
Pak Jemari berdiri di atas panggung, keringat dingin mulai membasahi seluruh tubuhnya. Tangannya mulai gemetaran. Kertas yang dia bawa juga sudah sebagian mulai basah karena keringat dari tangannya.
“Haduh kok jadi seperti meriang tubuhku.” gumam Pak Jemari dalam hati, lalu dia membuka kertas uang tadi dilipat.
“Wadoh kok tulisannya ada yang hilang.” gumam Pak Jemari lagi saat melihat ada beberapa tulisan memudar karena basah akibat keringat. Pak Jemari semakin berdebar debar dan keringat dingin semakin banyak, baju batiknya di bagian punggung sudah mulai basah kuyup.
“Ayo Pak.” teriak Angga. Pak Jemari lalu mulai mengucapkan selamat malam kepada anak anak, Ibu Sari dan pengurus panti. Dan selanjutnya Pak Jemari mengucapkan banyak banyak terimakasih kepada Ibu Sari dan pengurus panti. Dan selanjutnya...
“Maaf hanya itu yang bisa saya sampaikan sebenarnya saya ingin cerita banyak tetapi sesampai di atas panggung kok hilang semua yang ingin saya ceritakan tulisan di kertas juga jadi tidak terlihat. Pokoknya terimakasih banyak dan minta maaf atas segala kesalahan saya. Dan saya titip anak saya Marginah, Nesya....”
“Dan Angga Pak.” teriak Angga
“Saya juga Pak.” teriak yang lain.
“Iya saya titipkan anak anak saya semua di sini kepada Ibu Sari dan pengurus panti.” ucap Pak Jemari kemudian dan selanjutnya semua bertepuk tangan. Pak Jemari lalu berkali kali menganggukkan kepala kepala semua yang ada di aula. Selanjutnya MC Marginah mempersilahkan Pak Jemari turun dari panggung dan dipersilahkan duduk kembali ke kursinya. Setelah acara sambutan sambutan selesai, kemudian mereka semua menikmati hidangan makan malam dan menikmati hiburan yang ditampilkan oleh anak anak panti. Acara diakhiri dengan doa bersama di aula itu juga. Jam sepuluh malam acara selesai dan anak anak disuruh segera masuk ke dalam kamar untuk beristirahat. Angga dan Pak Jemari pun segera masuk ke dalam kamar.
“Kok tidak jadi cerita tadi Pak?” tanya Angga sambil membuka bajunya dia akan berganti baju piyama.
“Ternyata sulit sekali Mas omong di depan orang banyak itu, gemetaran, peringatan, rasanya panas dingin. Pak Kades itu berarti hebat sekali. Dia bisa bicara berjam jam di atas panggung di depan orang satu lapangan.”
“Bisa karena terbiasa Pak.” ucap Angga sambil merebahkan badannya di tempat tidur.
“Kalau Pak Jemari tiap hari memberi kata sambutan lama lama juga akan biasa saja sudah hafal di luar kepala.” Ucap Angga lagi.
“Gitu ya Mas, apa besok kalau saya di sawah memberi kata sambutan pada tanaman tanaman saya.”
“Ya ga apa apa Pak, buat latihan ha.. ha.....Selamat pagi tanaman cabe yang terhormat selamat pagi tanaman sawi yang terkasih pagi ini kita akan menyambut sinar matahari dan meminum air ha...ha.. ha.. ha...” ucap Angga sambil tertawa lepas.
“Wah ide yang bagus itu Mas.. nanti kalau siang juga selamat siang belalang belalang di ladang, selamat siang ulat ulat di daun silahkan kalian minggat jangan makan tanamanku. Dan selanjutnya aku dibawa Mak Dinah ke rumah sakit jiwa.” ucap Pak Jemari sambil menepuk pantat Angga yang sudah berbaring memeluk guling. Angga hanya tertawa. Pak Jemari pun tersenyum lalu dia berganti baju kaos dan selanjutnya dia juga merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Pak Jemari menatap suruh kamar lalu menatap tubuh Angga yang sepertinya sudah tertidur.
