
“Bu kita pulang saja...” ucap Marginah lagi sambil menatap wajah Bu Sari dengan ekspresi wajah memelas dan ketakutan. Trauma Marginah memang lebih besar dari pada Nesya dan Angga. Kalau Nesya karena sudah sejak kecil merasa dikejar kejar oleh Bapaknya, dan Angga baru pada taraf penguntitan dan dia bisa melakukan tindakan preventif melindungi dirinya dengan membelokkan sepeda di halaman rumah orang. Sedangkan Marginah yang sejak kecil selalu berada aman di dalam lingkungan keluarga, kerabat dan tetangga tetangganya, meskipun kekurangan ekonominya.
“Iya Nah kita pulang saja.” ucap Ibu Sari yang tidak mau Marginah kambuh lagi traumanya. Terapi yang sudah dilakukan buat Marginah akan sia sia . Ibu Sari lalu menghubungi Fatima dan Mawarni agar segera berkumpul di pohon beringin. Mereka diminta membungkus saja jajanannya dan dibawa pulang. Dan akhirnya merekapun pulang ke panti sama seperti tadi diangkut dengan dua kloter. Cuma bedanya sekarang kloter pertama Marginah, Nesya, Angga, dan anak anak yang masih kecil. Sedangkan Pak Jemari minta yang kloter ke dua.
“Mas, kita nonton dangdut yuk. Nanti pulang jalan kaki.” ucap Pak Jemari pada anak panti laki laki yang sudah duduk di bangku SMK. Pak Jemari masih ingin menonton hiburan dangdut yang ada di pasar malam.
“Malam Pak nanti hiburan dangdutnya. Takut dimarah Ibu Sari.” jawab anak panti tersebut. Dengan berat hati Pak Jemari akhirnya juga turut ikut pulang
Sesampai di panti mengantar pulang rombongan kloter kedua. Ibu Sari memarkir mobilnya. Lalu dia segera berjalan menuju ke ruangannya. Ibu Sari berpikir pikir bagaimana memberi rasa aman kepada anak anaknya. Terbukti dengan adanya mobil mungkin ada rasa aman saat mengantar dan menjemput di dalam perjalanan. Akan tetapi kejadian di lapangan tadi menunjukkan itu saja tidak cukup. Nesya dan Marginah masih merasa ketakutan. Ibu Sari lalu mengusap usap hapenya untuk mencari informasi.
Ibu Sari terus mencari informasi, akhirnya dia mendapatkan ide untuk memberikan ilmu bela diri buat anak anaknya.
“Namun siapa pelatih yang bisa datang ke panti dan mau diberi imbalan sepantasnya.” gumam Ibu Sari sambil memijit mijit pelipisnya karena dana tidak cukup untuk membayar pelatih dengan biaya mahal.
Ibu Sari lalu duduk di kursi untuk melemaskan tubuhnya dan merilekskan pikirannya sejenak. Akan tetapi tiba tiba beliau teringat akan bakso yang tadi dibeli belum ia sentuh. Lalu diambilnya satu plastik bakso yang tadi dibelinya. Kemudian beliau makan bakso yang sudah dingin itu. Setelah makan dan membersihkan peralatan makan dan juga membersihkan diri, Ibu Sari lalu mengikuti jadwal kegiatan panti di malam hari yaitu doa bersama. Ibu Sari berdoa agar diberi jalan dalam memberi rasa aman kepada semua anak anaknya.
Di pagi hari, setelah mengantar sekolah anak anak dengan mobil baru tapi bekasnya, Ibu Sari berjalan ke dapur dia ingin membantu memasak pegawai panti. Sambil bekerja di dapur Ibu Sari menyampaikan niatnya yang akan memberikan pelajaran ilmu bela diri pada anak anak panti.
“Tapi siapa pelatih yang mau ngajar anak anak panti dengan bayaran minim.” ucap Ibu Sari setelah selesai menceritakan niatnya.
“Bu, coba saja ke rumah Mbah Parjan, dia jago pencak silat. Jagoan desa sini Bu, maling rampok begal dulu ia kalahkan.” ucap salah satu Ibu pegawai panti sambil memotong motong kacang panjang.
