
“Ohhh iya Bu ..iya. .. iya.. maaf wajah Ibu masih cantik kok.” ucap Emak Baru yang sekarang memperhatikan tangan Ibu Perawat memijit mijit di alat peraga.
“Terimakasih Mak, sekarang Mak lihat tanganku sambil Emak memperagakan pada tubuh Emak ya.. Abi tidur kan, bisa dibaringkan di tempat tidur di dalam.”
“Langsung masuk saja Mak.” ucap Ibu Perawat kemudian. Emak Baru lalu bangkit berdiri dan berjalan menuju ke kamar yang ada di dalam ruang pengobatan itu. Emak masuk dengan berjalan pelan pelan, di kamar tersebut ada tempat tidur kecil ukuran single bed, ada bantal dan guling bayi. Kamar terlihat bersih dan rapi, ada juga peralatan bayi di atas meja kecil. Itu memang peralatan milik Abi, karena Abi sering dititip pada Ibu Perawat.
Emak pelan pelan menaruh Abi di tempat tidur itu ditaruhnya kepala Abi di atas bantal kecil, lalu di samping kiri kanannya ditaruh guling kecil Abi.
“Hmmm meskipun tidak diakui oleh ayahnya bahkan disuruh mati saja, akan tetapi banyak orang menyayangi dirinya.” gumam Emak sambil menatap wajah Abi yang tertidur pulas karena sudah kenyang. Emak lalu kembali berjalan ke tempatnya tadi. Emak lalu duduk lagi di depan meja Ibu Perawat.
“Dilepas bajunya tidak Bu?” tanya Emak dengan nada serius sebab dia benar benar tidak tahu.
“Nanti kalau Emak di kamar seorang diri yang praktek dengan lepas baju dan bra. Kalau di sini tidak usah Mak, nanti dikira kita saling membandingkan, kalau punyaku jelas jelas keriput tidak sekencang punya Emak he... he...” jawab Ibu Perawat sambil tertawa kecil.
“Ibu ternyata bisa bercanda saya kira orangnya serius.” ucap Emak sambil tersenyum.
“Pasti punya Ibu juga masih kencang karena masih orisinil he he..” ucap Emak kemudian ikut menimpali candaan Ibu Perawat.
“Ada kalanya serius ada kalanya bercanda Mak. Kalau sedang mengobati pasien ya jelas serius.” ucap Ibu Perawat lalu kembali memperagakan memijat dengan alat peraga sementara Emak memperagakan dengan memijit bagian tubuhnya sendiri. Ibu Perawat meminta Emak melakukan itu agar Emak cepat hafal jika langsung praktek.
“Aku dulu juga pernah mau bunuh diri seperti kamu Mak.” ucap Ibu Perawat setelah Emak sudah paham cara memijit.
“Maaf aku dengar itu dari cerita penghuni panti. Berita yang kudengar Emak dihamili oleh majikan dan tidak diakui terus Emak juga diusir oleh keluarga.” ucap Ibu Perawat kemudian.
“Iya Bu, saya setres mau bunuh diri dengan Abi.” ucap Emak dengan ekspresi wajah sedih.
“Apa Ibu juga dihamili oleh laki laki yang tidak bertanggungjawab Bu?” tanya Emak Baru dengan wajah kepo, dia mengira Ibu Perawat nasibnya sama dihamili orang tidak bertanggung jawab dan Ibu Perawat menggugurkan janinnya.
“Tidak Mak, tetapi tunangan saya yang menghamili sahabat saya. Cerita klise. Tapi itu benar benar menimpa saya.” jawab Ibu Perawat tetapi sudah tidak ada jejak ekspresi sedih di wajahnya.
“Kalau Ibu mungkin sakit karena merasa dikhianati. Kalau saya banyak orang menuduh saya yang menggoda, menuduh saya menikmati. Heleh amit amit Bu, saya itu dipaksa saya tidak suka, lha orangnya sudah tua perutnya buncit ih.. amit amit lha kok malah perut saya mlenting dan muncul Abi. Benar benar pusing kalau mengingat saat itu, sudah sakit menderita hamil tidak ada yang tanggung jawab, dIputus pacar, diusir keluarga.” ucap Emak yang matanya mulai memerah berkaca kaca.
