
Waktu terus berlalu. Sandra pun membuatkan alat yang berfungsi untuk mendeteksi keadaan dan lokasi Nesya berada. Alat tersebut sangat kecil dan oleh Sandra dibuat menjadi anting yang sangat cantik. Alat canggih itu akan dihubungkan pada suatu aplikasi yang akan dipasangkan pada hand phone Ibu Sari.
Di suatu malam, sehabis makan malam Sandra berjalan menuju ke ruangan Ibu Sari. Sandra akan memberikan alat itu dan akan memberikan aplikasi di hand phone Ibu Sari.
Sandra mengetuk pintu ruangan Ibu Sari dengan pelan pelan dan tidak lama kemudian Ibu Sari membukakan pintu ruangannya.
“Silahkan masuk Kak Sandra.” ucap Ibu Sari dengan ramah sambil tersenyum. Tadi saat selesai makan malam, saat masih di ruang makan Sandra memang sudah menyampaikan pada Ibu Sari kalau dia akan datang ke ruangan Ibu Sari.
Sandra menganggukkan kepalanya dengan santun sambil tersenyum dan berjalan masuk ke dalam ruangan Ibu Sari. Sandra pun menutup dengan rapat pintu ruangan Ibu Sari.
“Bagaimana Nona, apa sudah selesai alatnya, saya sangat penasaran dengan alat itu.” tanya Ibu Sari dengan senyuman dan mata yang berbinar binar.
Sandra pun lalu mengambil alat yang sudah dia buat dari saku baju dia yang kedodoran. Lalu dia berikan alat itu pada Ibu Sari. Terlihat ekspresi wajah Ibu Sari antara kaget, tidak percaya dan kagum menjadi satu.
“Nona, ini adalah anting yang sangat cantik, benarkah ini alat yang bisa mendeteksi Nesya nanti saat dia sedang dalam bahaya.” ucap Ibu Sari sambil memegang dan mengamati alat yang berbentuk anting cantik itu.
“Iya Bu, bahkan ada alat yang bagai stiker saja tetapi bisa untuk mendeteksi, sekarang semua pakai sistem super mikro. Kecil tetapi kemampuannya luar biasa.” jawab Alexandria sambil tersenyum.
“Iya.. kemajuan tekhnologi otak saya tidak bisa menjangkau... Cuma kalau Ibu malah tahunya sistem telepati.. tidak pakai alat apapun kita bisa mendeteksi itu lewat kedekatan hati he.. he...” ucap Ibu Sari sambil tersenyum dan tertawa kecil.
“Tetapi Ibu belum mampu melakukan itu dengan baik, sebab kalau banyak masalah dan banyaknya anak anak yang harus Ibu perhatikan. Maka dengan alat ini, akan sangat membantu Ibu dalam menjaga Nesya yang selalu dalam bahaya.” ucap Ibu Sari selanjutnya. Sandra mendengarkan ucapan Ibu Sari dengan saksama, dia merasa bersyukur jika alatnya bisa membantu Ibu Sari dan penghuni panti.
Sandra lalu meminjam hand phone Ibu Sari untuk diberi aplikasi buatannya yang nanti akan terhubung dengan alat yang akan dipasang pada tubuh Nesya. Setelah dipasang aplikasi , Sandra memberi tahu bagaimana cara mengaktifkan dan cara menggunakan aplikasi itu. Dengan sabar Sandra mengajari Ibu Sari.
“Ibu jika hari ini Ibu Sari belum bisa, besok dan besok saya akan mengajari lagi.” ucap Sandra karena ada beberapa hal yang Ibu Sari belum jelas.
“Terima kasih Nona, Nona sudah membantu dan dengan sabar mengajari saya seorang Ibu yang gap tek ini he... he... “ ucap Ibu Sari sambil tertawa kecil dan menepuk pelan punggung Sandra yang duduk di sampingnya.
“Sama sama Ibu, Ibu bukan gap tek cuma belum tahu saja. Buktinya kemarin Ibu juga cepat bisa belajar dalam menggunakan aplikasi untuk membuat laporan agar lebih cepat.” ucap Sandra sambil tersenyum dan memuji Ibu Sari yang dengan cepat bisa menggunakan aplikasi yang untuk membuat laporan. Dan kini Ibu Sari pun sudah menggunakan aplikasi itu dalam membuat laporan. Laporan keuangan panti pun dengan cepat dan akurat bisa langsung terkirim pada donatur donatur.
