MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 79. Menyambut Tamu 1


Anak anak berdiri sambil melihat tamu yang datang beberapa anak tampak berbisik bisik. Demikian juga Marginah.


“Nes kamu sudah pernah lihat mereka?” tanya Marginah dengan suara berbisik.


“Yang satu sudah namanya Nyonya Naura dia suka dipanggil Bunda Naura, ada darah keturunan Jerman atau Belanda aku lupa . Satunya belum pernah.” jawab Nesya sambil masih terus mengamati tamunya. Terlihat Ibu Sari lalu berjalan mendekat ke arah kedua orang tamu tersebut yang terlihat masih mengambil barang barangnya di bagasi.


“Selamat datang Nyonya Naura.” sapa Ibu Sari


“Terima kasih Ibu Sari. Bagaimana kabar Ibu Sari dan anak anak.” ucap Nyonya Naura sambil menjabat tangan Ibu Sari.


“Ini Sandra kenalkan, nanti saya akan cerita face to face dengan Ibu Sari. “ ucap Nyonya Naura selanjutnya sambil memperkenalkan gadis berkaca mata tebal yang dia bawa. Ibu Sari lalu menjabat tangan gadis berkaca mata tebal itu. Gadis itu terlihat ramah namun masih terlihat canggung.


Barang yang dibawa ternyata banyak juga, akhirnya Ibu Sari memanggil anak anak untuk mendekat dan membantu membawakan. Sambil memberi salam selamat datang anak anak membantu membawakan barang barang yang banyak itu untuk di bawa ke kamar tamu. Ibu Sari turut mendampingi kedua tamu itu menuju ke kamar tamu.


Setelah membantu membawa barang barang anak anak kembali berkumpul di depan ruang doa menunggu informasi dari Ibu Sari. Tadi anak anak dan pegawai panti yang tidak ikut membawakan barang barang , setelah memberikan salam pada kedua orang tamu, mereka berjalan menuju ke depan ruang doa sesuai perintah dari Ibu Sari. Emak Baru dan Mbah Parjan pun ikut berdiri di situ. Terlihat Emak Baru sedang berbincang bincang dengan Mbah Parjan.


Sedangkan anak anak terlihat tidak berani mendekat pada Mbah Parjan karena merasa takut dengan sendirinya karena lupa tidak memanggil Mbah Parjan saat makan siang.


“Nga, kamu tadi kok tidak memanggil Mbah Parjan sih, padahal Mbah Parjan sedang membantu membalik balik komposmu.” ucap Marginah yang berdiri di samping Angga.


“Aku lupa, tidak ingat Nah.” ucap Angga sambil tersenyum.


“Lupa itu memang tidak ingat Nga..” saut Nesya yang berdiri di samping Marginah.


“Kamu tahu kan tadi di kelas kita banyak sekali mengerjakan soal matematika, itu benar benar menguras pikiranku, hingga perutku menjadi sangat lapar. Nah.. tapi aku bukan memanggil namamu he... he... Neh.. Saat di meja makan menunya benar benar gila langsung aku sikat sampai lupa pada Guru yang sedang membalik balik kompos.”


“Aku sudah lama Nah, Nes tidak makan bestik daging kayak gitu.. rasanya aku jadi kangen Oma.. Oma sangat pinter kalau masak bestik daging.. Hmmm. “ ucap Angga selanjutnya.


“Kamu malah inget makanan saja, sama kayak otakku he..he..” ucap Marginah sambil menepuk pundak Angga.


“Besok pagi paling kita dihukum lari atau push up.” ucap Angga selanjutnya.


Tidak lama kemudian terlihat Ibu Sari berjalan menuju ke arah mereka. Sejenak mereka semua terdiam menunggu informasi dari Ibu Sari. Dan setelah Ibu Sari berada di depan mereka.


“Anak anak dan juga saudara saudara, kita semua sekarang masuk.ke ruang doa dan kita menjalankan kewajiban kita sembahyang dulu. Setelah sembahyang kita semua menuju ke ruang aula. Untuk menyambut Nyonya Naura dan Kak Sandra. Makan malam kita juga di sana.” ucap Ibu sambil menatap mereka semua.


