
Waktu terus berlalu dan tidak terasa sudah mendekati hari kedatangan tamu donatur dari Ibu Kota. Anak anak semakin bertambah senang karena Ibu Sari tidak menyuruh mereka untuk membantu menyiapkan membuatkan makanan.
“Mak, kalau kita tidak disuruh membantu memasak berarti konsumsinya pakai catering Mak.” ucap Nesya saat du dalam kamar Emak Baru. Kini Emak Baru dan Abi sudsh tidur di kamar di samping ruangan Ibu Sari.
“Iya, ibu ibu pegawai masak juga bilang begitu.. Katanya tidak ada tambahan pekerjaan untuk menyambut tamu donatur dari Ibu Kota, katanya malah pekerjaannya berkurang sebab hari Sabtu mereka tidak memasak, sudah pesan catering katanya.. Dan mereka tetap datang ke panti karena ikut menemui tamu tamu donatur itu.” jawab Emak sambil menyusui Abi. Ekspresi dan nada suara Emak hanya datar datar saja.
Dan tidak lama kemudian muncul sosok Marginah langsung menyelonong masuk ke dalam.kamar Emak Baru yang pintunya memang tidak dikunci.
“Mak, ini katanya minta baju panjang dan kerudung. Sudsh aku pilihkan dengan Mbak Mawarni. Bagus nih Mak..” ucap Marginah sambil memberikan beberapa baju panjang dan kerudung kepada Emak Baru.
“Iya Mak, ini cantik dan bahannya menyerap keringat.. “ ucap Nesya sambil memegang megang baju yang dibawa oleh Marginah.
“Nah lha ini ada baju kebaya?” tanya Nesya
“Itu buat aku Nes, aku usul sama Mbak Mawarni kalau besok pas tampil jadi MC pakai baju kebaya dan kain batik. Kain batiknya kan aku sudah ada, dibawain kain batik Emakku.” jawab Marginah. Sementara Emak Baru terlihat ekspresinya senang sambil melihat lihat baju panjang dan kerudung untuk dirinya.
“Wah keren idemu Nah.” Puji Nesya.
“Tapi kebesaran baju kebayanya. Aku coba tadi jelek jadinya kayak orang orangan sawah aku.” ucap Marginah dengan lesu.
“Ha... ha... malah bagus tuh Nah, tidak ada serangga malam mengganggumu saat kamu di panggung.” ucap Nesya sambil tertawa.
“Kamu itu malah tertawa di atas kesedihan orang lain.” ucap Marginah kini sambil duduk di tempat tidur Emak Baru.
“Tidak usah sedih, nanti Aku kecilkan. Kamu cari benang dan jarum.” ucap Emak Baru sambil menatap wajah Marginah.
“Benar Mak?” tanya Marginah dengan mata berbinar binar.
“Emak bisa menjahit?” tanya Marginah lagi untuk meminta keyakinan dari Emak Baru.
“Bisa kalau tidak ada mesin jahit, pakai tangan tidak apa apa.” jawab Emak Baru santai sambil masih menyusui Abi.
“Asyik, Emak Baru memang keren.” ucap Marginah lalu dia langsung bangkit berdiri dan berlari meninggalkan kamar Emak Baru. Dia berlari menuju ke kamarnya. Dia buka lemari bajunya. Lalu dia ambil tas baju yang dulu dia bawa. Dengan segera dia membuka retsleting tas baju itu, dia ambil satu kantong plastik transparan kecil. Kantong itu berisi benang, jarum, gunting kecil dan kancing baju. Dulu Mak Dinah yang memasukkan barang itu di dalam tas yang akan Marginah akan bawa ke panti asuhan. Katanya jika baju robek atau kancing lepas, Marginah harus bisa benerin sendiri dalam situasi darurat.
“Mak Dinah ternyata cerdas. Aku kangen Mak.” ucap Marginah sambil menaruh lagi tas bajunya ke dalam lemari. Lalu dia melangkah akan meninggalkan kamar demgan wajah yang tersenyum cerah.
“Ada apa Nah kok kamu senyum senyum?” tanya Mawarni yang baru masuk ke dalam kamar.