“Nona, Ibu doakan semoga misi Nona berhasil, kejahatan bisa terungkap. Kalau saya lihat Nona benar benar sangat cerdas, Ibu yakin peretas yang sudah berbuat jahat pada perusahaan orang tua Nona akan kalah.” ucap Ibu Sari sambil menatap Sandra memberi keyakinan.
“Mohon doa dari Ibu.” ucap Sandra sambil memeluk Ibu Sari dari samping pula. Ibu Sari benar benar terharu tidak menyangka anak yang dibawa oleh Nyonya Naura adalah anak dari seorang pengusaha besar namun sangat baik hati dan juga bisa memberi bantuan yang sangat bermanfaat.
Detik berganti detik, menit berganti menit, jam berganti jam dan hari pun berganti hari. Sandra dengan tekun, sabar dan telaten mengajari Ibu Sari, hingga Ibu Sari benar benar paham cara menggunakan aplikasi yang terhubung dengan alat yang akan dipasang pada tubuh Nesya. Dan setelah benar benar bisa menguasai cara menggunakan aplikasi itu, Ibu Sari baru memanggil Nesya.
Pada suatu sore hari di saat waktu bebas anak anak panti. Nesya dan Marginah sedang berada di kamar Emak Baru. Mereka berdua membantu Emak Baru yang sedang menjahit seragam baju untuk berlatih ilmu bela diri. Setelah berita menggemparkan itu, Ibu Sari memang terus mengajak Emak Baru untuk belanja kain dan keperluan jahit menjahit. Agar Emak Baru terhibur dengan pekerjaan yang disukainya hingga tidak begitu memikirkan berita itu dan tidak terlalu mengkuatirkan Abi.
“Mak, yang seragamku dikasih bordir namaku dengan benang warna ungu ya..” ucap Marginah sambil tangannya sibuk membantu Emak Baru.
“Aku pakai warna benang apa saja lah.. kain seragamnya kan warna putih, dikasih warna apapun okey..” ucap Nesya yang juga tangannya sibuk membantu Emak Baru. Dan tidak lama kemudian Ibu Sari muncul di depan pintu kamar Emak Baru yang tidak ditutup itu.
“Abi tidur Mak?” tanya Ibu Sari sambil melangkah masuk.
“Iya Bu, dia tidak terganggu dengan suara mesin jahit dan suara kita yang ngobrol.” jawab Emak Baru tanpa menoleh sebab pandangan matanya masih pada pekerjaannya.
“Syukurlah. Tetapi tetap sesekali dilihat Abi, takutnya Emak begitu serius sampai tidak mendengar Abi menangis.” ucap Ibu Sari selanjutnya.
“O ya Nes, ada sesuatu yang ingin Ibu sampaikan kepadamu, ayo ke ruangan Ibu.” ucap Ibu Sari kemudian sambil menatap Nesya. Dan spontan Nesya, Marginah dan Emak Baru menghentikannya kegiatannya dan mereka bertiga menoleh melihat wajah Ibu Sari.
“Penting, tapi berita gembira kalian tidak perlu kuatir.” ucap Ibu Sari karena tahu ketiga orang itu kaget. Dan Nesya langsung bangkit berdiri dan berjalan mendekat pada Ibu Sari. Dan mereka berdua lalu berjalan keluar untuk menuju ke ruangan Ibu Sari.
Setelah mereka berdua masuk ke dalam ruangan Ibu Sari. Mereka berdua lalu duduk di kursi. Ibu Sari menyampaikan kalau akan memberi anting pada Nesya.
“Ini bukan anting sembarang anting Nes. Anting ini akan melindungi dirimu. Ini adalah alat canggih, sudah terhubung dengan hand phone Ibu, jadi Ibu bisa tahu kapan saja jika kamu dalam keadaan bahaya.” ucap Ibu Sari sambil menunjukkan anting itu, tetapi Ibu Sari tidak mengatakan jika itu dari Sandra.
“Bu, ini antingnya sangat cantik dan bagus. Tetapi maaf Bu, saya tidak berani melepas anting saya ini. Ini anting kenang kenangan dari Ibu, katanya gaji pertama Ibu dibelikan anting ini. Maaf Bu...” ucap Nesya menolak untuk memakai anting itu.