
“Ayo kita kalahkan orang orang jahat secara bersama sama.” ucap Angga lalu menengadahkan tangannya di depan Ibu Sari dan Marginah. Ibu Sari lalu menaruh telapak tangannya di atas telapak tangan Angga. Terlihat Angga dan Ibu Sari memandang Marginah lalu pelan pelan Margjnah juga menaruh tangannya di atas tangan Ibu Sari dan Angga. Ibu Sari dan Angga lalu tersenyum memandang Marginah dan mereka bertiga menggerakkan tangan dengan semangat untuk membangkitkan semangat bersama.
“Nga untuk sementara Marginah dan Nesya belajar di rumah. Tugasmu memperhatikan semua mata pelajaran yang diajarkan oleh para guru. Kemudian menyampaikan pada Marginah dan Nesya.” ucap Ibu Sari sambil tersenyum menatap Angga. Menurut Ibu Sari ini juga merupakan kesempatan agar Angga mulai memperhatikan pelajaran yang diajarkan oleh guru saat di kelas. Ibu Sari berharap dengan cara ini prestasi Angga bisa lebih baik. Angga terlihat tersenyum kecut dan mengangguk dengan ragu. Karena dia terbiasa tidak memperhatikan pelajaran sebab mengandalkan ada les privat untuk dirinya.
“Kamu pasti bisa. Sudah sekarang Angga istirahat di kamar ya, kamu kan juga lelah dengan kejadian yang baru saja terjadi.” ucap Ibu Sari sambil menatap Angga. Angga menganggukkan kepalanya mengerti maksud Ibu Sari, mungkin Ibu Sari masih ingin memberi nasehat pada Marginah, dan juga Marginah harus menghabiskan makanannya. Angga lalu pamit dan meninggalkan ruang kerja Bu Sari.
Angga lalu dengan segera berjalan menuju ke kamar tamu. Dia juga ingin segera melihat hapenya, ingin segera melihat kabar terkini tentang kepastian operasi Oma. Angga dengan cepat membuka pintu kamarnya. Saat pintu terbuka tampak Pak Jemari duduk di tepi tempat tidur sambil menopang kepalanya dengan kedua tangannya yang sikunya menancap di kedua pahanya. Wajah Pak Jemari terlihat sangat kusut. Pak Jemari bagaimana pun juga bingung, dia kecewa jika cita cita Marginah putus sebelum dimulai namun sejujurnya dia juga kuatir jika Marginah tertangkap dan dijual. Dia sering mendengar berita anak anak perempuan yang dijual untuk menjadi pekerja wanita tuna susila.
“Pak jangan sedih, Marginah sudah mau meneruskan cita citanya.” ucap Angga sambil terus melangkah untuk mengambil hapenya dari dalam tas.
“Untuk sementara Marginah dan Nesya belajar di panti dulu, Bu Sari akan minta ijin pada Kepala Sekolah.” Ucap Angga selanjutnya karena melihat Pak Jemari masih terlihat sedih.
“Benarkah?” tanya Pak Jemari sambil menoleh ke arah Angga sekarang sudah melepas kedua tangannya yang tadi menyangga kepalanya. Angga tersenyum sambil menganggukkan kepala.
Namun senyuman di bibir Angga tidak berlangsung lama, setelah melihat layar hapenya terlihat wajah sedih Angga. Angga lalu terlihat jari jarinya mengetik membalas informasi dari Papinya.
“Bagaimana operasi Oma, Mas. Apa sudah operasinya?” tanya Pak Jemari saat melihat wajah sedih Angga.
“Kondisi kesehatan Oma menurun Pak. Operasi ditunda.” jawab Angga sambil tangannya masih sibuk mengetik di layar hapenya.
“Kenapa setelah mendapat donor yang cocok malah kesehatan Oma memburuk.” gumam Angga dengan nada sedih lalu menaruh hapenya ke tempat tidur.
