
Waktu terus berlalu tidak terasa sudah menjelang sore hari. Pak Jemari dan Angga sudah sejak tadi meninggalkan ruang perpustakaan. Anak anak yang lain juga satu demi satu meninggalkan ruang perpustakaan karena ada yang sudah capek dan ada yang karena mendapat jadwal piket kerja. Marginah Dan Nesya yang sedang tidak mendapat piket kerja masih asyik belajar komputer.
“Nes...” ucap Marginah sambil menoleh ke arah Nesya yang masih serius belajar mengetik. Nesya tidak menghiraukan panggilan dari Marginah. Nesya sedang belajar mengoperasikan ms word dia sambil belajar menulis di komputer dia gunakan untuk menulis curahan hatinya kerinduannya akan Ibunya yang masih bekerja. Marginah lalu mematikan komputer lalu berjalan menuju ke tempat Nesya.
“Nulis apa sih Nes?” tanya Marginah saat sudah berada di dekat Nesya. Marginah sekilas bisa membaca apa yang sudah ditulis oleh Nesya.
“Kangen Ibu aku Nah. Belajar nulis sekalian curhat. Aku tadi sudah tanya pada Mbak Mawarni bisa dikasih pass word, orang lain ga bisa baca.” jawab Nesya lalu dia menutup file nya.
“Sudah capek kamu ya. Aku sebenarnya belum capek. Tapi sudah ga mood nulisnya kalau ada kamu berdiri di belakangku.” ucap Nesya lalu mematikan komputer. Nesya bangkit berdiri dari kursi tetapi Marginah malah menarik salah satu kursi lalu duduk di dekat kursi Nesya.
“Kamu itu gimana sih, aku sudah mau pergi kamu malah duduk.” ucap Nesya sambil menepuk pundak Marginah.
“Ada berita penting. Duduk.”
“Apa?” tanya Nesya kepo dan mau tak mau Nesya kembali duduk dan memasang telinganya siap mendengarkan berita penting dari Marginah.
“Aku tadi dengar Angga bercerita tentang keluarganya. Kasihan dech Nes. Selain Oma nya yang sakit parah. Ternyata Angga tidak diterima kehadirannya oleh kedua Maminya.”
“Kok dua?” tanya Nesya
“Iya. Mami kandungnya cerai terus menjadi super model di luar negeri. Papinya nikah lagi tetapi istri barunya tidak mau mengasuh Angga. Kasihan ya. Masih mending kamu Nes, Ibumu kerja di luar negeri tetapi masih sayang sama kamu.”
“Ya sama saja Nah. Ibuku sayang aku tetapi Bapakku mau menjualku. Kamu itu yang untung punya Bapak dan Ibu yang menyayangi. Masalah uang bisa dicari Nah. Andai aku boleh memilih aku ingin Ibuku pulang saja tidak usah cari uang banyak banyak. Aku tidak usah kuliah juga tidak apa apa yang penting bisa bersama Ibu..Tapi Ibu tetap ingin cari uang banyak buat sekolah aku. Biar aku nanti tidak susah hidupnya dan katanya jika wawasan luas tidak mudah ditipu orang.”
“Sudah ... ayo mandi. Aku jadi tambah kangen Ibu.” ucap Nesya lalu bangkit berdiri dan berjalan ke luar ruang perpustakaan. Marginah sejenak terdiam tidak menyangka dia akan bercerita tentang Angga, malah Nesya jadi baper karena kangen Ibunya dan inget kelakuan Bapaknya yang akan menjualnya Marginah lalu pelan pelan ikut berjalan meninggalkan ruang perpustakaan. Dia yang terakhir keluar mengunci pintu ruang perpustakaan itu. Tadi sudah dipesan oleh Mas Budi siapa yang terakhir harus mengunci karena sekarang perpustakaan sudah ada banyak komputer harus menjaga keamanannya Marginah lalu berjalan menuju ke ruangan Ibu Sari untuk menyerahkan kunci perpustakaan.
