
“Apa kamu anak baru di desa ini?” tanya Ibu itu masih mendekap pakaian pakaian yang selesai dijemur.
“Iya Bu.” jawab Angga dengan sopan.
“Dimana rumahmu, siapa nama orang tuamu, mereka berdua bekerja dimana?” tanya Ibu itu lagi sambil terus memandang Angga dan sesekali melihat ke arah jalan.
“Saya tinggal di panti Bu.” jawab Angga.
“Mosok, kamu ganteng bagus keren kayak artis gini kok anak panti, kamu itu cocoknya jadi anaknya orang kaya.” ucap Ibu itu sambil terus mengamati sosok Angga, dia tidak percaya jika Angga anak panti.
“Benar Bu, saya anak panti. Kalau begitu biar Ibu Sari menjemput saya ke sini.” ucap Angga yang kini punya ide, agar Ibu Sari menjemputnya selain dia merasa takut dengan motor yang membuntuti juga agar Ibu itu percaya kalau dia anak panti.
Angga lalu terlihat mengambil hapenya untuk menghubungi Ibu Sari. Ibu Sari yang sedang sibuk di ruang kerjanya, sibuk mengelola dana agar bisa mencukupi segala kebutuhan anak anak dan operasional panti. Sibuk juga memikirkan kebutuhan kesehatan mental anak anak pantInya. Ibu Sari sedang menghubungi relasinya yang bisa memberikan terapi buat Marginah dan Nesya agar kedua anak itu tidak mengalami trauma berkepanjangan.
Sementara Angga yang tidak bisa menghubungi Ibu Sari terlihat tidak tenang wajahnya.
“Kamu bohong ya... kamu anaknya juragan baru di desa ini atau siapa kamu sebenarnya?” tanya Ibu itu sambil tersenyum menyeringai karena dia mengira Angga sudah ketahuan bohongnya di depannya.
“Sebentar Bu, telpon Ibu Sari sedang sibuk.” jawab Angga lalu Angga mencoba menghubungi nomor hape Ibu Sari lagi, tetapi tetap sama tidak bisa terhubung. Angga lalu menghubungi nomor hape Pak Jemari. Pak Jemari yang sedang di kamar terkaget mendengar hapenya berbunyi. Sebab jarang sekali hapenya itu mendapat panggilan.
“Siapa sih, apa Mak kangen nya sudah sampai ubun ubun, apa dia ada ikatan batin dengan Marginah, merasakan kalau Marginah sedang dapat cobaan...” gumam Pak Jemari sambil mengambil hapenya.
“Mas Angga, ada apa dia apa mau ngajak aku makan sate lagi he.. he...” gumam Pak Jemari lalu dia menekan tombol terima.
“Hallo Mas, mau ngajak aku makan sate apa mie rebus he... he...” ucap Pak Jemari sambil terkekeh.
“Pak, tolong ke ruang Ibu Sari dengan segera aku mau telpon ke Ibu Sari aku minta dijemput.” ucap Angga dengan lantang. Pak Jemari sampai menjauhkan hapenya dari telinga karena suara Angga yang sangat keras. Namun mendadak Pak Jemari kaget saat ingat Angga minta dijemput.
“Minta dijemput berarti Mas Angga dalam bahaya. Apa mau diculik ya dia.” ucap Pak Jemari, lalu dia dengan segera berlari menuju ke ruangan Ibu Sari sambil berteriak teriak.
“Bu.. Bu.. Sari... Bu Sari... Mas Angga dalam bahaya... mau diculik kayak Marginah dan Nesya.” teriak Pak Jemari. Marginah dan Nesya yang sedang belajar di perpustakaan mendengar teriakan Pak Jemari terpincang pincang berjalan keluar perpustakaan untuk melihat dan mendengar berita dari Pak Jemari. Begitupun anak anak panti yang duduk di Sekolah Dasar yang sudah pulang juga berhambur menuju ke arah Pak Jemari.
“Bu... Mas Angga bahaya, mau diculik.” teriak Pak Jemari dengan napas yang ngos ngosan karena detak jantungnya lebih cepat akibat berlari dan kuatir akan Angga. Ibu Sari nampak panik, dia melihat hapenya, mendengar kata culik dari mulut Pak Jemari, ada pikiran sang penculik sudah membawa hape Angga dan penculik yang akan berbicara dengan Ibu Sari.