“Wais.. keren, aku juga dong Nah, kebaya ku kan juga kebesaran.” ucap Mawarni.
“Ya ayo Mbak, bawa kebaya mu.” ucap Marginah sambil menganggukkan kepala menatap wajah Mawarni. Mawarni lalu mengambil kebayanya yang sudah dia taruh di dalam lemari pakaiannya. Marginah setia menunggu. Dan akhirnya mereka berdua berjalan cepat meninggalkan kamar untuk menuju ke kamar Emak Baru.
“Mak.. tapi benangnya cuma ada hitam dan putih.” ucap Marginah saat sudah berada di dalam kamar Emak Baru. Sebab Mak Dinah memang hanya membawakan benang warna putih dan warna hitam. Itu adalah warna benang yang mudah didapat di warung pedesaan.
“Tidak apa apa, warna kebayamu kan warna terang, warna pink lembut pakai yang benang putih. Nanti juga tidak terlihat benangnya.” jawab Emak Baru.
“Mak aku juga ya.. ini kebayaku ungu, pakai yang benang hitam tidak apa apa ya.. Mak.” ucap Mawarni sambil menunjukkan baju kebayanya yang berwarna ungu tua.
“Iya pinter kamu.” ucap Emak sambil menatap Mawarni.
“Emak juga pinter. Emak bilang Ibu Sari saja kalau bisa menjahit nanti biar dibelikan mesin jahit. Bisa buat seragam sekolah sendiri Mak buat kita kita tidak usah dibawa ke tukang jahit, hemat dech..” ucap Mawarni sambil menatap wajah Emak Baru.
“Iya Mak...” ucap Nesya dan Marginah
“Nanti juga bisa membuatkan baju buat orang orang sekitar, ramai Mak kalau mau lebaran.. uang Emak jadi banyak.. fulus.. Mak .. fulus.. fulus. He.. he.. ” ucap Marginah sambil ibu jari dan telunjuk disatukan dan gerak gerakkan saling menggesek, sebagai kode uang.
“Iya.. tetapi yang penting untuk membantu saja. Nanti aku bilang Ibu Sari. Aku juga belum ahli Mbak.* ucap Emak lalu menidurkan Abi karena sudah selesai menyusu dan terlihat matanya sudah terpejam.
“Ini adalah keahlian Emak yang tersembunyi.” ucap Nesya
“Iya setiap orang pasti punya kelebihan, punya keahlian tetapi kadang mungkin masih tersembunyi.” ucap Marginah sambil menatap Emak Baru
“Sudah sekarang dicoba dulu kebayanya, aku lihat harus seberapa dikecilkan.” ucap Emak Baru setelah membaringkan Abi. Marginah lalu mengambil kebayanya, dan mencobanya. Nesya yang melihat tertawa, sebab memang Marginah sekarang mirip orang orangan sawah, karena lengan kebaya yang kepanjangan juga kedodoran di tubuhnya.
Sedangkan Emak terlihat mengepas, mengira ngira seberapa perlu dikecilkan kebaya yang dipakai Marginah. Wajah Emak Baru terlihat tersenyum, dia sungguh bahagia bisa membantu Marginah dan Mawarni.
“Mak, kalau aku dan Mbak Mawarni dapat tabungan dibagi tiga.” ucap Marginah sambil tersenyum
“Ya Mbak Mawarni?” tanya Marginah pada Mawarni minta persetujuan.
“Beres, kalau dapat.” ucap Mawarni dengan mantap.
“Tidak usah.. Emak bisa membantu saja sudah senang rasanya.. Kemarin itu Emak merasa sedih kok sepertinya Emak itu merepotkan terus, kalau kemampuan Emak yang tidak seberapa ini bisa membantu kalian, Emak sudah suuueneng sekali.” ucap Emak Baru dengan tulus, dia benar benar bahagia jika kemampuannya yang tidak seberapa bisa bermanfaat bagi orang orang di sekitarnya. Dia juga akan berbicara pada Ibu Sari jika ada yang membutuhkan pertolongan untuk memperbaiki pakaian dia bisa membantunya