MARGI Nah

MARGI Nah
Bab. 67. Rencana Emak Baru


Setelah selesai mencuci piring, Emak segera berjalan menuju ke ruangan Ibu Sari untuk mengambil Abi dan akan menanyakan perihal tamu donatur yang akan datang.


Emak mengetuk pintu pelan pelan. tidak lama kemudian pintu terbuka dan Ibu Sari berdiri di depan pintu akan tetapi tidak mengendong Abi.


“Abi sudah tidur saya baringkan di tempat tidur.” ucap Ibu Sari sambil melangkah masuk.


“Iya Bu, tidak apa apa, saya ada perlu sebentar dengan Ibu Sari ada hal yang ingin saya tanyakan Bu. Sangat penting bagi saya.” ucap Emak Baru sambil ikut berjalan masuk ke dalam ruangan Ibu Sari, lalu dia mendudukkan pantatnya di kursi.


“Ada perlu apa Mak?” tanya Ibu Sari juga ikut duduk di kursi depan Emak Baru mereka duduk berhadap hadapan dengan berjarak oleh meja.


“Bu, masalah tamu donatur yang akan datang, saya takut jika tamu itu ada yang sudah mengenal saya, saya takut kalau tamu itu ada kerabat atau rekan majikan saya dulu.” ucap Emak Baru dengan nada kuatir dan ekspresi wajah ketakutan.


“Majikan saya dulu kan orang penting dan terpandang Bu, istrinya sosialita sering pergi pergi ke luar negeri dan sering berkunjung ke panti panti memberi bantuan. Kalau tahu saya ada di sini bisa berbahaya buat saya dan Abi, Bu.” ucap Emak Baru lagi


“Iya Mak, Emak tenang saja, Emak tidak usah menemui mereka kalau ada tamu tamu ke panti. Emak sembunyi saja.” ucap Ibu Sari sambil menatap Emak


“Tapi kalau tidak menemui saya tidak dapat bingkisan ya Bu?” tanya Emak Baru


“Tidak Mak, kalau bingkisan biasanya diberikan langsung oleh tamu pada penghuni panti yang mereka temui.” jawab Ibu Sari


“Iya Bu, keselamatan saya dan Abi lebih penting dari pada bingkisan meskioun bingkisan yang mahal mahal.” ucap Emak Baru kemudian


“Benar Mak, ya sudah sekarang Emak istirahat aku ambilkan Abi dulu.” ucap Ibu Sari lalu beliau bangkit berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan menuju ke arah kamar tidurnya. Dan tidak lama kemudian Ibu Sari sudah kembali sambil mengendong Abi. Emak Baru setelah melihat Ibu Sari sudah kembali sambil mengendong Abi lalu dia pun bangkit berdiri lalu menerima Abi. Setelah mengendong Abi, Emak Baru mohon diri dan segera berjalan ke kamar tamu.


Tidak lama kemudian Emak sudah sampai di depan pintu kamar tamu, dia segera membuka pintu dan kemudian melangkah masuk tidak lupa dia menutup pintu dengan rapat rapat. Setelah menekan saklar lampu yang berada tidak jauh dari pintu, Emak lalu berjalan menuju ke tempat tidur. Dia pandangI wajah Abi lalu dia lepas gendongan yang melekat di tubunya. Dia peluk dan cium Abi, lalu dia baringkan Abi di tempat tidur.


“Kalau di panti sering ada tamu donatur orang orang penting. Apa tempat ini aman buat Abi.” gumam Emak Baru sambil mengamati wajah Abi. Emak kuatir jika kelak wajah Abi mirip dengan wajah bapaknya akan semakin membahayakan dirinya.


“Apa aku bawa pergi saja Abi, tapi ke mana?” gumam Emak Baru yang kini sudah berlinang air matanya.


“Apa aku bawa ke kantor polisi saja, aku bisa bekerja pada keluarga mereka. Sepertinya lebih aman. Kan tidak mungkin ada kunjungan kunjungan di tempat mereka.” ucap Emak Baru kemudian sambil menghapus air matanya.