“Bu, itu Mas Angga mau nelpon.” ucap Pak Jemari kembali sambil menatap Ibu Sari yang diam mematung. Ibu Sari lalu menekan tombol hijau. Dan benar yang berbicara adalah suara Angga dia minta dijemput di salah satu rumah sebelum area persawahan dari arah sekolah, berarti jika dari arah panti adalah setelah area persawahan.
“Pak Jemari, ayo ikut saya nanti Pak Jemari yang bawa sepeda Angga.” ucap Ibu Sari lalu dia segera mengambil kunci motor.
“Bu, nanti kalau saya diculik bagaimana.” gumam Pak Jemari dengan suara lirih agar tidak didengar oleh Marginah dan Nesya.
Ibu Sari lalu menyalakan mesin motornya, Ibu Sari menoleh ke arah Pak Jemari yang masih berdiri di depan ruang kerjanya. Ibu Sari menganggukkan kepala pada Jemari sebagai kode agar Pak Jemari segera naik di boncengan motornya. Tetapi Pak Jemari tetap diam berdiri mematung.
“Pak cepat sana ikut Ibu Sari.” teriak Marginah yang mengkuatirkan keadaan Angga. Pak Jemari lalu berjalan dengan malas menuju ke motor Ibu Sari. Setelah Pak Jemari menaruh pantatnya di jok boncengan motor, Ibu Sari segera menjalankan motornya dengan kecepatan penuh agar segera sampai di lokasi Angga berada.
Beberapa menit kemudian motor sudah memasuki halaman rumah tanpa pintu pagar yang ditunjukkan oleh Angga. Terlihat Angga jongkok di samping sepedanya. Setelah melihat motor Ibu Sari, Angga segera berdiri dan berlari menuju ke motor Ibu Sari.
“Pak....” teriak Angga saat melihat ada Pak Jemari di boncengan Ibu Sari. Ibu pemilik rumah itu, saat mendengar suara teriakan Angga keluar dari rumahnya dan turut berjalan mendekati motor Ibu Sari.
“Bapaknya kok hitam, anaknya putih bersih.” ucap Ibu pemilik rumah saat mendengar Angga memanggil Pak Jemari mengira Pak Jemari bapaknya Angga.
“Saya aslinya juga putih Bu, karena sering dijemur di sawah jadi hitam.” ucap Pak Jemari yang mendengar Ibu pemilik rumah ngomongi warna kulitnya.
“Mana penculiknya Mas, apa Ibu ini yang mau menyekap Mas Angga?” teriak Pak Jemari sambil menatap Ibu pemilik rumah. Ibu pemilik rumah itu terlihat kaget dengan perkataan Pak Jemari, namun hanya diam saja karena ingin tahu cerita Angga. Sekarang dia percaya kalau Angga anak panti karena Ibu itu sudah mengenal Ibu Sari sebagai Pimpinan Panti. Namun tidak yakin kalau orang yang dipanggil Pak oleh Angga adalah bapaknya Angga.
“Terimakasih ya Bu, sudah memberi tumpangan buat Angga.” ucap Ibu Sari pada Ibu pemilik rumah. Ibu itu membalas dengan tersenyum malu.
“Nga bagaimana ceritanya?” tanya Ibu Sari pada Angga.
“Tadi saya selalu diikuti motor yang mencurigakan Bu, orangnya pakai masker, terus saya masuk ke halaman ini waktu melihat Ibu ini mengambil pakaiannya yang sedang dijemur.” jawab Angga.
“Bagus keputusanmu membelokkan sepeda ke halaman rumah ini. Ya sudah ayo kita pulang, ceritanya dilanjut di rumah.” ucap Ibu Sari lalu pamit kepada Ibu pemilik rumah. Angga lalu membonceng Ibu Sari. Di dalam perjalanan pulang ke panti baik Ibu Sari maupun Angga berpikir bagaimana caranya agar anak anak merasa aman dan nyaman berangkat dan pulang sekolah.