MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 86. Hujan Badai


Setelah mendapat tiket mereka semua segera masuk dengan tertib ke dalam lokasi tempat wisata wahana air itu.


Mas Budi berkali kali memberi peringatan kepada mereka semua untuk selalu hati hati dan waspada. Dan memberikan pesan pada pegawai panti dan anak anak yang sudah besar agar menjaga adik adik mereka.


Mereka semua sangat senang, mereka akan mencoba semua wahana wisata air yang ada. Hingga terapi ikan pun akan mereka coba.


“Mak, aku mau main yang seluncuran yang itu ..” pinta Nita pada Emak Baru sambil menunjuk wahana seluncuran air yang sangat tinggi, panjang dan berkelok kelok. Seluncuran yang sangat tinggi memang langsung menarik perhatian para pengunjung.


“Tidak usah kalian berdua naik bebek saja.. Emak yang lihat saja kuatir. Itu tinggi dan panjang sekali seluncurannya.” ucap Emak tidak mengizinkan.


“Naik bebek saja sama terapi ikan, pasti enak geli geli di kaki he... he...” ucap Emak Baru sambil tertawa membayangkan telapak kakinya terasa geli dicocol cocol moncong ikan ikan.


“Mak tapi aku ingin.. tuh lihat Kak Angga sama Mbah Parjan sudah berlari, mereka mau main seluncuran.” ucap Nita sambil menunjuk Angga, mbah Parjan dan yang lainnya sudah berlari akan main seluncuran air. Marginah dan Nesya pun sudah dengan Mawarni, Fatima dan lainnya menuju ke tempat seluncuran air yang khusus wanita.


“Mbah Parjan yang tua aja main seluncuran Mak.” ucap Vany turut mendukung Nita.


“Tidak usah, bahaya it, kalian berdua masih kecil kecil.. tuh yang anak laki laki yang kecil kecil saja naik bebek dan sepeda air.” ucap Emak lagi, dia tidak mengizinkan Nita dan Vany main seluncuran air karena ingat pesan dari Mas Budi untuk menjaga anak anak yang masih kecil, sebab seluncuran sangat tinggi dan panjang Emak melihat saja sudah gemetaran.


“Atau kita berendam di air hangat saja.” ucap Ibu pegawai masak turut membujuk Nita dan Vany. Yang sebenarnya dia sendiri ingin berendam di air hangat agar pegal pegal di tubuhnya sembuh.


“Ga asyik..” ucap Nita dan Vany sambil memanyunkan bibirnya.


“Ayo kita lihat lihat dulu saja, siapa tahu ada yang seluncuran untuk anak anak kecil.” ucap Sandra sambil menggandeng tangan Vany. Emak pun akhirnya menggandeng tangan Nita berjalan jalan untuk mencari mainan yang disuka oleh Nita dan Vany.


Sementara itu di lain tempat Ibu Sari setelah selesai berdoa dia keluar ruang doa sambil mengendong Abi. Ibu Sari sudah mendapatkan pencerahan setelah selesai berdoa.


“Ibu Sari, saya merasakan ketenangan berada di panti ini.” ucap Nyonya Naura yang turut keluar ruang doa sambil berjalan di samping Ibu Sari.


“Terutama saat saya di ruang doa, sambil mendengarkan suara Ibu Sari yang melantunkan doa.” ucap Nyonya Naura lagi sambil masih berjalan di samping Ibu Sari.


“Itu yang bisa saya lakukan jika saya mendapat masalah masalah atau jika saat saya sedang dalam kebimbangan dalam mengambil suatu keputusan. Akan tetapi saat saya sedang bahagia pun saya juga lakukan itu. Ibaratnya setiap langkah, setiap masalah, setiap kejadian, saya pasrahkan saya curhatkan pada Dia pemilik hidup, Bun.” ucap Ibu Sari sambil menoleh menatap Nyonya Naura yang masih berjalan di samping nya.