“Hmmm sekarang dia cepat tidurnya tidak lagi gelisah.” Gumam Pak Jemari sambil menatap wajah Angga.
“Semoga selalu mimpi indah Mas, tidak mimpi buruk lagi... semoga Mas Angga menjadi orang sukses dan besok mempunyai keluarga yang bahagia.” ucap Pak Jemari tulus sambil mengelus elus kepala Angga.
Keesokan paginya Pak Jemari bangun lebih awal, dia langsung memberesi tempat tidur, mandi dan memberesi yang akan dibawa pulang. Dia lalu berjalan ke kamar Marginah. Pak Jemari memang berencana pagi pagi berangkat agar tidak kemalaman.
“Nah...” panggil Pak Jemari saat di depan pintu kamar Marginah. Marginah yang sudah bangun dan sedang membaca buku pelajaran dengan segera berjalan ke pintu karena mendengar suara bapaknya.
“Sedang apa kamu?” tanya Pak Jemari.
“Belajar Pak.” jawab Marginah. Pak Jemari tersenyum senang karena anaknya rajin dan pintar.
“Bagus, terus rajin belajar ya jangan kecewakan Ibu Sari, pengurus panti dan semua donatur yang sudah menyumbang.” ucap Pak Jemari dan Marginah menganggukkan kepalanya.
“Nah, bapak sudah mau pulang kamu hati hati ya.. Meskipun sudah belajar ilmu bela diri jangan pergi hanya dengan Nesya..” ucap Pak Jemari.
“Pak.. “ panggil Nesya yang berjalan dari dalam kamar.
“Pak Jemari mau pulang jam berapa?” tanya Nesya.
“Ini sudah mau berangkat, sedang memberi pesan lagi pada Marginah dan juga kamu. Harus rajin belajar dan hati hati jangan pergi pergi sendirian meskipun sudah belajar ilmu bela diri.”
“Iya Pak. Pak Jemari diantar siapa?” tanya Marginah dan Nesya secara bersamaan.
“Mas Budi, naik motor Ibu Sari. Itu Mas Budi sudah menuju ke ruangan Ibu Sari, aku juga akan ke sana mau pamit Ibu Sari.” ucap Pak Jemari lalu segera berjalan mengikuti Mas Budi. Marginah dan Nesya pun akhirnya juga ikut berjalan menuju ke ruangan Ibu Sari. Setelah Pak Jemari berpamitan, Pak Jemari terus berjalan menuju ke kamarnya untuk mengambil tas bajunya. Saat di dalam kamar tampak Angga masih tertidur dengan nyenyak, Pak Jemari mengusap usap kepalanya, lalu Pak Jemari melangkah meninggalkan kamar dan menuju ke arah motor yang sudah dinyalakan mesinnya oleh Mas Budi. Marginah dan Nesya terus mengikuti langkah kaki Pak Jemari. Pak Jemari memeluk Marginah dan Nesya, terlihat Marginah dan Nesya menangisi, enggan rasanya ditinggal oleh Pak Jemari. Pak Jemari mengusap usap pundak Marginah dan Nesya lalu dia berjalan menuju motor dan menaruh pantatnya di boncengan motor duduk di belakang Mas Budi. Motor berjalan pelan pelan meninggalkan halaman panti. Marginah dan Nesya berlari mengikuti jalannya motor sampai di pintu halaman. Tampak Pak Jemari menoleh dan menyuruh kedua anak itu agar segera masuk ke panti, dengan kode tangan yang dikibas kibaskan. Karena suasana masih sepi dan hari masih gelap. Akan tetapi Marginah dan Nesya masih terus berdiri sambil memandang motor yang membawa Pak Jemari terus berjalan menjauh dari mereka. Marginah dan Nesya terus melambai lambai tangannya hingga sosok Pak Jemari hilang dari pandangan matanya.