“Rumahnya dimana?” tanya Ibu Sari.
“Rumahnya jauh Bu, di pinggir kali di bawah bukit. Dan masalahnya dia tidak punya kendaraan jadi harus diantar jemput. Kalau pakai ojek pasti mahal Bu.” jawab Ibu pegawai dapur itu.
“Apa Mas Budi tahu rumah Mbah Parjan?” tanya Ibu Sari
“Baiklah nanti sepulang aku menjemput anak anak aku ajak Mas Budi.” ucap Ibu Sari lalu mereka melanjutkan pekerjaannya.
Siang hari nya setelah Ibu Sari pulang menjemput anak anak, dan setelah makan siang beliau dan Mas Budi pergi ke rumah Mbah Parjan. Mereka berdua mengendarai motor. Mas Budi yang berada di depan, dia sudah mempunyai SIM C dan sekarang sedang mendaftarkan diri untuk mengikuti kursus mengemudikan mobil.
Motor terus melaju menuju ke arah bukit batas desa. Dalam hati Ibu Sari berpikir bagaimana transport Mbah Parjan andai dia mau melatih anak anak, jaraknya cukup jauh. Beberapa menit kemudian motor sudah sampai di sebuah rumah di tepi sungai. Rumah yang terbuat dari papan namun terlihat bersih dan asri.
“Itu Bu rumahnya.” ucap Mas Budi setelah mematikan mesin motornya. Ibu Sari lalu turun dari boncengan dan berjalan menuju ke depan pintu rumah tersebut. Ibu Sari lalu mengucapkan salam. Mas Budi juga turut mendampingi Ibu Sari dan turut mengucapkan salam dengan lebih keras. Tidak lama kemudian terdengar jawaban salam namun tidak dari dalam rumah akan tetapi dari arah sungai yang tidak jauh dari situ. Lalu nampak sosok seorang laki laki tua akan tetapi terlihat gerakannya masih gesit dan tubuhnya tampak tegap yang berjalan mendekati Ibu Sari dan Mas Budi.
“Wah mimpi apa saya ada tamu priyayi.” ucapnya kemudian. Lalu dia membukakan pintu dan mempersilahkan Ibu Sari dan Mas Budi masuk.
“Ada perlu apa ya?” tanya Mbah Parjan setelah mereka bertiga duduk di kursi rotan di dalam ruang tamu. Ibu Sari lalu mengenalkan diri dan menjelaskan maksud kedatangannya. Mbah Parjan tersenyum saat mendengar semua ucapan Ibu Sari.
“Saya sangat senang dan terharu juga tersanjung jika Ibu, meminta saya untuk melatih anak anak panti. Saya tidak meminta imbalan sepeser pun. Meskipun jika dilihat orang, saya ini orang miskin, rumah dari papan, lantai tanah dan berada di pinggir kali, akan tetapi saya merasa sudah berkecukupan saya tiap hari bisa makan minum tidur nyenyak, dan badan saya sehat itu sudah saya syukuri.” ucap Mbah Parjan sambil tersenyum menunjukkan giginya yang masih putih lengkap dan kuat meskipun umurnya sudah tidak muda lagi.
Ibu Sari dan Mas Budi terlihat tersenyum senang dan juga terharu mendengar kalimat Mbah Parjan. Ibu Sari mengucapkan terimakasih lalu dia menanyakan bagaimana transpor Mbah Parjan ke panti harus diantar jemput atau bagaimana.
“Jangan dibuat pusing masalah yang sederhana, aku punya dua kaki yang masih bisa untuk buat jalan, aku bisa jalan kaki pulang pergi ke tempatmu.” ucap Mbah Parjan dengan santai.
“Kapan aku harus melatih mereka?” tanya Mbah Parjan kemudian. Ibu Sari terlihat berpikir pikir mencari waktu yang cocok. Namun tiba tiba..
“Aku sudah tidak sabar.. ciat.... ciiiiiiat.....” ucap Mbah Parjan sambil bangkit berdiri dan memperagakan jurusnya.
bersambung*)