“Iya benar begitu saja, aku besok pagi pagi saja perginya sebelum anak anak bangun, aku jalan kaki saja ke kantor polisi jalan pelan pelan ya Nak...” ucap Emak Baru sambil membelai wajah Abi dengan lembut.


“Aku harus segera tidur, agar besok bisa bangun pagi pagi sebelum ada orang yang bangun.” ucap Emak sambil mencium Abi lalu dia membaringkan tubuhnya di samping Abi.


Sementara itu anak anak panti setelah mereka selesai acara belajar, mereka sibuk membahas acara penyambutan tamu donatur dari Ibu kota. Marginah tampak sangat bersemangat untuk tampil menjadi MC, apalagi mendapat informasi kalau Mawarni pernah dapat hadiah tabungan saat menjadi MC.


“Mbak, kita berdua ya, kalau dapat kasihan tabungan dibagi dua ya ha.. ha...” ucap Marginah dengan senyum lebarnya sambil menatap Mawarni.


“Beres, tapi kali ini kita harus latihan dulu, tidak spontanitas, agar bisa tampil dengan keren kayak presenter ibu kota. Nanti kita lihat youtube ya..” ucap Mawarni sambil meringkasi buku bukunya. Anak anak pun setelah berbagi tugas yang akan dilakukan untuk penyambutan tamu donatur mereka keluar meninggalkan perpustakaan. Kali ini Marginah dan Mawarni cepat cepat keluar ruang perpustakaan karena akan mencari referensi untuk menjadi presenter. Fatima dan Nesya yang bertugas untuk menutup dan mengunci ruang perpustakaan.


“Mbak dulu dapat tabungan berapa Mbak?” tanya Marginah sambil berjalan menuju ke kamarnya.


“Satu juta lima ratus ribu.” jawab Mawarni. Terlihat mata Marginah berbinar binar membayangkan jika dapat lagi satu juta lima ratus ribu jika dibagi dua dia akan mendapatkan tujuh ratus lima puluh ribu rupiah. Uang sebanyak itu bagi Marginah sudah sangat banyak.


“Tetapi jangan terlalu berharap Nah, kalau tidak dapat malah kamu kecewa. Yang utama adalah kita belajar dan latihan menjadi MC yang baik. Jika tidak dapat uang besok pasti lain kali akan dapat entah di acara di balai desa atau acara di kecamatan.” ucap Mawarni menasehati Marginah agar tidak berharap pada sesuatu yang belum pasti.


“Iya Mbak, yang penting latihan ya... bila dapat syukur tidak ya tidak apa apa yang penting bisa tampil tidak memalukan dan bisa membanggakan Ibu Sari.” ucap Marginah sambil membuka pintu. Saat dia membuka pintu tampak Nita dan Vany juga sedang berlatih menyanyi. Marginah tersenyum, senang dia rasanya melihat saudara saudara begitu bersemangat menyambut tamu donatur yang akan datang.


Sementara itu Nita dan Vany saat melihat ada orang sudah masuk ke dalam kamar, mereka berdua langsung terdiam.


“Ayo, terusin latihannya.” ucap Marginah sambil terus berjalan menunu ke meja di dekat tempat tidur nya untuk menaruh tas dan buku bukunya.


“Malu Mbak Nah, aku dan Vani besok mau tampil diiringi gitar oleh Kak Angga.” ucap Nita sambil malu malu.


“Jangan malu kalau latihan dilihat orang, biar besok pas tampil beneran sudah terbiasa.” ucap Marginah. Nita dan Vany tampak menganggukkan kepalanya lalu mereka berlatih menyanyi lagi. Sementara itu Marginah berjalan mendekati Mawarni untuk sama sama mencari referensi. Mereka semua sibuk dengan rencananya masing masing hingga untuk sementara sudah tidak lagi memikirkan dan membahas Emak Baru dan Abi.