Dapat gaji tiap bulan lagi lumayan bisa untuk bayar kebutuhan bulanan.” ucapnya kemudian


“Anak Ibu juga di panti?” tanya Emak yang tidak mengira wanita itu seorang janda.


“Tidak Mak mereka tinggal di rumah dengan aku. Rumah Orang tuaku. Aku dulu ikut suami kerja di kota tetapi setelah cerai aku pulang ke rumah orang tua di desa sini.” jawab Ibu pegawai masak yang janda itu.


“Terus aku minta tolong pada Sari. Dulu aku sempat berpikir mau kerja ke kota atau ke luar negeri terus anak anak aku titip di panti. Tetapi Ibu Sari memberi tawaran aku kerja di sini sekalian ibadah Mak, kerja buat anak anak panti dan membantu Ibu Sari.” ucapnya lagi sambil terus bekerja


“Bagiku sekarang yang penting kerja dan merawat anak Mak, sudah tidak mikir laki laki.” ucapnya selanjutnya sambil menatap Emak Baru.


“Iya dari pada aku punya suami juga tidak bisa diandalkan, kerjanya cuma makan, tidur dan berduaan dengan ayam jagonya.” saut Ibu Pegawai masak satunya yang sejak tadi hanya diam mendengarkan cerita temannya.


“Suamimu itu selingkuh dengan ayam jago ha...ha...” ucap Ibu Pegawai masak yang janda sambil tertawa.


“Berarti aku tidak sendiri ya Bu yang bernasib buruk.” gumam Emak Baru sambil mengaduk aduk telur dan irisan sayuran yang akan dibuat telur dadar.


“Tidak sendiri Mak, banyak temannya yang penting kita harus kuat, demi masa depan anak. Ibu Sari yang tidak punya anak saja beliau juga kuat dan semangat mengurusi anak anak orang. Apalagi kita yang punya anak kandung. Kita bersyukur bisa bertemu Ibu Sari.” ucap Ibu pegawai masak yang janda.


“O ya, besok kan akan ada tamu Ibu Ibu juga ikut datang menemui?” tanya Emak Baru


“Jelas dong Mak, dapat bingkisan ha.. ha... ha.. ha...” jawab dua ibu pegawai masak secara bersamaan sambil tertawa.


Emak Baru hanya tersenyum, dia tidak akan ikut menemui tamu donatur. Tetapi dia tidak lagi sedih, setelah mendengar cerita dari Ibu ibu pegawai masak yang baru saja itu membuat Emak Baru merasa ada teman senasib meskipun kasusnya berbeda dengan dirinya. Emak Baru juga akan belajar untuk kuat demi Abi anaknya, dia akan bekerja di panti untuk membantu Ibu Sari sekalian ibadah.