MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 35. Musibah Pak Jemari


Hari Sabtu yang dinanti nanti tiba. Anak anak selesai makan siang langsung masuk ke dalam kamar mereka untuk menyiapkan baju yang akan dipakai besok pagi saat latihan. Saat makan siang tadi Ibu Sari menyampaikan jika besok boleh memakai baju training yang biasa dipakai saat olah raga sementara belum punya pakaian latihan khusus.


“Untung bajuku sudah kucuci.” ucap Angga saat masuk ke dalam kamar bersama Pak Jemari.


“Saya besok juga mau ikut Mas. Tidak menyangka aku mengantar Marginah banyak untungnya dapat sepuluh juta bisa ikut latihan pencak silat..... tapi...” ucap Pak Jemari terputus tampak wajah sedih Pak Jemari.


“Tapi kenapa Pak?” tanya Angga


“Saya tidak punya baju training.” Jawab Pak Jemari.


“Ya pakai baju yang ada saja Pak, yang penting nyaman, bisa bergerak.” ucap Angga


“Iya ya Mas. Aku nanti pengen kenalan dengan Mbah Parjan, kata Ibu Sari nanti orangnya akan datang.”


“Eh Mas gimana kabar Oma?” tanya Pak Jemari.


“Sudah membaik Pak kesehatannya, dua hari lagi kalau kondisi tetap stabil akan dilakukan operasinya. Doakan ya Pak.”


“Alhamdulillah kalau sudah membaik Mas, akan selalu saya doakan buat kesehatan Oma, kesehatan Papinya Mas Angga juga kesehatan Mas Angga. Saya benar benar tidak menyangka bisa kenal dengan Mas Angga dan Papinya Mas Angga. Orang kaya sangat dermawan membantu anak anak panti. Semoga umur saya dan umur Oma dipanjangkkan oleh Allah agar saya bisa berjumpa dengan Oma.”


“Aamiin ....” ucap Angga lalu merebahkan tubuhnya di tempat tidur.


Di saat sore hari. Di saat anak anak sudah selesai istirahat siang. Mereka bertugas menurut jadwal piketnya masing masing. Marginah dan Nesya bertugas menyapu dan mengepel lantai sepanjang koridor yang berada di depan dan samping. Sedangkan Angga dan kelompoknya bertugas menyapu halaman panti. Pak Jemari ikut membantu merawat tanaman yang berada di halaman panti. Tiba tiba mata Pak Jemari melihat seorang laki laki tua tetapi masih bertubuh tegap dan dengan langkah gesitnya memasuki halaman panti.


“Itu pasti Mbah Parjan.” gumam Pak Jemari lalu dia bangkit berdiri dari duduk jongkoknya yang sedang merawat tanaman. Pak Jemari lalu membersihkan tangannya dari kotoran yang melekat.


“Mbah Parjan.” teriak Pak Jemari dan laki laki tua itu menoleh ke arah Pak Jemari sambil tersenyum memperlihatkan giginya yang masih lengkap utuh dan rapi.


“Guru kenalkan saya calon murid Guru.” ucap Pak Jemari sambil membungkukkan badan dan mengulurkan tangan saat sudah berada di depan Mbah Parjan.


“Ha.... ha... ha.. apa kamu termasuk anak panti?” tanya Mbah Parjan dengan suara lantang sambil tertawa menepuk nepuk punggung Pak Jemari. Pak Jemari hanya bisa tersenyum menyeringai. Anak anak yang sedang menyapu di halaman lalu berlari dan memberi salam kepada Mbah Parjan.


“Guru mari saya antar untuk menemui Ibu Sari. Dan saya bawakan itu barangnya. Nanti tidur dengan saya ya Guru.” ucap Pak Jemari sambil menatap barang yang dibawa Mbah Parjan. Entah isinya apa satu karung yang tadi dibawa ditaruh di punggungnya. Pak Jemari lalu mengambil karung tersebut.


“Waduh ternyata berat kenapa tadi Guru membawa terasa ringan isinya apa Guru, aku kira isinya baju.” teriak Pak Jemari


“Itu isinya ayam dan hasil kebun.” jawab Mbah Parjan sambil menatap karung yang sudah dibawa Pak Jemari.


“Ooo makanya kok gerak gerak.” ucap Pak Jemari dan anak anak tertawa. Tertawa karena tingkah laku Pak Jemari juga tertawa senang sang pelatih sudah datang dan senang karena bakal dapat lauk ayam.


