MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 85. Akhirnya Asyik


Anak anak terlihat bersemangat setelah mendengar ucapan Mbah Parjan. Apalagi setelah mereka memasuk bagian gedung museum pengobatan tradisional. Mbah Parjan, Angga dan Marginah terlihat sangat antusias untuk melihat lihat dan mendengarkan penjelasan dari pemandu wisata.


“Ternyata asyik juga ya wisata di museum wawasan kita terbuka lebih luas. Baru tahu ternyata di setiap daerah di negeri kita sudah ada cara cara pengobatan tradisonal. Benar benar beraneka ragam... Aku kira awalnya hanya di daerah Jawa saja ada jamu, ternyata di daerah lain juga ada ramuan ramuan.” ucap Marginah sambil berjalan di samping Nesya. Di belakang Angga dan Mbah Parjan.


“Iya ya Nah, ternyata juga macem macem pengobatan tradisional yang ada di negara kita. Aku kira cuma pijat dan kerok. Ternyata di daerah lain ada juga macam macam.” ucap Nesya menanggapi ucapan Marginah.


“Makanya jangan kecewa dulu saat mendapatkan sesuatu yang belum sesuai keinginan kita. Pasti ada manfaat nya kalau kita bisa ambil.” ucap Mbah Parjan sambil menoleh ke arah Angga, Marginah dan Nesya.


“Iya Mbah, jadi semakin cinta dengan negara kita, punya banyak budaya dan kaya warisan leluhur yang harus dilestarikan, agar bukan orang asing nanti yang mempelajarinya lalu mereka patenkan, baru kita kebingungan.” ucap Angga dengan nada serius.


“Kamu keren Nga.” teriak Marginah dan Nesya sambil menepuk pundak Angga secara bersamaan.


Waktu terus berjalan dan akhirnya kunjungan di museum pun tuntas mereka semua keluar melewati pintu exit. Terlihat Emak Baru berjalan menggandeng Nita sedangkan Sandra berjalan menggandeng Vany.


“Kita semua langsung menuju ke bis.” teriak Mas Budi.


“Siap Mas Budi.” teriak mereka semua secara bersamaan. Hingga pengunjung lainnya menoleh menatap mereka sambil tersenyum.


Mereka terus berjalan menuju ke tempat bis yang masih setia menunggu. Mereka naik ke dalam bis satu persatu dengan tertib. Setelah semua masuk ke dalam tanpa ada yang ketinggalan bis berjalan pelan pelan meninggalkan lokasi tempat parkir.


“Ayo nyanyi nyanyi lagi ssperti tadi, biar pak sopir semangat.” ucap Pak Sopir dengan lantang agar anak anak mendengar.


“Lapar Pak...” teriak beberapa anak secara bersamaan. Sekarang jam memang menunjukkan jam makan siang. Namun tidak ada petugas crew bis yang membagikan makanan seperti pagi tadi. Pak Sopir hanya tersenyum saja.


“Tunggu ya.” ucap salah satu crew bis. Teihat beberpa anak anak mengambil snack mereka yang masih tersisa untuk mengganjal perut mereka.


“Emak suka tidak?” tanya Marginah sambil melongokkan kepala nya ke depan di dekat tempat duduk Emak. Marginah dan Nesya memang duduk di kursi di belakang Emak Baru yang duduk di samping Nita.


“Suka mbak Nah, Emak juga jadi belajar dapat masukan juga bagaimana merawat bayi, tadi Emak tanya tanya pada petugas pemandu cara memijat bayi juga ramuan ramuan buat kesehatan. Top pokoke senang suka.. jalan jalan dan dapat ilmu.” jawab Emak sambil tersenyum lebar.


“Nita suka tidak?” tanya Marginah sambil tersenyum menatap Nita.


“Kalau semua suka aku pun suka, jadi tahu juga banyak wayang di Indonesia, juga banyak jenis jenis kain di Indonesia, kalau lihat langsung jadi ingat Mbak Nah.” jawab Nita yang terpesona saat melihat koleksi di museum budaya. Nita terpesona karena tadi dia yang selalu dekat dengan Vany melihat Sandra yang menggandeng Vany banyak bertanya tentang koleksi koleksi kain khas daerah daerah Indonesia yang ada di museum budaya. jadi dia ikut memperhatikan penjelasan pemandu wisata.


