MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 62. Waspada


Marginah tampak berusaha untuk memahami apa yang diucapkan oleh Ibu Sari dan sejenak menatap wajah Ibu Sari. Lalu dia sedikit tertunduk dan selanjutnya dia mohon diri akan segera ke kamarnya. Ibu Sari menganggukkan kepalanya lalu menutup pintu rapat rapat. Sedangkan Marginah langsung berlari di sepanjang koridor menuju ke kamarnya. Suasana panti sudah terlihat sepi. Anak anak sudah masuk ke kamar mereka masing masing. Sesampai di depan kamarnya, tampak Nesya sudah berdiri menunggu di depan pintu.


“Kamu lama banget sih.” ucap Nesya saat Marginah sudah berada di depannya.


“Ayo langsung ke kamar tamu, aku sudah ijinkan kamu pada Mbak Mawarni dan Kak Fatima.” ucap Nesya sebelum Marginah sempat berkata kata dan langsung tangannya ditarik oleh Nesya untuk berjalan menuju ke kamar tamu.


Sesampai di depan kamar tamu kedua anak itu mengetuk ngetuk pintu.


“Siapa?” suara takut takut dari dalam. Perempuan itu ada rasa trauma masa lalu jika ada yang mengetuk ngetuk kamarnya apalagi malam malam hari.


“Saya Bu... Marginah dan Nesya..” jawab Marginah dengan suara agak keras. Dia tidak kuatir bersuara agak keras karena lokasi kamar tamu jauh dari lokasi kamar kamar yang lain apalagi dengan lokasi ruangan Ibu Sari. Setelah mendengar suara anak perempuan yang tidak lain adalah suara Marginah. Perempuan itu lalu berjalan untuk membukakan pintu. Saat pintu sudah dibuka tanpa berkata apa apa Marginah dan Nesya langsung menyelonong masuk dan berjalan menuju ke tempat tidur. Perempuan itu sejenak terlihat kaget, akan tetapi saat teringat kalau dua anak gadis itu yang sudah menyelamatkan anaknya, perempuan itu lalu tersenyum dan menutup rapat rapat lagi pintu kamar itu.


“Bu, saya mau tidur di sini.” ucap Nesya yang sudah membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Sedangkan Marginah masih berdiri dan melihat Abi yang sudah tertidur dengan pulas. Marginah berpikir pikir kalau dia dan Nesya tidur di tempat tidur yang berbeda nanti kalau mereka sudah tidur sama saja tidak bisa melihat jika perempuan itu membawa pergi Abi.


“Bu, saya tidur di samping Abi ya.. Ibu yang di situ.” ucap Marginah sambil memandang wajah perempuan itu dan menunjuk pada tempat tidur yang sudah ditiduri oleh Nesya.


“Nanti kalau Abi nangis minta susu kalian akan terganggu.” ucap perempuan itu sambil menatap Marginah lalu melihat Nesya yang sudah terbaring tetapi matanya belum terpejam.


“Tidak apa apa Bu.” ucap Marginah dan Nesya bersamaan. Perempuan itu lalu berjalan menuju menuju ke tempat tidur dan membaringkan tubuhnya di samping Nesya. Sedangkan Marginah tidur di samping Abi, dengan tangan yang selalu memegang tubuh mungil Abi.


Sementara itu di ruangan Ibu Sari terlihat pintu terbuka dan muncul sosok Ibu Sari keluar dari ruangannya. Setelah menutup pintu Ibu Sari berjalan dengan cepat menuju ke ruang doa. Sesampai di depan ruang doa, Ibu Sari membuka pelan pelan pintu ruang doa yang tidak pernah dikunci. Di ruangan itu siapapun dan kapanpun orang orang boleh masuk dan sembahyang di situ. Ibu Sari menyalakan lampu yang hanya di bagian depan saja. Setelah lampu menyala Ibu Sari duduk bersimpuh memenangkan diri lalu dia mulai melantunkan doa doa.


Ibu Sari merasakan dengan melakukan hal itu hati dan pikiran menjadi jernih dan terasa masalah masalah yang dia hadapi diberi jalan dan dilancarkan urusannya.