Mereka lalu berjalan menuju ke ruangan Ibu Sari, setelah Ibu Sari keluar menemui Mbah Parjan. Pak Jemari dan anak anak bersorak sorai membawa karung oleh oleh Mbah Parjan menuju ke dapur belakang. Pak Jemari yang akan mengeksekusi tiga ayam jago besar pemberian Mbah Parjan, sudah seijin oleh Ibu Sari.


Malam harinya benar Mbah Parjan tidur satu kamar dengan Pak Jemari. Pak Jemari merasa senang karena ada teman tidurnya di kamar, sebab Angga kalau malam sudah senang tidur bersama teman temannya. Angga sering mendengarkan cerita dari teman teman sekamarnya tentang masalah masalah yang dihadapi dan keinginan mereka agar hidup lebih baik dan bahagia. Angga yang tidak mendapatkan kasih sayang dari seorang ibu dan tidak bisa hidup bersama Papinya menjadi tidak begitu sedih sebab banyak temannya yang memiliki nasib yang sama meskipun berbeda beda kasusnya. Ada yang anak yatim ada yang anak piatu ada yang anak yatim piatu, ada yang orang tuanya cerai, ada yang meninggal dan ada yang tidak tahu siapa orang tuanya.


“Aku tidur di bawah saja, enak tidur di tempat yang keras.” ucap Mbah Parjan lalu duduk di lantai sambil menyandarkan punggung di dinding.


“Waduh kalau Guru tidur di lantai saya akan kuwalat kalau tidur di atas.” gumam Pak Jemari sambil menggaruk garuk kepala yang tidak gatal. Akhirnya Pak Jemari juga turut tidur di bawah.


Pagi harinya setelah sembahyang, anak anak sudah memakai baju training yang disarankan oleh Ibu Sari mereka semua sudah berada di halaman panti, sudah tidak sabar untuk belajar ilmu bela diri. Sedangkan Pak Jemari masih di dalam kamar memilih milih baju yang akan dipakai.


“Guru juga tidak memakai baju training dia juga hanya memakai celana dan baju kain biasa.” guman Pak Jemari sambil mengambil baju kain. Pak Jemari lalu menuju ke kamar mandi untuk berganti baju.


“Guru... Guru...” teriak Pak Jemari memanggil manggil Mbah Parjan. Sebelum Pak Jemari masuk kamar mandi tadi Mbah Parjan masih duduk bersila di lantai sedang melakukan meditasi.


“Apa Guru sedang mempraktekkan ilmu menghilang.” gumam Pak Jemari. Namun sesaat terdengar bunyi bel sebagai tanda anak anak harus segera kumpul. Pak Jemari lalu segera berlari menuju ke halaman. Sesampai di halaman terlihat anak anak sudah berdiri dengan formasi melingkar di dalam lingkaran berdiri Mbah Parjan dan Ibu Sari. Pak Jemari lalu segera mengambil tempat berdiri di samping Mas Budi.


“Anak anak sebelum dimulai, Mbah Parjan mau bertanya apa tujuan kalian ingin mempelajari ilmu bela diri?”


“Ayo dijawab.” teriak Ibu Sari


“Kalau dikejar orang biar bisa lari cepat Bu.” teriak Nesya


“Biar bisa melepaskan diri kalau mau dibawa pergi Bu.” teriak Marginah


“Biar bisa menolong orang yang sedang dianiaya..” teriak Angga


“Biar keren.” teriak anak yang lain.


“Semua tujuan kalian baik. Mbah senang kalian semua punya keinginan untuk belajar ilmu bela diri. Mbah inginkan ilmu yang nanti kalian peroleh untuk kebaikan, untuk menjaga keselamatan diri, untuk membantu orang lain yang sedang membutuhkan, untuk membela kebenaran.” ucap Mbah Parjan sambil menatap anak anak panti.


“Itu baru keren namanya, jika bisa membela kebenaran membantu orang.” saut Ibu Sari.


Akhirnya pelatihan pun dimulai, diawali dengan peregangan otot, pemanasan lalu dilanjut dengan gerakan gerakan......


“Tendang setinggi kepala.” teriak Mbah Parjan sambil memberi contoh gerakan. Anak anak mengikuti perintah Mbah Parjan.


Namun tiba tiba...


WBBBPPPREEEEEEK


Pak Jemari lalu segera menurunkan dan merapatkan kedua kakinya, selanjutnya pelan pelan berjalan meninggalkan tempatnya berdiri sambil memegang pantatnya, dengan kedua tangannya, untuk menutupi celananya yang robek. Beberapa anak yang dekat dengan Pak Jemari ada yang tertawa dan ada yang tersenyum.


“Terus latihannya, jangan menertawakan teman yang sedang terkena musibah.” teriak Mbah Parjan. Sedangkan Pak Jemari terus berjalan sambil menoleh sekilas.