Bis terus berjalan dan tidak lama kemudian bis masuk pada halaman sebuah rumah makan yang sangat besar. Anak anak bersorak sorak sebab itu pertanda mereka akan istirahat makan siang. Tidak lama kemudian bis berhenti, pak sopir mematikan mesin mobilnya.


“Sekarang silahkan semua turun untuk makan siang dan menunaikan hajatnya.” ucap salah satu crew.


“Langsung masuk saja, sudah dipesankan oleh Bunda Naura. Itu lihat pegawai rumah makan sudah menunggu kita, crew bis juga makan di sana. “ jawab crew bis.


“Horeeee.” teriak anak anak secara bersamaan. Mereka semua selanjutnya bangkit berdiri dan turun dari bis dengan tertib.


Mereka berjalan menuju ke dalam rumah makan itu dan secara bergilir untuk mengambil makanan dan minuman mereka.


“Kak Sandra, tolong bilangin petugasnya nasiku sedikit saja.” bisik Vany pada Sandra.


“Aku juga.” ucap Nita


“Nanti kalian lapar loh masih nanti malam makannya lagi.” ucap Emak Baru yang kuatir jika mereka berdua tidak makan banyak akan kelaparan sebelum jam makan malam tiba.


“O bagaimana kalau Nita dan Vany makan satu porsi berdua dan satu porsinya dibungkus dibawa ke bis untuk dimakan lagi nanti ya..” usul Sandra, Nita dan Vany tampak setuju karena memang porsi yang mereka lihat sangat besar. Emak pun terlihat tersenyum setuju.


Setelah mereka selesai makan siang mereka kembali menuju ke dalam bis. Emak Baru tangannya membawa satu kotak nasi bagian Nita dan Vany. Setelah semua masuk ke dalam bis. Bis mulai berjalan, anak anak pun kembali bernyanyi nyanyi di dalam bis.


“Pak kita mau pulang ya?” tanya Fadli yang duduk di samping Fikri.


“Kita lihat saja.” jawab Pak Sopir dan bis terus melaju membelah jalan raya. Anak anak terus melanjutkan bernyanyi nyanyi meskipun mereka kembali pulang, mereka tetap senang sudah jalan jalan dapat ilmu dan makan makan enak. Akan tetapi mereka semua mendadak bersorak sorak saat melihat bis memasuki tempat wisata wahana air. Wajah mereka semua terlihat bahagia dan tersenyum dengan lebar.


“Mbak Nah tidak sia sia bawa ganti baju, aku nanti mau cabur cabut...” teriak Nita yang kini sudah berdiri saat melihat lokasi tempat wisata wahana air sudah di depan matanya.


Bis terus berjalan menuju tempat parkir. Terlihat crew bis berbicara pada Mas Budi. Mas Budi lalu bertanya pada pegawai panti apakah akan ikut bermain main di air atau hanya menonton dan menunggu anak anak.


“Aku ikut bermain main ya Mas, belum pernah waktu kecilku.” ucap Emak Baru sambil tersenyum.


“Aku kan sekalian menjaga Nita dan Vany he.. he.. “ ucap Emak Baru lagi sambil tertawa kecil. Dia tadi pun juga sudah membawa baju ganti. Dan akhirnya semua pun ikut didaftar akan dibelikan tiket masuk komplit.


Bis akhirnya berhenti di tempat parkir. Anak anak sudah bangkit berdiri mereka sudah tidak sabar untuk turun dari bis. Dan setelah pintu dibuka oleh petugas crew bis, mereka turun satu persatu dengan tertib.


Mas Budi tampak berjalan paling depan dia tadi sudah diberi tahu oleh crew bis tentang tiket yang sudah dipesan oleh crew bis selaku pegawai biro wisata. Mas Budi sudah mendapat email kode tiket untuk rombongan panti.


“Nita dan Vany jangan ngajak ke toilet lagi ya kita tunggu sampai selesai Mas Budi dapat tiketnya.” ucap Emak Baru.


“Mak kalau kencing pas saat cebur cebur gimana?” bisik Nita