
Ibu Sari dan Angga lebih dulu sampai panti kemudian mereka langsung menuju ke ruang makan. Sedangkan Pak Jemari datang belakangan.
“Mas Angga itu bagaimana sih kok ninggalin saya. Kalau saya diculik bagaimana coba?” ucap Pak Jemari yang sudah menyusul Angga di ruang makan.
“Ha... Ha penculiknya rugi Pak. Siapa coba yang mau beli Pak Jemari terus kalau diculik, siapa yang mau dimintai uang buat nebus Pak Jemari.” ucap Angga sambil tertawa
“E... namanya juga penculik Mas, tidak ada rotan akar pun jadi.. Buktinya sudah ada orang yang mau membeli saya.” ucap Pak Jemari dengan pelan.
“Siapa?” tanya Angga sambil menatap Pak Jemari
“Ha kok lupa kan Mas Angga sendiri yang membeli saya dengan harga sepuluh juta.” jawab Pak Jemari santai
“Pak Jemari menakutkan.” ucap Angga sambil bangkit berdiri akan meninggalkan Pak Jemari yang masih duduk di kursi makan namun sudah selesai makan.
“Aku transfer itu bukan untuk membeli Pak Jemari, tetapi itu uang buat bayar tenaga yang ngurusin tanaman Pak Jemari.” ucap Angga lalu berjalan meninggalkan Pak Jemari.
“Angga, kamu segera saja sampaikan pelajaran yang sudah kamu terima dari sekolah tadi kepada Marginah dan Nesya. Habis itu baru kalian istirahat siang. Marginah dan Nesya sudah di ruang perpustakaan.” ucap Ibu Sari saat berpapasan dengan Angga di pintu ruang makan.
“Baik Bu, itu juga lebih baik dari pada saya keburu lupa.” jawab Angga.
“Aku ikut ya Mas.” teriak Pak Jemari lalu mengikuti langkah kaki Angga. Nita dan Vani yang berada di dekatnya ikut pula.
Angga lalu menyampaikan semua pelajaran yang sudah dia tangkap dari apa yang sudah dijelaskan Ibu Guru. Pak Jemari, Nita dan Bani juga turut serta memandangi Angga yang sedang menjelaskan namun tidak mendengarkan karena Pak Jemari meskipun mendengarkan juga tidak bisa memahami sedangkan Nita dan Vani memandangi wajah tampan yang mereka berdua idolakan sebab memang mirip.wajah artis yng sering meraka berdua lihat di televisi.
“Begitu Nah, Nes yang saya tangkap. Kalau kalian punya pertanyaan dicatat saja nanti aku sampaikan ke bapak ibu guru yang bersangkutan. “ ucap Angga setelah selesai menyampaikan pelajaran sekolah yang dia tangkap hari ini.
“Iya Nga, terimakasih banyak ya.. sudah sangat berguna kok, buat tambahan kan tadi aku dan Nesya juga sudah pelajari sendiri dari buku. Yok sekarang kerjakan latihan latihan soalnya. Kalau ada yang tidak bisa besok kita tanyakan ke Bapak Ibu guru atau ke Kakak Kakak yang memberi les..Aku tadi sudah ngerjakan beberapa.” ucap Marginah. Dia memang sudah terbiasa semua latihan soal soal langsung dilahap sampai sampai jika ada bungkus tempe yang kertas pembungkusnya ada latihan soal juga dia kerjakan. Mak Dinah sampai heran kalau melihat Marginah dengan tekun melihat lihat kertas bungkus tempe lalu sibuk menulis nulis.
“Iya Nah, tapi nanti sore saja ya habis istirahat. Aku capek.” ucap Angga dan Nesya menyetujuinya.
Sementara itu Ibu Sari di ruang kerjanya berpikir pikir. Siapa orang yang mengikuti Angga, apa berita Angga anaknya donatur panti sudah menyebar di luar panti sehingga ada yang berniat menculik untuk mendapatkan uang tebusan. Memikirkan hal itu jantung Ibu Sari berdetak lebih kencang. Masalah Nesya dan Marginah belum selesai ditambah dengan masalah Angga. Ibu Sari terus berpikir bagaimana mencari jalan keluarnya. Namun saat ini yang didapat Ibu Sari masih jalan buntu. Andaikan Angga dia yang antar, lalu Nesya dan Marginah diantar oleh Mas Budi, jika ada anak anak lainnya gantian yang menjadi korban akan repot lagi.
