
Sesampai di depan ruangan Ibu Sari, Angga mengetuk ngetuk pintu dengan pelan. Pak Jemari yang mengikuti langkah kaki Angga juga sudah berdiri di belakang Angga. Meskipun Pak Jemari selalu bertanya pada Angga ada perlu apa, ada kabar apa dari Papinya namun Angga hanya diam saja, masih terus mengetuk ngetuk pintu ruangan Ibu Sari.
“Mungkin Ibu Sari istirahat Mas.” ucap Pak Jemari kemudian di saat Angga mencoba mengetuk ngetuk pintu lagi.
“Kata Marginah, Ibu Sari tidak istirahat siang.” ucap Angga dan tidak lama kemudian pintu terbuka.
“Angga. Ada perlu apa?” tanya Ibu Sari saat pintu sudah terbuka.
“Bu, boleh saya masuk. Ada hal yang ingin saya bicarakan dengan Ibu.” ucap Angga dengan sopan sebab kuatir jika kedatangannya mengganggu pekerjaan Ibu Sari. Terlihat Ibu Sari menjawab dengan anggukan kepala dan mempersilahkan Angga masuk ke dalam ruang kerjanya.
“Mas, aku boleh masuk tidak?” tanya Pak Jemari, namun sebelum dijawab oleh Angga dia sudah ikut nyelonong masuk. Dan Ibu Sari pun mempersilahkan Pak Jemari turut masuk.
“Bu, Papi mau kasih mobil buat antar jemput kami. Apa ada orang panti yang bisa mengemudikan mobil. Jika tidak ada Papi mau menyuruh salah satu sopirnya tinggal di panti dulu. Sementara ada orang panti yang belajar mengemudi.” ucap Angga saat mereka bertiga sudah duduk di kursi.
“Benarkah itu Angga. Ibu sangat senang mendengar berita ini. Ibu tadi sedang mikir mikir bagaimana caranya agar anak anak berangkat dan pulang sekolah dengan aman. Terutama buat Nesya, Marginah dan kamu yang sudah menjadi incaran.” ucap Ibu Sari dengan mata berbinar menatap Angga, tidak menyangka akan mendapat mobil untuk transportasi antar jemput sekokah anak anak.
“Oooo itu horenya tadi ya Mas, aku juga...... horeeeee.......” ucap Pak Jemari turut bahagia dan selanjutnya dia berteriak sambil tepuk tangan karena dia juga merasakan sangat senang jika ada mobil antar jemput, kekuatirannya pada Marginah diculik dan dijual sirna sudah.
“Tapi .. horenya tidak jadi Pak.” ucap Angga dengan nada sedih.
“Kenapa?” tanya Ibu Sari dan Pak Jemari bersamaan. Mereka berdua ekspresi wajahnya juga langsung berubah ekspresi wajah bahagia dan senyumnya mendadak hilang karena kalimat yang baru saja keluar dari mulut Angga.
“Papi cuma bisa kasih mobil bekas dan itu mobil bak Bu. Mobil buat barang bukan buat orang.” jawab Angga dengan sedih sambil tertunduk kepalanya.
“Papi minta saya tanya Ibu Sari dulu, apa Ibu Sari mau. Sebab kata Papi, itu sebenarnya mobil tidak layak buat angkutan orang. Tapi kata Papi di jok depan bisa untuk Nesya dan Marginah, sedangkan Angga tidak apa apa duduk di bak belakang.” ucap Angga selanjutnya. Memberi mobil bekas dan mobil bak adalah solusi dari Papinya Angga di saat darurat, saat mendengar cerita dari Angga anaknya tadi.
“Tidak apa apa Nga, itu sudah lebih dari cukup buat mengantar jemput anak anak yang membutuhkan. Bagaimana dengan mesinnya, kalau biaya perawatan mahal Ibu harus memikirkan dana buat perawatan mobil itu.” ucap Ibu Sari sambil menatap Angga.
“Kata Papi mesin masih bagus Bu.” jawab Angga yang sekarang sudah mendongakkan wajahnya menatap Ibu Sari.