“Saya juga ingin belajar pada Ibu Sari, saya juga semakin bertambah umur saya harus semakin banyak menyediakan waktu untuk mendekatkan diri pada Allah. Kadang kesibukan aktivitas di kota besar benar benar menguras waktu, tenaga dan pikiran Bu. Benar benar saya merasakan ketenangan di sini. Saya akan berusaha untuk sering sering ke sini Bu.” ucap Nyonya Naura


“Saya sangat senang jika Bunda akan sering ke sini. Tetapi saya hanya memberi masukan sesibuk apa pun Bun tetap sempatkan diri untuk mendekatkan diri pada Nya agar selalu mendapatkan ketenangan, jangan menunggu saat pekerjaan sudah selesai.” ucap Ibu Sari sambil tersenyum


“Iya Bu Sari, terima kasih, akan saya ingat ingat.” ucap Nyonya Naura sambil tersenyum juga. Mereka berdua lalu pergi ke dapur untuk membuat makan siang buat mereka berdua. Sambil memasak mereka berdua terus berbicara saling memberi motivasi. Dan bersamaan dengan itu pula Ibu Sari juga mengambilkan asi buat Abi, sebab Abi sudah mulai terbangun dan mulai merengek karena lapar.


Setelah mereka berdua sudah selesai memasak, selanjutnya mereka berdua makan di ruang makan. Ibu Sari benar benar merasakan suasana makan hari ini berbeda dengan hari hari biasanya, terasa sepi tanpa ada anak anak. Untung ada Abi ada suara rengek dan gumam Abi.


“Bunda silahkan istirahat, saya akan menyusun laporan buat donatur sambil membaringkan Abi.” ucap Ibu Sari saat mereka berdua sudah selesai makan siang. Nyonya Naura menganggukkan kepalanya menyetujui usulan dari Ibu Sari, sebab dia memang merasakan mengantuk setelah makan siang. Mungkin pikiran yang tenang, perut kenyang, ditambah suasana sepi,.udara segar dan cuaca mendung membuat Nyonya Naura benar benar merasa sangat mengantuk.


Nyonya Naura terus berjalan menuju ke kamar tamu, sedangkan Ibu Sari melangkah masuk menuju ke ruangannya. Dilihatnya Abi sudah tertidur di dalam gendongannya, Ibu Sari lalu membaringkan Abi di tempat tidur. Setelah membaringkan Abi, Ibu Sari berjalan menuju ke meja kerjanya. Dia duduk di kursi dan menyelesaikan laporan yang akan diserahkan buat Para Donatur. Dia pun sudah memantapkan hati setelah tadi berdoa akan memberikan surat keterangan buat Sandra sesuai dengan apa yang dia lihat.


Waktu terus berlalu, cuaca mendung semakin gelap. Ibu Sari menyalakan lampu bukan karena hari sudah malam, tetapi karena hari gelap karena mendung di langit semakin tebal. Bunyi guntur pun sudah mulai menggelegar.


“Duh.. mau hujan lebat, bagaimana nasib anak anak yang sedang pergi wisata.” gumam Ibu Sari mulai gelisah. Dia lalu berjalan menuju ke pintu dan seterusnya membuka pintu. Cuaca benar benar gelap. Dan hujan pun mulai turun. Ibu Sari semakin gelisah. Guntur semakin sering menggelegar dan diikuti oleh kilat menyambar nyambar. Bersamaan dengan itu, Abi menangis, mungkin kaget oleh suara guntur yang menggelegar.


Ibu Sari segera berjalan untuk mengambil Abi, dia gendong dan dia dekap dengan erat tubuh Abi.


“Jangan menangis sayang, ada Ibu di sini.” ucap Ibu Sari sambil terus mendekap erat tubuh Abi. Akan tetapi Abi masih saja menangis mungkin masih kaget dengan suara guntur yang masih saja menggelegar atau juga turut merasakan kegelisahan Ibu Sari yang sedang memikirkan mereka yang sedang pergi berwisata.


Hujan semakin deras, dan kini angin lebat pun turut menerpa. Suara guntur pun belum juga usai. Ibu Sari lalu mengambil hape nya. Dia akan menghubungi Mas Budi, akan tetapi jaringan hilang karena pengaruh cuaca yang sangat ekstrim.