“Mas Budi, tolong atur ya berbagi tugas dengan anak laki laki yang besar untuk menemui mobil catering lagi nanti dan menjaga keamanan panti.” ucap Ibu Sari sambil menatap Mas Budi. Saat mendengar kata mobil catering dari mulut Ibu Sari, terlihat anak anak tersenyum senang sudah membayangkan menu spesial lagi.


Secara pelan pelan Marginah berjalan menuju ke arah Mbah Parjan dan Emak Baru yang juga masih berdiri mendengarkan informasi dari Ibu Sari.


“Ha... ha... kamu sudah tahu salahmu ya.. “ ucap Mbah Parjan sambil menepuk nepuk pundak Marginah.


“Dihukum tidak Mbah?” tanya Marginah


“Kalau sudah tahu salahnya dan tidak mengulangi lagi, tidak Mbah hukum.” ucap Mbah Parjan sambil tersenyum menatap Marginah.


“Terima kasih ya Mbah..” ucap Marginah sambil menarik tangan kanan Mbah Parjan lalu menjabat dan mencium tangan Mbah Parjan.


“Maaf ya Mbah.” ucap Marginah selanjutnya. Mbah Parjan lalu menepuk nepuk pundak Marginah lagi. Beliau paham bagaimana senangnya anak anak mendapatkan menu spesial hingga langsung saja menyantap makanan di depan nya dan tidak memperhatikan jika Mbah belum ada di ruang makan.


Setelah informasi dari Ibu Sari selesai mereka semua masuk ke ruang doa dengan teratur rapi dan tidak membuat keributan. Mereka semua selanjutnya menjalankan kewajiban sembahyang dengan khusuk.


Beberapa menit kemudian mereka semua sudah selesai sembahyang. Mereka dengan teratur pula keluar dari ruang doa.


“Nah, ayo ganti baju dulu.” ucap Mawarni sambil menarik tangan Marginah. Mereka berdua lalu segera berjalan menuju ke kamar untuk berganti baju, dengan baju kebaya dan kain batik untuk bawahannya.


“Kamu bisa pakai kainnya kan Nah?” tanya Mawarni pada Marginah. Terlihat Marginah sudah mengambil kain dan kebaya nya.


“Bisa.” jawab Marginah. Dia lalu terlihat melepas roknya dan terlihat dia memakai legging sebatas lutut. Dia mulai memakai kainnya karena sudah di ajarin oleh Nenek Jampi. Dan tidak lama kemudian mereka berdua sudah cantik dengan kain batik dan baju kebaya yang sudah dipermak oleh Emak Baru.


Mereka segera keluar dari kamar, mereka bisa berjalan dengan cepat karena bagian bawah dibuat longgar, tidak seperti cara memakai pengantin yang sempit bagian bawahnya.


“Emak.... “ teriak Marginah saat berjalan di koridor menuju ke ruang aula, dia melihat Emak sedang berjalan di depannya. Emak lalu menoleh, terlihat Emak masih memakai masker berwarna ungu.


“Wow.. cantik cantik kakak kakak ini.” ucap Emak sambil menoleh dan menunggu Marginah dan Mawarni.


“Emak juga cantik.” ucap Mawarni dan Marginah secara bersamaan.


“Mbak , tamunya hanya dua apa masih ada lagi ya?” tanya Emak Baru selanjutnya dengan nada kuatir.


“Tidak tahu Mak, tidak pasti sih.. kadang tamu donatur itu datang rombongan kadang hanya beberapa orang kadang seorang diri.” jawab Mawarni dan mereka sambil terus berjalan.


“Tapi sepertinya nanti juga ada bingkisan Mak, tadi aku lihat ada banyak tas tas kertas kayak dari mall mall itu loh.” ucap Marginah sambil tersenyum lebar.


“Belum tentu siapa tahu belanjaan mereka. Mereka kan menginap di sini.” ucap Mawarni. Marginah tampak hanya meringis. Emak tertawa melihat ekspresi wajah Marginah yang meringis lucu. Emak sedikit terhibur hati nya karena masih kuatir jika akan ada tamu lagi yang datang.


Mereka segera masuk ke ruang aula, sebagian besar anak anak sudah masuk ke dalam ruang aula. Pegawai panti pun sudah duduk di bagian kursi depan. Akan tetapi Ibu Sari dan kedua tamu belum terlihat ada di dalam ruang aula.