Saat langkah kaki Ibu Sari sampai di depan pintu kamar tamu, Ibu Sari menghentikan langkahnya, lalu berdiri di depan pintu itu. Suasana tampak sepi tidak terdengar suara orang berbicara dan tidak ada suara tangis Abi. Dan selanjutnya Ibu Sari pelan pelan mengambil sesuatu yang ada di sakunya. Terlihat kini tangan kanan Ibu Sari memegang sebuah gembok kecil, Ibu Sari lalu mengembok pintu itu dari luar. Ibu Sari meraba pelan gembok kecil itu dan dirasa sudah terkunci dengan benar. Ibu Sari lalu pelan pelan berjalan meninggalkan tempat itu.


Waktu terus berlalu, Marginah terus saja tidur dengan memegang tubuh mungil Abi, dia sangat kuatir jika Perempuan yang tidur di kamar itu akan membawa pergi Abi di saat dia tertidur pulas. Sementara itu Nesya tidak bisa tertidur pulas dia bolak balik melongokkan wajahnya untuk melihat Abi, sebab terhalang oleh perempuan Ibunya Abi yang tidur di sampingnya.


Sedangkan perempuan Ibunya Abi terlihat tidur dengan sangat pulas. Sebab selain dia merasakan tubuhnya capek dan penat karena tadi dijemput polisi, diinterogasi dan dibawa ke panti, kini dia merasakan ketenangan di hatinya, sudah bisa bertemu lagi dengan anaknya dan sangat bersyukur bisa berada di dalam lingkungan yang baik. Dia juga merasa tenang akan dapat bekerja membantu bantu di panti. Tidak banyak yang dia inginkan asal bisa makan dan tempat untuk tidur dia sungguh merasa bersyukur, apalagi Abi juga bisa terawat dengan baik dan ke depan bisa bersekolah dengan baik pula.


Dan di dini harinya terdengar suara rengek tangis Abi. Marginah yang berada di sampingnya langsung terbangun dan bangkit dari tidurnya, sedangkan Nesya yang baru saja memejamkan matanya juga langsung terbangun.


“Aman Nah.” ucap Nesya dengan suara sangat lirih.


“Aman tapi ini Abi kencing, sudah penuh pempersnya, bantuin ganti pempers dan celananya.” ucap Marginah yang merasakan ada yang basah. Nesya lalu bangkit berdiri untuk mengambil pempers dan celana. Sementara Marginah terlihat sibuk melepas celana dan pempers yang sudah penuh sambil menenangkan Abi agar tidak merengek lagi.


Sedangkan perempuan Ibunya Abi masih tertidur, sebab suara tangis Abi memang tidak kencang hanya merengek saja. Akan tetapi Marginah dan Nesya yang dalam mode waspada dengan cepat membuka matanya. Setelah selesai terlihat Abi tampak tenang namun tidak lama kemudian dia menangis lagi. Marginah dan Nesya yang belum sempat terpejam matanya kini bangkit lagi dari tidurnya.


“Haus itu Nah.” ucap Nesya lalu dia bangkit berdiri dan berjalan menuju ke meja yang ada perlengkapan kebutuhan Abi. Nesya lalu membuatkan susu buat Abi, dia sudah terbiasa membantu Mawarni jika Mawarni sedang bertugas menjaga Abi jadi dia sudah tahu takarannya. Sementara Marginah menepuk nepuk paha Abi.


“Oooo Abi bangun, maaf maaf aku pulas sekali tidurnya.” ucap perempuan Ibunya Abi langsung bangkit berdiri berjalan menghampiri Marginah yang masih menepuk nepuk paha Abi yang masih menangis, dia langsung mengambil Abi dan mengendongnya mencoba untuk memberikan asi nya akan tetapi karena lama tidak diberikan pada anaknya asi itu tidak keluar dan Abi malah menangis lebih kencang. Nesya yang sudah selesai membuatkan susu lalu dengan segera memberikan pada Abi.


Setelah mendapatkan susunya Abi tertidur lagi. Marginah dan Nesya pun merasakan kantuk yang teramat sangat, akan tetapi dia masih kuatir sebab perempuan Ibunya Abi kini malah terjaga dia masih duduk di tempat tidur sambil memangku Abi, dia amati anaknya yang kini sudah terlihat besar dan gembul. Tidak seperti saat dibuangnya dulu yang masih merah dan kecil.