Waktu terus berlalu anak anak melakukan aktivitasnya sesuai jadwal. Hingga di saat malam hari waktunya semua harus beristirahat Angga berjalan seorang diri menuju ruang doa. Dia masuk ke dalam ruang doa lalu menyalakan lampu, hanya satu lampu di pojok yang ia nyalakan. Angga lalu berjalan ke depan, selanjutnya dia berdoa dengan khusuk. Baru saja Papinya memberi kabar hingga sampai detik ini belum ada donor yang cocok. Jika sampai batas waktu hari ini tidak mendapatkan donor. Besok pagi Papinya Angga menandatangi kesediaan untuk menjadi donor dan proses operasi akan segera dilaksanakan.
Sementara itu Pak Jemari yang melihat Angga belum masuk kamar, segera mencari cari Angga. Pak Jemari memberi tahu pada penghuni panti kalau Angga hilang. Lalu mereka semua ikut mencari Angga.
“Itu Pak, ruang doa lampu menyala.” ucap Mas Budi sambil menunjuk ruang doa yang lampunya menyala di dalam ruangnya meskipun nyalanya tidak terlalu terang. Mas Budi dan Pak Jemari berjalan paling depan mereka membuka pelan pelan daun pintu tersebut. Terlihat Angga masih duduk berdoa sambil menengadahkan tangannya. Pak Jemari dan Mas Budi berjalan mendekat lalu ikut duduk dan berdoa di belakang Angga. Anak anak yang lain dengan teratur dan hati hati ikut masuk dan melakukan hal yang sama. Duduk dan berdoa dengan khusuk mendoakan kesehatan Oma dan Papinya Angga. Tadi waktu jam doa bersama memang sudah mendoakan mereka. Namun kini karena Angga terlihat sedih dan khusuk berdoa mereka semua turut berempati.
Angga akhirnya selesai berdoa, hatinya sudah tenang dia yakin kalau Silah akan melancarkan semuanya. Saat menoleh Angga terharu karena penghuni panti ikut berdoa.
“Terimakasih buat semuanya... terimakasih.” ucap Angga sambil menyatukan kedua telapak tangannya di taruh di dada sambil menganggukkan kepalanya dengan sopan. Angga tidak menyangka kalau teman temannya sangat perhatian pada dirinya.
“Sama sama Angga, kesedihanmu kesedihanku juga.” jawab mereka semua secara bersama sama. Angga dirangkul oleh Pak Jemari lalu mereka berdua berjalan meninggal ruang doa dan berjalan menuju ke kamarnya. Anak anak yang lainpun meninggalkan ruang panti dan berjalan menuju ke kamarnya masing masing untuk beristirahat. Mas Budi adalah orang yang terakhir kali keluar dari ruang doa setelah mematikan lampu di dalam ruang tersebut.
Sementara itu Angga yang sudah di dalam kamar belum bisa tidur, dia masih menunggu kabar dari Papinya. Batas waktu pengumuman donor yang cocok buat Oma masih tersisa beberapa menit lagi. Sedangkan Pak Jemari susah tertidur pulas.
Dert... dert.... dert....
Notifikasi masuk ke hape Angga. Dengan segera Angga membuka aplikasi chatt dari Papinya. Tampak ada sederet teks informasi dari rumah sakit, yang diteruskan oleh Papinya Angga. Angga membaca isi pesan teks itu dengan serius dan cermat.
“Pak Jemari!” teriak Angga dengan senyum lebarnya. Pak Jemari yang sudah bermimpi spontan terbangun dan langsung duduk menghadap Angga.
“Ada apa Mas?” tanya Pak Jemari dengan mata yang terasa berat terbuka.
“Pak... Pak... Sudah dapat donornya.” teriak Angga sambil menyodorkan hapenya pada Pak Jemari. Pak Jemari yang ikut senang mendengar kabar itu, langsung bangkit dan memeluk Angga dengan erat. Angga yang tidak siap malah terjatuh terlentang di tempat tidurnya. Pak Jemari juga ikut jatuh tengkurap.
“Ha.... ha....” Angga bisa tertawa lepas menertawakan Pak Jemari.