“Tetapi saya di sini sudah senang Bu, belajar mensyukuri. Kata Ibu Pegawai masak tadi yang penting mikir anak mikir Abi, tidak usah mikir laki laki.” ucap Emak kemudian.
“Iya Mak, saat itu aku masih muda. Terus pernah juga dijodohkan oleh orang tua ku tetapi tidak jodoh Mak, orangnya ternyata sudah punya istri he... he... untung belum jadi. Malu juga berita sudah menyebar tetapi gagal.” ucap Ibu Perawat kemudian
“Owalah Bu, orang cantik cantik kok jodoh nya susah.” Gumam Emak Baru sambil memandang sedih Ibu Perawat.
“Iya Mak, terus aku dapat tugas dari rumah sakit untuk pelayanan di panti ini. Aku omong omong dengan Ibu Sari kok nyaman aku dapat wawasan dari Ibu Sari, yang namanya jodoh memang sudah diatur. Kita boleh mencari boleh mengejar tetapi itu memang misteri Ilahi Mak. Kadang yang suami istri juga bisa pisah entah pisah mati atau pisah karena tidak cocok.” ucap Ibu Perawat sambil menatap wajah Emak Baru.
“Yang penting kita semangat hidup dan bisa membantu yang lain. Begitu kata Ibu Sari. Terus Ibu Sari menawari aku bekerja tetap di panti ini selain membantu anak anak panti juga membantu masyarakat di sekitar panti sini. Bekerja dan ibadah Mak. Kebetulan rumah ku juga tidak jauh dari sini. Malah lebih jauh ke rumah sakit tempat kerja aku dulu. Orang tua aku mengizinkan, mereka juga senang karena aku sudah tidak lagi sedih dan murung. Gaji di atas kertas memang tidak sebanyak waktu di rumah sakit dulu, tetapi entahlah aku merasa tenang di sini. Dan rejeki juga mengalir terus Mak.” ucap Ibu Perawat sambil tersenyum.
“Dan semakin lama aku semakin sayang dengan anak anak panti sudah aku anggap sebagai anakku sendiri, yang besar besar aku anggap adikku.”
“Setiap orang punya masalah hidup masing masing Mak, kadang kita sudah berusaha untuk hidup baik baik, tetapi masalah hadir. Itu yang namanya ujian hidup Mak, agar kita semakin kuat dan menjadi umat yang semakin disayang Allah.” ucap Ibu Perawat selanjutnya sambil membereskan alat peraga yang tadi dipakai untuk mengajari Emak Baru.
“Kalau hidupnya tidak bener, terus dapat masalah Bu?” tanya Emak Baru dengan ekspresi wajah serius.
“Itu bukan ujian hidup Mak, tetapi kecebur di jurang yang dia gali sendiri he... he...” jawab Ibu Perawat sambil tertawa kecil.
“Sudah, ayo makan siang. Ini jam pegawai panti makan siang. Emak makan siang kapan?” ucap Ibu Perawat sambil melihat jam di tangannya.
“Nanti sama Ibu Sari dan anak anak saja.” jawab Emak Baru
“Ya sudah Emak di sini saja, aku titip ruanganku sekalian Emak nunggu Abi.” ucap Ibu Perawat sambil bangkit dari kursinya. Ibu Perawat lalu berjalan meninggalkan ruang pengobatan. Emak Baru menoleh menatap punggung Ibu Perawat yang terus menjauh.
“Awalnya aku pikir dia tidak punya masalah orangnya cantik, perawat.. owalah ternyata memang setiap orang punya masalah hidup sendiri sendiri yang kadang tidak dilihat oleh orang lain.” gumam Emak Baru dalam hati. Dia semakin senang dan percaya diri karena banyak teman yang baik baik di panti ini, teman teman yang memiliki masalah dan ujian hidup tetapi tetap semangat untuk hidup dan semangat untuk membantu orang lain.