“Sabar Mas, kita doakan agar Oma cepat sehat dan kuat menjalani operasi.” ucap Pak Jemari memberi kekuatan pada Angga. Meskipun sebenarnya dia sendiri juga sedih memikirkan masalah masalah yang menimpa anaknya baru saja, Nesya dan juga keluarganya Angga.
“Istirahat ya Nah, jangan sedih lagi.” ucap Ibu Sari sambil membukakan pintu kamar. Marginah menganggukkan kepala lalu berjalan masuk ke dalam kamarnya. Terlihat Nesya berbaring di tempat tidurnya dengan air mata yang terus berlinang. Dia sudah mengirim chat kepada Ibunya, menceritakan semua kejadian di hari pertama dia sekolah. Tetapi semua chat nya belum dibaca oleh Ibunya. Tetapi dia tahu, ibunya belum membaca karena masih sibuk bekerja. Biasanya ibunya akan membuka semua chattingannya setelah malam hari saat sudah waktunya beristrirahat.
Marginah berjalan pelan pelan menuju ke tempat tidurnya yang bersebelahan dengan tempat tidur Nesya. Saat Nesya melihat Marginah sudah berada di dekat tempat tidurnya. Nesya mendongakkan kepala sambil mengusap air matanya.
“Nah... maafin aku ya.” ucap Nesya dan air matanya masih terus mengalir.
“Kamu tidak salah Nes, aku malah semakin kasihan ke kamu, aku merasakan apa yang kamu rasakan selama ini takutnya dikejar kejar mau dijual.” ucap Marginah sambil duduk di tepi tempat tidurnya. Nesya sekarang juga duduk di tepi tidurnya, mereka duduk saling berhadapan.
“Aku yang salah tadi tidak nurut pada Mas Budi yang mau mengantar kita.” ucap Nesya menyesali karena tidak mau diantar Mas Budi.
“Bukan salahmu Nes, kan aku juga setuju kita naik sepeda.” ucap Marginah. Lalu Marginah memberi tahu pada Nesya kalau dia dan Nesya untuk sementara belajar dari rumah.
“Aku juga masih takut keluar panti Nah, pasti bapak atau orang orangnya masih berkeliaran di sekitar sini.” ucap Nesya sambil mengusap air matanya.
Lalu mereka berdua membaringkan tubuhnya di masing masing tempat tidurnya. Mereka tidak mau mengganggu teman sekamarnya yang sedang istirahat. Marginah tidak bisa memejamkan matanya. Tubuhnya tidak merasakan sakit lagi mungkin karena pengaruh obat yang sudah diminumnya. Akan tetapi ingatan Marginah masih pada kejadian saat Bapaknya Nesya menarik dan mengendongnya ditaruh di boncengan motor. Saat teringat akan hal itu keringat dingin Marginah keluar di telapak tangan dan di dahinya. Tanpa sengaja kepala Marginah spontan menggeleng geleng. Nesya yang juga tidak bisa tidur menoleh ke arah Marginah
“Nah kamu kenapa?” tanya Nesya sambil bangkit dari tidurnya untuk melihat Marginah. Suara Nesya yang agak keras membangunkan Fatima. Fatima lalu membuka matanya.
“Inget kejadian tadi Nes.” jawab Marginah dengan lirih. Fatima mendengar suara lirih Marginah. Dia yang sudah mendapat berita tentang kejadian yang menimpa Marginah lalu bangkit dari tidurnya dan berjalan menuju ke tempat Marginah. Dia duduk di samping tubuh Marginah yang terbaring.
“Tenang ya Nah, jangan diingat ingat lagi kalau bikin kamu takut. Kita berdoa agar kita selalu mendapat lindungan dari Allah. Dan kamu ingat ingat cita citamu ya... percaya pada Bu Sari beliau akan menjaga kita semua. Nurut pada nasehat beliau ya...” ucap Fatima sambil mengusap usap kepala Marginah.