“Sementara paling begitu dulu saja. Marginah dan Nesya diantar Mas Budi. Angga aku yang antar. Nanti sambil dipikirkan.” gumam Ibu Sari
“Mas bagaimana perkembangan Oma?” tanya Pak Jemari sambil rebahan di tempat tidur. Selama beberapa hari hidup di panti berat badan Pak Jemari naik, sebab biasanya dia pagi pagi sudah berangkat ke sawah hingga siang hari dan dilanjut sore hari, sekarang hanya sesekali membantu Mas Budi di kebun itupun tidak terlalu berat pekerjaannya.
“Tadi pagi kata Papi masih memburuk jadi belum ada kepastian jadwal operasi.” jawab Angga dengan nada sedih.
“Semoga segera membaik Mas, coba ditanya lagi.” ucap Pak Jemari.
“Iya Pak, aku juga akan mengatakan hal yang penting ke Papi.” ucap Angga lalu dia segera mengambil hapenya dan melakukan sambungan telpon dengan Papinya. Angga mengawali dengan menanyakan kesehatan Oma, dan jawabannya kesehatan Oma belum siap untuk dilakukan tindakan operasi besar. Selanjutnya Angga menceritakan kejadian yang menimpa Marginah, Nesya dan dirinya sendiri yang baru saja terjadi.
Papinya Angga hanya diam namun dia merasa sedih dan prihatin apalagi hal itu juga menimpa pada anak sulungnya. Papinya Angga tidak bisa membayangkan jika Angga benar benar diculik, mungkin dia bisa gila sebab memikirkan masalah Oma belum selesai ditambah masalah Angga.
“Nga, apa di panti ada orang yang bisa mengemudikan mobil?” tanya Papinya Angga selanjutkan dibalik sambungan telpon.
“Tidak tahu Pap. Eh Pak Jemari, Mas Budi itu bisa mengemudikan mobil tidak?” tanya Angga sambil menoleh ke arah Pak Jemari dan belum memutus sambungan telpon dengan Papinya.
“Setahuku bisa mengemudikan becak. Kalau aku mengemudikan becak tidak bisa apalagi mobil.” jawab Pak Jemari degan serius.
“Sepertinya tidak ada Pap. Memang kenapa Pak?” tanya Angga selanjutnya.
“Papi ada rencana kirim mobil buat antar jemput ke sekolah. Kalau begitu suruh saja ada orang panti yang kursus setir mobil. Untuk sementara biar sopir Papi salah satu berada di panti dulu.” ucap Papinya Angga
“Hore.....” teriak Angga tidak menyangka Papinya akan mengirim mobil untuk mengantar jemput ke sekolah.
“Ada apa Mas kok hore.. Aku boleh ikut hore tidak?” tanya Pak Jemari yang kini sudah bangkit dari sebagiannya dan sudah mendekati Angga karena mendengar kata hore dari mulut Angga. Pak Jemari mengira ada kabar bahagia tentang kesehatan Oma.
“Hust.” desis Angga pada Pak Jemari agar Pak Jemari jangan berisik sebab Papinya Angga masih berbicara serius. Pak Jemari pun menurut dia kembali diam seribu bahasa menunggu dengan setia ada berita bahagia apa.
Dan tidak lama kemudian Angga mengakhiri percakapannya dengan Papinya. Dan setelahnya Angga langsung berjalan cepat keluar kamar tujuannya ke ruang kerja Ibu Sari dia akan segera menyampaikan tentang rencana Papinya.
“Mas Angga... Mas Angga mau kemana? Horenya apa Mas? Aku juga pengen hore...” teriak Pak Jemari sambil mengikuti Angga, sedangkan Angga masih terus berjalan dia ingin segera ketemu Ibu Sari.