“Iya Pak, yang penting tidak untuk jarak jauh. Bisa bahaya. Kalau untuk jarak panti dengan sekolah saya rasa tidak apa apa Nga.” ucap Ibu Sari sambil tersenyum, dia juga sering melihat di desa lokasi panti memang juga sepeti yang Pak Jemari bilang banyak mobil buat mengangkut barang untuk membawa penumpang orang.
“Jadi tidak apa apa ya, Papi minta maaf hanya bisa ngasih mobil bak bekas. Nanti kalau ada rejeki mau kasih mobil antar jemput yang betulan he...he... Sekarang buat dalam keadaan darurat dulu.” ucap Angga sambil tertawa kecil.
“Aminnnn. Iya Mas, yang penting bisa tenang berangkat dan pulang sekolah.” ucap Pak Jemari sambil memeluk Angga yang duduk di dekatnya.
“Benar Nga sampaikan pada Papi, Ibu mengucapkan banyak terima kasih, nanti biar Ibu yang mengantar kalian. Ibu bisa sekalian belanja barang barang di taruh di box.” ucap Ibu Sari sambil tersenyum menatap Angga.
“Ibu Sari bisa nyetir mobil? Wah hebat benar benar hebat.” ucap Pak Jemari kagum pada sosok Ibu Sari, karena di desanya Pak Jemari belum pernah melihat ada perempuan mengemudikan mobil. Yang sering dia lihat sopir sopir angkot, bis dan truk adalah laki laki yang bertubuh kekar. Atau Pak Kades dan orang orang laki laki yang terpandang di desa yang bisa mengemudikan mobil. Ibu Sari hanya tersenyum sopan. Dan setelahnya Angga mohon diri karena ingin menyampaikan pada Papinya kalau Ibu Sari menerima bantuan tersebut.
Mobil akan datang beberapa hari ke depan. Sebab pegawai Papinya Angga sedang menguruskan surat surat mobil. Sementara menunggu mobil datang. Angga diantar jemput Ibu Sari memakai motor, sedangkan Marginah dan Nesya masih belajar dari panti. Acara Angga harus menyampaikan pelajaran yang dia tangkap di kelas kepada Marginah dan Nesya terus berlanjut.
“Aku sudah tidak sabar mobil Papi datang, jadi aku tidak usah mengajar kalian berdua.” gumam Angga saat sudah selesai menyampaikan pelajaran tadi yang dia dapat di kelas kepada Nesya dan Marginah.
Namun tiba tiba...
“Acara seperti ini akan terus berjalan Nga. Tetapi nanti bergilir di antara kalian bertiga. Dan Ibu juga akan buat sistem seperti ini buat anak anak yang lain di kelas yang sama. Sebab Ibu lihat kamu jadi lebih memperhatikan pelajaran. Guru guru kelasmu juga menyampaikan ke Ibu kalau nilai latihan latihan kamu bagus.” suara Ibu Sari yang mendadak muncul dari balik pintu dan kini sudah berdiri di dekat mereka bertiga.
“Tapi capek Bu, saya pengen santai santai he...he....” ucap Angga sambil tertawa kecil tidak menyangka jika Ibu Sari mendengarkan omongannya. Padahal sebelumnya pun Ibu Sari sering mengintip saat mereka bertiga sedang belajar. Karena ingin melihat apa Angga benar benar memperhatikan pelajaran di kelas. Ternyata caranya terbukti ampuh membuat Angga memperhatikan pelajaran.
“Tidak boleh malas ya, ini demi kebaikanmu demi masa depanmu. Meskipun uang Papimu banyak, kalau kamu malas nanti lama lama habis kalau kamu sebagai anak tidak bisa melanjutkan mengelola uang dan kekayaan yang sudah Papimu kumpulkan dengan susah payah.” ucap Ibu Sari selanjutnya
“Kalau belajar jangan dibikin beban Nga, dibuat suka aja kayak kita main game.” ucap Marginah
“Mana ada game baca dan mendengarkan orang bicara, kamu itu ada ada saja.” ucap Angga lirih di dekat Marginah.
“Maksudku rasa senangnya itu loh Nga dan konsentrasinya itu loh... kamu kalau main game kan senang dan konsentrasi penuh toh.” ucap Marginah sambil menepuk punggung Angga dengan buku pelajaran.